Internasional

PMU Ancam AS, Jika Kunjungan PM Irak Gagal Hasilkan Kesepakatan Penarikan Pasukan

PMU Ancam AS, Jika Kunjungan PM Irak Gagal Hasilkan Kesepakatan Penarikan Pasukan
Militer Amerika

Baghdad, ARRAHMAHNEWS.COM Kelompok perlawanan Irak mengancam akan menargetkan kepentingan Amerika, jika kunjungan Perdana Menteri Mustafa al-Khadzimi ke Washington gagal menghasilkan kesepakatan tentang penarikan pasukan AS dari tanah Irak.

Pernyataan itu dirilis pada hari Kamis – bersamaan dengan pertemuan perdana menteri dengan pejabat Amerika di Gedung Putih – oleh kelompok perlawanan yang merupakan bagian dari pasukan anti-teror Hashd al-Sha’abi atau Unit Mobilisasi Populer (PMU) Irak, al-Mayadeen melaporkan.

BACA JUGA:

PMU yang mencakup kelompok perlawanan seperti Kata’eb Hezbollah dan Harakat Hezbollah al-Nujaba, telah diintegrasikan ke dalam Pasukan Pertahanan Irak karena kontribusinya yang efektif dalam mengalahkan kelompok teroris Daesh Takfiri pada akhir 2017.

Kelompok-kelompok itu menganggap pengusiran pasukan AS sebagai prioritas utama Baghdad, dan mendesak PM untuk memberikan prioritas pada undang-undang yang disetujui oleh parlemen yang mengamanatkan penarikan pasukan.

Badan legislatif tersebut mengesahkan undang-undang tersebut pada bulan Januari tak lama setelah serangan pesawat tak berawak AS yang membunuh Letnan Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, dan Abu Mahdi al-Muhandis, komandan kedua PMU, di Baghdad. Serangan itu terjadi saat Jenderal Solemani melakukan kunjungan resmi ke ibu kota Irak.

“Jika kesepakatan tentang pengusiran pasukan AS dari Irak tidak disepakati di Washington, kami berhak menargetkan kepentingan Amerika di Irak,” pernyataan itu memperingatkan.

BACA JUGA:

“Kami tidak berharap Kadzimi kembali dari Washington dengan plot ekspansionis baru dan skenario yang dirancang oleh Amerika Serikat,” bunyi pernyataan itu.

Kelompok-kelompok itu juga mempertimbangkan kesepakatan baru-baru ini yang memungkinkan normalisasi penuh hubungan antara Uni Emirat Arab dan Israel.

Ia mengutuk perkembangan tersebut dan memperingatkan, “Kami menghadapi penguasa dan rezim pengkhianat yang dianggap sebagai budak untuk memperpanjang pendudukan Israel di wilayah Palestina.” (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: