NewsTicker

Jawaban Telak Dina Sulaeman kepada Bachtiar Nasir, Siapa Sih yang Anti-Demokrasi?

Bachtiar Nasir Kibarkan Bendera Pemberontak Suriah

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Jawaban telak Dina Sulaeman kepada Bachtiar Nasir yang sebut kaum anti-Demokrasi tidak menginginkan habib rizieq di Indonesia, seperti dimuat olehi media Jpnn.com pada tanggal 23 Augustus 2020. Kita semua sudah tahu rekam jejak hitam Bachtiar Nasir mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF).

Dina, baru kemarin saya nulis soal “Apakah kekuatan demokrasi boleh melawan kekuatan anti-Demokrasi?” eeeh..pagi ini baca berita yang judulnya mengutip Ustad Bachtiar Nasir (UBN), yang mengata-ngatai “orang yang tidak menghendaki Habib Rizieq Shihab (HRS) pulang” sebagai “kaum anti-Demokrasi”.

BACA JUGA:

Pertama, untuk para komentator, plis ya, saya tidak mau thread ini jadi ajang caci-maki personal ke UBN dan HRS. Kita komen santuy aja, bedakan diri dengan kelompok yang selama ini sudah sangat mahir mengata-ngatai “kafir, sesat, penggal, bunuh” itu. OK?

Kedua, sangat menggelikan UBN bicara soal demokrasi. Bukankah beliau selama Perang Suriah mendukung FSA? (Bukti: ada jejak digital foto UBN+bendera FSA; lalu, ada bantuan dari lembaga UBN yang “nyasar” ke gudang makanan Jaish Al Islam di Aleppo).

Buat yang belum tahu, FSA ini sama saja dengan kelompok-kelompok teror lain di Suriah (ISIS, Al Nusra, Jaish al Islam dll.. mereka ada ratusan dengan nama yang beda-beda,kadang berantem rebutan pampasan perang, kadang berkoalisi dalam menyerang warga sipil Suriah dan pemerintah Suriah). Mengapa disebut teroris? Karena aksinya penuh teror (melempar bom ke tengah keramaian warga, pemenggalan kepala orang-orang “kafir”, dll).

Jadi, lucu kan, kok ujug-ujug UBN bawa-bawa demokrasi. Dalam demokrasi, kalau mau menumbangkan sebuah rezim, ya lakukan langkah demokratis (antara lain, pemilu), bukan teror. Menyusul aksi-aksi demo di Suriah tahun 2011-2012, sudah dilakukan berbagai langkah demokratis untuk memperbaiki sistem negara, tapi para pengusung khilafah memang tak mau demokrasi, makanya angkat senjata (baca selengkapnya di buku saya Prahara Suriah -ini ada ebook gratisnya- atau Salju di Aleppo).

BACA JUGA:

Ketiga, soal HRS. Di berita itu, UBN menyebut HRS sebagai sosok yang sangat demokratis, sehingga “yang anti pemulangan HRS adalah kaum yang antidemokrasi”.

Saya tidak tahu bagaimana mengukur kedemokratisan HRS. Yang jelas, HRS pernah melempar ide soal “NKRI Bersyariah”. Nah di alam demokrasi, idealnya kan gini: ide harus dilawan dengan ide, ya kan?.

Saya sudah mengkritisi ide “NKRI Bersyariah” dari HRS dalam sebuah buku (isinya kumpulan tulisan beberapa orang). Intinya, saya tulis: ada 3 masalah besar dari ide HRS dan para pengusungnya, yaitu, mereka itu berpaham takfirisme, ekstremisme, dan tidak mampu berpikir metodologis. Penjelasan detilnya, silakan baca tulisan saya itu.

BACA JUGA:

Nah, karena 3 masalah itu pula, mereka suka memaksakan ide. Kalau kita bantah, kita dianggap anti Islam. Contohnya, kata komentator di status saya kemarin, “Kamu ini Muslim, tapi kok antikhilafah?”

Nah sekarang rupanya ada “gaya baru”: kalau kita tidak setuju dengan para penolak demokrasi, kita akan disebut “kaum antidemokrasi”. Wes.. angel.. angel… (ARN)

Sumber: Akun Fanpage Dina Sulaeman

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: