NewsTicker

Iran, Rusia dan Turki Kutuk Serangan Israel dan Pencurian Minyak Suriah

Iran, Rusia dan Turki Kutuk Serangan Israel dan Pencurian Minyak Suriah Israel Serang Lebanon

Suriah, ARRAHMAHNEWS.COM Rusia, Iran dan Turki merilis pernyataan bersama pada Selasa (25/08/2020) yang menegaskan kembali “komitmen mereka terhadap kedaulatan, kemerdekaan, persatuan dan integritas teritorial Republik Arab Suriah,” sambil mengkritik Israel dan Amerika Serikat atas kegiatan ilegalnya di negara itu.

Dalam pernyataannya, ketiga pihak “mengutuk berlanjutnya serangan militer Israel di Suriah yang melanggar hukum internasional dan hukum humaniter internasional”, dan mengatakan bahwa serangan semacam itu merusak “kedaulatan Suriah dan negara-negara tetangga” serta membahayakan “stabilitas dan keamanan di kawasan” secara keseluruhan.

BACA JUGA:

Israel telah mengakui melakukan “ratusan” serangan udara terhadap sasaran di dalam Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Damaskus telah berulang kali mengutuk serangan itu, menyebutnya ilegal dan menekankan bahwa negara memiliki hak berdaulat untuk memutuskan secara independen negara mana yang dapat menempatkan pasukan atau peralatan di tanahnya. Lebanon, yang wilayah udaranya kadang-kadang digunakan Israel untuk serangan Suriah, juga mengutuk tindakan Tel Aviv.

Perampokan Minyak Suriah

Dalam pernyataan bersama, Rusia, Iran dan Turki juga “menyatakan penentangan mereka terhadap pencurian dan transfer pendapatan minyak yang seharusnya menjadi milik Republik Arab Suriah.”

“Dalam konteks ini mereka mengutuk kesepakatan minyak ilegal antara perusahaan berlisensi AS dan entitas tidak sah sebagai bagian dari agenda separatisnya,” tambah pernyataan itu, yang merujuk pada aktivitas penyelundupan minyak AS-Kurdi di timur laut Suriah.

Pemerintahan Trump secara terbuka mengkonfirmasi rencana Washington untuk “mengambil” minyak Suriah dan mencegah ladang minyak jatuh ke tangan teroris atau pemerintah Suriah.

BACA JUGA:

Damaskus, yang sangat membutuhkan pendapatan untuk membangun kembali negara itu, menuduh AS secara terbuka “mencuri” sumber minyaknya.

Lawan Trump di AS telah menyatakan bahwa pencurian minyak Suriah merupakan pelanggaran hukum internasional.

Sanksi Sepihak AS

Ketiga negara juga menyatakan penentangannya terhadap “semua sanksi sepihak yang bertentangan dengan hukum internasional, hukum humaniter internasional dan Piagam PBB, terutama dalam menghadapi pandemi [coronavirus].”

Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan Jepang memberikan sanksi pada Suriah antara 2011-2012 karena konflik antara pasukan pemerintah, pemberontak, dan kelompok teroris Islam meningkat.

Damaskus, Moskow, Teheran, dan lainnya telah berulang kali meminta Washington dan Brussel untuk membatalkan kebijakan sanksi mereka, dengan alasan situasi bencana kemanusiaan di Suriah, terutama setelah pandemi virus corona, yang sangat membebani infrastruktur perawatan kesehatan negara yang sudah hancur. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: