NewsTicker

Normalisasi Bahrain-Israel Setelah Lampu Hijau Arab Saudi

TEL AVIV, ARRAHMAHNEWS.COM – Trump adalah orang pertama mengumumkan normalisasi antara Bahrain dan Israel, sebagai negara Arab kedua yang bergabung dalam kesepakatan yang secara luas dikecam sebagai pengkhianatan terhadap bangsa Palestina dan umat Islam.

Bahrain pada hari Jumat menjadi sekutu Teluk kedua Arab Saudi yang mengumumkan rencana untuk meresmikan hubungan dengan Israel selama sebulan terakhir, setelah sebelumnya Uni Emirat Arab (UEA).

Baca:

Langkah Bahrain untuk secara resmi menjalin hubungan dengan Israel tidak dapat terjadi tanpa lampu hijau Arab Saudi, langkah lain dalam apa yang para pengamat sebut sebagai “normalisasi alternatif” hubungan Riyadh dengan negara Yahudi itu.

Langkah tersebut menyoroti potensi peran Riyadh, yang sejauh ini menangkis tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengikutinya.

“Saya percaya bahwa kerajaan Bahrain berkonsultasi dengan Saudi mengenai keputusan ini untuk menghormati mereka,” kata Marc Schneier, seorang rabi Amerika yang merupakan penasihat Raja Bahrain, kepada AFP.

“Pemerintah Bahrain sangat menghormati posisi Saudi selama proses ini,” imbuhnya seperti dilansir dari France24, Minggu (13/9/2020).

Para pejabat Saudi secara terbuka tetap bungkam atas perkembangan tersebut, tetapi sumber yang dekat dengan pihak berwenang mengisyaratkan itu adalah konsesi untuk Trump setelah dia memberikan tekanan besar pada Riyadh untuk membentuk hubungan diplomatik dengan Israel.

Para analis mengatakan Arab Saudi tidak merasakan kebutuhan mendesak setelah membina hubungan rahasia dengan Israel, yang dipandangnya sebagai benteng melawan musuh regionalnya Iran, bahkan ketika mereka menyuarakan dukungan yang teguh untuk negara Palestina merdeka.

Awal bulan ini, Arab Saudi setuju untuk mengizinkan penerbangan UEA ke Israel melewati wilayahnya, sebagai tanda konkret lain dari kerja sama kerajaan dengan negara Yahudi tersebut.

“Ini yang saya sebut ‘normalisasi alternatif’,” kata Ryan Bohl, dari lembaga think tank geopolitik AS Stratfor, kepada AFP.

“Meskipun Saudi akan tetap lebih lambat di jalur ini, jelas kerajaan terbuka untuk normalisasi dan akan mengeksplorasi pertumbuhan dalam hubungan melalui hubungan yang semakin publik, meskipun kemungkinan tidak langsung,” terangnya.

Terlepas dari sikap publiknya, media Arab Saudi yang pro-pemerintah telah berulang kali menguji reaksi publik dengan menerbitkan laporan yang menganjurkan hubungan lebih dekat dengan Israel.

Baca:

Awal bulan ini, seorang pengkhotbah di kota suci Makkah memicu badai media sosial ketika video khotbahnya muncul yang menunjukkan dia berbicara tentang apa yang dia sebut penjangkauan Nabi Muhammad kepada orang-orang dari agama lain, terutama Yahudi.

Khotbah Abdulrahman al-Sudais, yang menimbulkan kontroversi di masa lalu atas pandangan anti-Semitnya, ditafsirkan oleh banyak orang sebagai seruan untuk normalisasi hubungan dengan Israel. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: