NewsTicker

Rusia: Turki Gagal Penuhi Kewajiban atas Perjanjian Gencatan Senjata Idlib

SURIAH, ARRAHMAHNEWS.COM – Rusia mengkritik Turki karena gagal memenuhi kewajibannya di bawah perjanjian gencatan senjata di provinsi Idlib, di mana kedua negara mendukung pihak yang berlawanan.

“Meskipun sukses dalam perang melawan terorisme internasional di tanah Suriah, situasinya masih jauh dari stabil,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam jumpa pers di Moskow, Kamis (17/09/2020).

“Kelompok teroris Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) dan Organisasi Guardians of Religion telah bercokol di provinsi Idlib. Aktivitas kelompok ini sebagian telah dikekang sebagai akibat dari penempatan pasukan Turki di zona de-eskalasi Idlib dan patroli bersama Rusia-Turki di jalan raya M4 antara kota Saraqib dan Jisr al-Shughur,” Sputnik mengutip pernyataan Maria Zakharova.

Baca:

“Ankara, bagaimanapun, menunda komitmennya berdasarkan kesepakatan terbaru Turki-Rusia yang disepakati pada 5 Maret,” kata diplomat itu.

“Pembersihan dari sisa kantong Daesh [kelompok teroris Takfiri], yang secara teratur muncul kembali di kedua tepi sungai Efrat, sedang berlangsung. Namun, teroris memanfaatkan daerah kantong dalam radius 55 kilometer di sekitar pangkalan militer ilegal AS di wilayah al-Tanf serta wilayah Trans-Efrat yang diduduki AS dan kaya minyak. Otoritas pemerintah Suriah masih tidak dapat mengakses area ini, dan menjalankan layanan dasar,” kata Zakharova.

Pada 5 Maret, Rusia dan Turki mencapai kesepakatan tentang gencatan senjata di Idlib, di mana agresi Turki terhadap pemerintah Suriah sebelumnya berisiko menyulut perang.

Gencatan senjata terjadi beberapa bulan setelah tentara Suriah melancarkan operasi anti-teror terhadap militan yang disponsori asing menyusul kegagalan yang terakhir untuk menghormati perjanjian de-eskalasi antara Ankara dan Moskow.

Ankara yang mendukung sejumlah militan anti-Damaskus di Idlib, mengklaim bahwa serangan Suriah telah menewaskan puluhan tentaranya. Ia mengancam akan menyerang militer Suriah kecuali pasukan pemerintah meninggalkan daerah yang dibebaskan, dan meminta Moskow untuk “menghentikan” Damaskus.

Baca3 Kontainer Besar Bahan Berbahaya Dievakuasi dari Pelabuhan Irak

Turki, sementara itu, mengirim ribuan pasukan dan perangkat keras militer ke Idlib dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendukung militan.

Pemerintah Suriah berjanji akan membebaskan seluruh Suriah, termasuk Idlib, yang masih menjadi benteng terakhir bagi teroris Takfiri yang didukung asing di negara itu. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: