NewsTicker

Politisi: Penutupan Kedutaan AS Berarti Perang Terbuka Amerika vs Irak segera Terjadi

Irak, ARRAHMAHNEWS.COM – Seorang politisi Irak memperingatkan perang terbuka Amerika vs Irak akan “segera terjadi” dengan adanya ancaman Washington untuk menargetkan hampir seratus situs Irak yang terkait dengan kelompok perlawanan negara Arab itu, sebagai tindak lanjut penutupan kedutaan besarnya di Baghdad.

Menurut laporan portal berita Middle East Eye (MEE), Amerika Serikat telah menyusun daftar 80 situs Irak yang terkait dengan kelompok perlawanan negara Arab itu sebagai tindak lanjut ancaman mereka untuk menutup kedutaan besarnya di Baghdad.

Situs-situs tersebut termasuk markas rahasia dan tempat perlindungan yang digunakan oleh Hadi al-Amiri dan Qais Khazali, yang masing-masingnya adalah pemimpin Organisasi Badr dan Asaib Ahl al-Haq (AAH), serta situs-situs yang terkait dengan Kataeb Hezbollah, sebuah faksi dari Unit Mobilisasi Populer Irak. (PMU) atau lebih dikenal sebagai Hash al-Sha’abi.

Baca: Penulis Arab: AS Gunakan Irak untuk Kepung Negara-negara Tetangga

“Pesan Amerika itu jelas. Jika kalian tidak bereaksi, kami akan melakukannya,” ujar seorang politisi terkemuka Irak, yang berbicara tanpa menyebut nama, kepada MEE.

“Membiarkan ini terjadi berarti perang terbuka di Baghdad, dan keluarnya Amerika dari Baghdad menunjukkan perang ini sudah dekat,” kata sumber itu.

Para pemimpin politik dan komandan mengatakan kepada MEE bahwa Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah membagikan ratusan gambar satelit dari 80 situs itu kepada Presiden Irak Barham Salih dalam panggilan telepon pada bulan September.

Baca: Kadhimi: AS, UE Pertimbangkan Tutup Kedubes di Irak

Pompeo, kata mereka, juga memberi tahu Salih tentang rencana Washington untuk menutup kedutaan besarnya di Baghdad kecuali Irak mencegah serangan roket yang menargetkan Zona Hijau, tempat bangunan berbenteng itu berada.

Ancaman Pompeo menimbulkan kekhawatiran di Baghdad di mana para pendukung pemerintahan Mustafa al-Kadhimi tidak membayangkan bahwa perdana menteri Irak, yang disambut dengan hangat di Gedung Putih pada bulan Agustus, akan ditinggalkan begitu cepat oleh Washington.

Mereka khawatir keputusan AS untuk menutup kedutaan di Baghdad dapat mengakibatkan keruntuhan politik dan ekonomi.

“Semua tanda menunjukkan bahwa kita sedang menuju badai penuh. Penarikan Amerika berarti keruntuhan ekonomi dalam dua minggu, diikuti oleh keruntuhan politik dalam dua atau tiga bulan, kemudian gangguan keamanan dan jatuhnya pemerintah,” ujar seorang pejabat senior Irak yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan kepada MEE, berbicara dengan syarat anonimitas.

Baca: Pendemo London Kecam Campur Tangan AS di Irak

Namun, komandan kelompok perlawanan Irak menepis ancaman penutupan kedutaan sebagai bagian dari “permainan politik” yang dimainkan oleh Washington.

“Dalam penilaian kami, krisis itu dibuat-buat dan tujuannya adalah untuk memberikan tekanan sebesar mungkin pada pasukan anti-Amerika untuk memberi [Amerika] lebih banyak ruang di Irak,” kata komandan yang tidak disebutkan namanya itu kepada MEE.

“Pembicaraan tentang penutupan kedutaan besar AS di Irak adalah kebohongan yang jelas, dan tidak ada politisi dengan pengalaman apa pun yang bisa mempercayainya,” katanya.

Baca: Nujaba Irak: AS Perintahkan Penyerangan Rumah Warga Sipil untuk Nodai Citra Perlawanan

Sentimen anti-Amerika semakin tinggi di Irak sejak AS membunuh komandan anti-teror Iran Letnan Jenderal Qassem Soleimani, dan wakil kepala Unit Mobilisasi Populer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, di Baghdad pada 3 Januari.

Hanya beberapa hari kemudian, anggota parlemen Irak dengan suara bulat mengesahkan RUU yang mengamanatkan penarikan semua pasukan asing dari Irak.

Kelompok perlawanan Irak telah berjanji untuk mengangkat senjata melawan pasukan AS jika Washington gagal untuk mematuhi perintah parlemen. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: