Analis Kuwait: Normalisasi dengan Israel Sama dengan Neokolonialisme

Kuwait, ARRAHMAHNEWS.COM – Seorang ahli politik terkemuka Kuwait mengecam upaya sejumlah negara Arab yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, dan menggambarkan normalisasi sebagai bentuk “neokolonialisme.”

Dr. Abdullah al-Nefisi, dalam sebuah posting yang diterbitkan di halaman Twitter-nya, mengatakan penandatanganan perjanjian normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab akan mengubah negara-negara Arab menjadi koloni baru.

“Normalisasi hubungan dengan rezim Israel sama dengan neokolonialisme, dan akan mengubah kita menjadi koloni yang melayani kepentingan bersama Zionis dan Amerika,” tulis Nefisi dalam tweetnya.

Baca:

Pada tanggal 4 Oktober, Emir baru Kuwait Sheikh Nawaf al-Ahmad al-Jaber Al Sabah menegaskan kembali dukungan teguh kerajaan untuk bangsa Palestina dan perjuangan mereka untuk pembebasan tanah yang diduduki oleh rezim Israel.

Selama pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh yang berkunjung, Sheikh Nawaf mengatakan Kuwait akan terus mengikuti jejak almarhum Emir Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber Al Sabah, dan akan menawarkan dukungan yang solid kepada Palestina dan rakyatnya.

Shtayyeh dan pejabat senior lainnya dari Otoritas Palestina telah tiba di Kuwait untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Sheikh Sabah.

Sebelumnya pada 1 Oktober, Raja Kuwait berusia 83 tahun itu menekankan dalam percakapan telepon dengan kepala biro politik gerakan perlawanan Hamas Palestina, Ismail Haniyeh bahwa kerajaan tidak akan mengubah kebijakannya terhadap warga Palestina dan akan tetap berkomitmen pada perjuangan bangsa Palestina.

Sentimen anti-Israel tinggi di Kuwait. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan tahun lalu oleh Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, sebuah lembaga pemikir Amerika, menunjukkan bahwa 85 persen orang Kuwait menentang normalisasi hubungan dengan Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menandatangani perjanjian dengan Menteri Luar Negeri Emirat Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al Zayani dalam acara yang diselenggarakan oleh Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada 15 September.

BacaSky News Ungkap Bukti Kejahatan Perang Saudi di Yaman

Warga Palestina, yang mencari kemerdekaan di Tepi Barat dan Gaza yang diduduki, dengan Yerusalem Timur al-Quds sebagai ibukotanya memandang kesepakatan itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas memprotes kesepakatan normalisasi dengan Israel, dan mengatakan itu tidak akan membuahkan hasil selama Amerika Serikat dan rezim Israel tidak mengakui hak-hak bangsa Palestina dan menolak untuk menyelesaikan masalah pengungsi Palestina. (ARN)

About Arrahmahnews 26660 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.