Iran: Sekarang! Atau akan Sangat Terlambat Bagi AS Mundur dari Kawasan

Ajudan Khusus Juru Bicara Parlemen Iran Hossein Amir Abdollahian

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM – Ajudan Khusus Pembicara Parlemen Iran untuk Urusan Internasional, Hossein Amir Abdollahian, menggambarkan bahwa pembunuhan mantan Komandan Pasukan Quds IRGC, Letnan Jenderal Qassem Soleimani, sebagai kesalahan besar, mengatakan bahwa pasukan Amerika harus meninggalkan kawasan sekarang juga atau akan sangat terlambat jika itu ditunda.

Amerika harus meninggalkan kawasan dan jika mereka tidak mengakhiri kehadiran mereka hari ini, besok akan terlambat. Mereka akan mengalami kehancuranan serius di kawasan,” kata Amir Abdollahian, saat berpidato di International Forum on Combatants Out of Homeland kelima, pada Jumat malam.

Ia juga mengatakan bahwa salah satu ciri dunia saat ini adalah, AS tidak lagi menjadi imperium yang menciptakan tatanan dunia, karena negara itu sendiri menghadapi banyak masalah di dalam dan luar negeri dan menuju keruntuhan total.

Baca: Iran: Detik-detik Kehancuran AS Semakin Jelas

Amir Abdollahian menambahkan bahwa ciri kedua adalah bahwa para aktor di dunia saat ini bukan lagi bekas Uni Soviet dan AS, yakni; para aktor di arena internasional saat ini tidak lagi hanya kekuatan besar, tetapi mereka banyak dan beragam.

“Hari ini, Hizbullah Lebanon memiliki peran paling berpengaruh di kawasan dalam mengatur permainan politik, internasional, regional dan global, dan Hamas serta Jihad Islam di Palestina juga memainkan peran paling berpengaruh dalam mengacaukan ekuasi Zionis untuk dominasi di kawasan,” katanya.

Selain menyoroti kemampuan perlawanan Palestina memainkan peran utama dalam merongrong aspirasi Zionis di dunia dan kawasan Asia Barat, Amir Abdollahian juga menambahkan, “Hari ini di Yaman kita melihat bahwa dengan lebih dari 5 tahun perlawanan oleh pria, wanita dan pemuda yang teguh, kini mereka (koalisi Saudi) mencari pelarian yang terhormat dari daerah itu. “

“Saat ini, AS dan Arab Saudi bukanlah aktor nyata dalam perkembangan global, tetapi para actor untuk itu adalah (mereka) yang merubah persamaan,” katanya.

Baca: Parlemen Irak Tolak Negosiasi Apapun yang Perkuat Kehadiran Amerika

Letnan Jenderal Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Bandara Internasional Baghdad di Irak pada 3 Januari. Serangan udara itu juga menewaskan Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF) Abu Mahdi al-Muhandis. Keduanya gugur dalam serangan udara Amerika yang menargetkan kendaraan mereka di jalan menuju bandara. Lima orang Iran dan lima orang militer Irak juga gugur oleh rudal yang ditembakkan oleh pesawat tak berawak AS di Bandara Internasional Baghdad tersebut.

Pada 8 Januari, Pasukan Dirgantara IRGC memulai serangan rudal balistik besar-besaran di pangkalan udara AS, Ein Al-Assad, di Barat Daya Irak dekat perbatasan dengan Suriah dan pangkalan udara yang dioperasikan AS di Erbil sebagai pembalasan atas pembunuhan AS terhadap Jenderal Soleimani.

Ein Al-Assad adalah pangkalan udara dengan landasan pacu 4 km di ketinggian 188 m dari permukaan laut, yang merupakan pangkalan udara utama dan terbesar AS di Irak. Laporan awal mengatakan sistem radar dan perisai pertahanan rudal di Ein Al-Assad gagal beroperasi dan mencegat rudal Iran. Laporan tidak resmi mengatakan sistem radar pusat tentara AS di Ein Al-Assad telah macet oleh peperangan elektronik.

Baca: Pangkalan Ain Al-Assad Mimpi Buruk AS

Serangan balasan IRGC kedua menargetkan pangkalan militer AS di dekat bandara Erbil di Wilayah Kurdistan Irak di bagian kedua operasi pembalasan “Martir Soleimani”.

Irak mengatakan serangan itu tidak memakan korban dari pasukannya yang ditempatkan di dua pangkalan ini. Namun AS memblokir pintu masuk ke Ein Al-Assad untuk semua orang, termasuk tentara Irak, menimbulkan pertanyaan tentang klaim taka da korban.

Itu adalah serangan langsung pertama terhadap tentara AS sejak perang dunia kedua. Pejabat IRGC mengatakan tidak ada rudal yang berhasil dicegat.

Sementara itu, Iran mengumumkan pada akhir Juni bahwa mereka telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk 36 pejabat AS dan negara lain yang terlibat dalam pembunuhan Jenderal Soleimani, termasuk Presiden Donald Trump. (ARN)

About Arrahmahnews 26676 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.