NewsTicker

Kasus Maher Al-Akhras Soroti Kebrutalan Israel atas Tahanan Palestina

Palestina, ARRAHMAHNEWS.COM – Tahanan politik Maher Al-Akhras, yang telah melakukan mogok makan selama 91 hari, kesehatannya terus memburuk dari hari ke hari dan kasusnya, mau tak mau menyoroti kebrutalan rasis Israel terhadap tahanan Palestina.

Maher al-Akras adalah tahanan politik Palestina berusia 49 tahun, ayah dari enam anak dan, menurut organisasi hak asasi manusia Israel B’Tselem, saat ini berada di ambang kematian. Al-Akhras telah ditahan dalam penahanan administratif (ditahan tanpa dakwaan) sejak Juli dan saat ini telah menghabiskan 90 hari melakukan mogok makan. Meskipun pada kenyataannya tidak ada tindak pidana yang bisa jadi alasan Israel menahan Maher al-Akhras, mereka menolak untuk melepaskannya bahkan disaat kesehatannya sudah sangat memburuk.

Baca: Video: Di Kondisi Kritis, Tahanan Palestina Sampaikan Pesan Terima Kasih untuk Suriah

Jika Maher meninggal, faksi bersenjata Palestina telah berjanji untuk membalas dendam pada Israel. Hal ini berpotensi memicu eskalasi atau bahkan perang antara Gaza dan Israel. Dengan kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa Gaza yang saat ini sedang mengalami tingkat kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya sampai-sampai orang-orang sampai harus mengais di tempat sampah untuk mencari makanan, maka sebuah perang baru terhadap Gaza pada saat ini akan menjadi sebuah bencana besar.

Robert Inlakesh dalam artikelnya di Quds News Network menekankan bahwa hal pertama yang harus dipahami tentang tahanan Palestina, adalah bahwa mereka bukan penjahat konvensional, kejahatan normal yang dilakukan oleh orang Palestina akan ditangani oleh Otoritas Palestina. Tahanan Palestina di penjara Israel ada di sana tanpa alasan atau dipenjara karena tindakan yang dianggap melawan Israel dalam suatu bentuk perlawanan atau lainnya. Israel adalah kekuatan pendudukan di Jalur Gaza dan Tepi Barat, oleh karena itu hukum pendudukan seharusnya berlaku untuk Israel, yang menetapkan bahwa Israel bertanggung jawab atas keselamatan penduduk sipil dan mereka yang ada di penjara.

Baca: Wanita-wanita Palestina Laporkan Pelecehan Seksual di Penjara Israel

Namun, Israel gagal melindungi hak-hak warga sipil Palestina. Jika kita bicara tentang orang-orang Palestina di wilayah pendudukan, mereka berada di bawah kekuasaan militer Israel yang brutal (sejak 1967). Pemukim ilegal Israel yang tinggal di atas tanah Palestina, atau tepat di samping desa dan kota Palestina, berada di bawah hukum sipil Israel. Hukum militer Israel menyatakan, misalnya, sejak 2015 bahwa seorang Palestina dapat menjalani hukuman hingga 20 tahun penjara karena melempar batu ke Israel, bahkan melempar tanpa niat untuk menyakiti dianggap sebagai kejahatan yang dapat dihukum dengan 10 tahun penjara, sementara pemukim Israel dilindungi oleh tentara dengan tangan mereka yang seenaknya melemparkan batu ke arah Palestina.

Selain itu, pengadilan militer Israel memiliki tingkat hukuman yang hampir 100%, dimana hal ini telah dikutuk oleh PBB sebagai pelanggaran hukum internasional.

Baca: Hari ke-77 Aksi Mogok Makan, Tahanan Palestina ini Dalam Kondisi Bahaya Ekstrem

Menurut Organisasi Hak Asasi Manusia Israel B’Tselem, penjara militer Israel secara resmi menahan 4.207 tahanan Palestina pada akhir Agustus tahun ini. Termasuk dalam statistik ini adalah 355 tahanan administratif, ditahan tanpa dakwaan apa pun, dan kira-kira 160 anak di bawah umur (12-17 tahun). Setiap tahun sekitar 500-700 anak Palestina, berusia 12-17 tahun, ditahan dan diadili oleh Israel.

Mengenai tahanan wanita Palestina yang ditahan oleh Israel, menurut dukungan narapidana dan asosiasi hak asasi manusia ‘Addameer’, di Hari Perempuan Internasional tahun ini, terdapat “43 wanita yang ditahan di penjara dan pusat penahanan Israel, termasuk 16 ibu, 8 narapidana terluka, 12 narapidana sakit dan 4 tahanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan. Narapidana wanita tersebut juga mengalami hukuman yang lama dengan hukuman maksimal 16 tahun. Semua tahanan wanita Palestina ditahan di Penjara Damon sejak November 2018. ”. Sejak awal pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza, lebih dari 10.000 wanita Palestina telah ditahan atau ditangkap oleh Israel.

Warga Palestina yang diinterogasi oleh polisi dan petugas ISA setelah ditangkap, menjadi sasaran intimidasi dan pelecehan. Warga Palestina sering dipaksa untuk menandatangani laporan yang ditulis oleh petugas polisi dengan tulisan dalam bahasa Ibrani. Ini adalah sesuatu yang ilegal, karena sebagian besar warga Palestina tidak dapat memahami apa yang mereka dipaksa untuk tanda tangani sehingga mereka sering menandatangani untuk kejahatan yang tidak mereka lakukan. Di dalam penjara, Israel menggunakan intimidasi, pemukulan, penyiksaan psikologis dan bahkan penyiksaan fisik.

Selama masa Pandemi Covid-19, Israel juga tidak memenuhi kewajibannya untuk menjaga keamanan para tahanan dan secara aktif melanjutkan kampanye penangkapannya meskipun virus telah menyebar.

Maher al-Akhras adalah salah satu dari orang-orang Palestina yang secara tidak adil diambil dari keluarga tercintanya dan ditahan tanpa alasan sama sekali, namun dunia tetap diam terhadap kejahatan nyata yang dilakukan terhadapnya. Jika ia mati karena mogok makan, Israel harus bertanggung jawab. Yang menyedihkan dari semua ini adalah bahwa kasus Maher bukanlah yang terburuk. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: