NewsTicker

Tak Boleh Berkunjung, Keluarga Maher Al-Akhras Mulai Aksi Mogok Makan

Tak Boleh Berkunjung, Keluarga Maher Al-Akhras Mulai Aksi Mogok Makan Maher Al-Akhras

Palestina, ARRAHMAHNEWS.COM – Keluarga tahanan Palestina yang melakukan mogok makan, Maher Al Akhras, menurut laporan Quds News Network, mengumumkan pada hari Sabtu (24/10), bahwa ibu, istri, dan tiga putra tertua Maher juga akan memulai aksi mogok makan setelah Israel menolak hak mereka untuk mengunjungi Maher Al Akhras di kamarnya di rumah sakit Kaplan.

Dalam video yang diangkat Quds News Network, keluarga Maher Al-Akhras terlihat menunggu diluar ruangan dimana Al-Akhras dirawat, sementara polisi Israel yang ditugaskan berjaga di Rumah Sakit berdiri dengan santai menghalangi pintu masuk ruangan. Putri kecil Al-Akhras menangis dan menjerit karena dilarang menemui ayahnya.

BACA JUGA:

Al Akhras mengatakan bahwa pasukan Israel menyerbu kamarnya dan melemparkannya ke lantai sebelum meletakkannya di kursi roda untuk memindahkannya ke bagian lain, menyebabkannya sakit parah dan membuatnya pingsan selama tiga jam.

Maher al Akhras telah melakukan mogok makan selama 90 hari sebagai protes terhadap penahanan administratifnya, penahanan yang dilakukan tanpa dakwaan atau pengadilan.

BACA JUGA:

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada hari Kamis mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan kesehatan Al Akhras yang memburuk.

Sikap keji Israel yang menganiaya Al-Akhras dengan penahanan admisnistratif, dibela Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dengan mengatakan bahwa “Israel memiliki hak untuk membela diri.”

Kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem mendefinisikan penahanan administratif sebagai penahanan tanpa pengadilan atau dakwaan. Penahanan bahkan bisa dilakukan atas dugaan bahwa seseorang berencana untuk melakukan pelanggaran di masa depan. Tidak ada batasan waktu pada penahanan ini, dan bukti yang oleh pihak Israel yang diklaim menjadi dasarnya tidak diungkapkan.

Zionis pendudukan menggunakan tindakan ilegal ini secara ekstensif dan rutin, dan telah menggunakannya untuk menahan ribuan orang Palestina dalam jangka waktu yang lama. Meskipun perintah penahanan ditinjau secara resmi, ini hanyalah tindakan sewenang-wenang yang dibuat seolah berdasar hukum, karena tahanan tidak dapat secara wajar melakukan pembelaan terhadap tuduhan yang dirahasiakan.

Hingga Agustus 2020, zionis pendudukan telah menahan 355 warga Palestina, termasuk anak-anak, dalam penahanan administratif. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: