NewsTicker

Proyek Islamofobia Prancis Percepat Keruntuhan AS-Israel

Proyek Islamofobia Prancis Percepat Keruntuhan AS-Israel Demo

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam pernyataan kecaman atas dukungan para pejabat Prancis untuk kartun penghinaan atas Nabi Muhammad, menekankan bahwa proyek Islamofobia Prancis hanya mempercepat kejatuhan tak terhindarkan dari Amerika Serikat dan rezim Zionis.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Senin (26/10), IRGC mengatakan bahwa proyek Islamofobia telah memasuki fase baru setelah majalah Prancis Charlie Hebdo mencetak ulang kartun Nabi Muhammad yang menghina dan “presiden bodoh dan petualang” negara itu justru mendukung langkah tersebut.

BACA JUGA:

IRGC mencatat bahwa tindakan ini membuktikan “kontradiksi utama di Barat, terutama [di negara seperti Prancis, yang mengklaim sebagai] pelopor dari apa yang disebut kebebasan berekspresi di Eropa, yang mencoba menyembunyikan kegagalan mereka dalam mencegah kemajuan Islam dan menghalangi meningkatnya kecenderungan warga negara Barat terhadap Islam.”

Pernyataan IRGC itu juga mencatat bahwa ini adalah “proyek yang gagal, yang akan mempercepat runtuhnya rezim Amerika Serikat dan rezim Zionis yang tak terhindarkan.”

“Para pemimpin sistem hegemonik dan Zionis, yang merupakan sponsor utama kelompok ekstremis dan Takfiri … tidak akan dapat membebaskan Barat yang dilanda krisis dan tidak manusiawi dari rawa yang mereka buat sendiri, dan tanpa ragu, mereka akan menerima jawaban yang setimpal dari Umat Islam dalam waktu yang tidak terlalu lama, yang tidak akan terbatas pada boikot produk Prancis dan protes jalanan,” bunyi pernyataan IRGC.

BACA JUGA:

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada 1 Oktober, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa pemerintahnya sedang berupaya untuk mengusulkan RUU ke parlemen Prancis tahun depan untuk membahas apa yang disebutnya “isolasionisme dan separatisme Islam.” Di bawah rencana tersebut, Prancis akan melawan apa yang digambarkan Macron sebagai dukungan hukum agama yang bertentangan dengan “nilai-nilai” sekuler republik Prancis.

Disebutkan Macron bahwa UU itu mengizinkan orang-orang untuk menganut agama dan keyakinan apa pun yang mereka pilih, namun menampilkan afiliasi agama di luar dalam keadaan apa pun tidak diizinkan di sekolah atau layanan publik. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: