NewsTicker

Islah Bahrawi: Agama dan Brutalitas Manusia

Islah Bahrawi: Agama dan Brutalitas Manusia Agama dan Brutalitas Manusia

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Pembunuhan Manusia atas Nama Agama, adalah Pembunuhan agama atas nama manusia.

Kulihat para pemimpin agama bersaing satu sama lain dengan mengangkat pandangannya ke arah surga. Sementara hati mereka terkubur dalam birahi kebencian, berdagang tipu daya. Lidah-lidah cinta dan kasih sayang dibiarkan tertidur pulas, agama dibiarkan terkubur dalam lemas, kitab suci diterjemahkan tak pernah tuntas”, Kahlil Gibran suatu ketika memberontak. “Pembunuhan itu,” katanya, “mematikan ruang-ruang pertobatan anak manusia dan membiarkan dosa-dosa untuk lahir kembali”.

BACA JUGA:

Pembunuhan atas nama Tuhan adalah perbuatan manusia yang tidak kunjung usai. Ketika keilahian berusaha didominasi, maka Tuhan bukanlah milik orang lain. Dan pembunuhan demi pembunuhan itu terjadi. Kalam-kalam Ilahi kehilangan makna, peradaban yang dituntun, kecerdasan manusia yang ditantang -jauh berjalan mundur ke belakang. Bumi ini penuh dengan lautan manusia yang saling curiga, mengincar leher untuk saling tebas- lalu untuk apa agama dilahirkan?.

Manusia sejatinya tidak pernah punya kebebasan. Ini persoalan manusia yang tidak pernah bisa lolos dari sekat-sekat dan tali temali kepentingan. Mustahil sekularisme berjalan dengan kebebasannya tanpa ada ruang-ruang keterikatan – ia sebuah muslihat.

BACA JUGA:

Charlie Hebdo dan para pembunuh itu adalah sekumpulan orang yang memaksa sejarah untuk menjerit. Melecehkan keyakinan orang lain atas nama kebebasan, membunuh orang lain atas nama keyakinan, adalah upaya yang tak henti-hentinya untuk memelesetkan makna kemanusiaan. Pelecehan agama berbentuk karikatur itu, upaya menyeret agama untuk hidup agar mati. Pemenggalan leher itu, upaya menghidupkan agama dengan mematikannya. Akhir cerita dari keduanya akan sama; mendevaluasi agama-agama.

BACA JUGA:

Karena kekerasan, agama semakin kehilangan daya tariknya. Karena kebebasan, manusia kehilangan jati dirinya. Keduanya bertemu, kali ini di Perancis. Caci maki kebencian berhamburan, ketakutan disebarkan, jika sudah begini, untuk apa manusia dilahirkan?.

Manusia masa depan, kata Yuval Harari, adalah manusia yang menguasai algoritma dalam ketidakbecusan – ia dituntun otak orang lain. Manusia adalah mesin yang dikendalikan. Kemanusiaan adalah mitos, agama hanyalah data, dan manusia bukan lagi manusia. (ARN)

Sumber: Islah Bahrawi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: