NewsTicker

Tersiksanya Para Tahanan Wanita Palestina Yang Terlupakan di Penjara Israel

Tersiksanya Para Tahanan Wanita Palestina Yang Terlupakan di Penjara Israel Penjara Israel

Palestina, ARRAHMAHNEWS.COM Saat dunia memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita, tahanan Wanita Palestina masih terus menerus menjadi sasaran perlakuan kejam, tidak manusiawi dan berbagai perlakuan yang merendahkan martabat.

Penganiayaan ini termasuk penyiksaan, pelarangan kunjungan keluarga, kurungan isolasi, pengabaian medis dan penolakan pendidikan oleh otoritas pendudukan Israel.

BACA JUGA:

Mantan tahanan yang baru dibebaskan, Suzan Al-Awawi, menggambarkan kondisi para tahanan perempuan Palestina itu sebagai “tragis”, sebagian besar karena pendudukan secara harfiah menindas mereka di penjara.

Suzan memberi tahu kita bahwa kondisi penahanan disana sangat keras, terutama di musim dingin, dalam hal kurangnya selimut dan pakaian musim dingin; kualitas dan kuantitas makanan yang buruk, lantai penjara dan bangunan itu sendiri. Ia juga mencatat kurangnya privasi untuk mandi dan sedikit listrik, serta tidak adanya dapur atau perpustakaan.

Ia menjelaskan, buku-buku yang ditujukan untuk dikirim ke narapidana seringkali dihalangi untuk masuk dan diterima para narapidana, dengan jumlah buku yang ditolak masuk jauh lebih besar dari jumlah yang diterima narapidana. Selain itu, pakaian yang dikirim oleh keluarga tawanan sering kali dilarang masuk penjara, padahal baju yang datang hanya setiap tiga bulan.

BACA JUGA:

Al-Awawi mengklaim bahwa teknik intimidasi juga digunakan oleh administrasi penjara terhadap para narapidana wanita. Diketahui bahwa jika narapidana perempuan bereaksi terhadap praktik manajemen sipir, mereka lebih mudah ditekan daripada narapidana laki-laki karena jumlah mereka kecil. Ada juga penindasan ekstrim terhadap protes di penjara wanita, yang dilakukan para penjaga pada hari yang sama dihari dimana protest dilaksanakan.

Al-Awawi juga menyatakan bahwa ada beberapa narapidana yang terluka di ruangan, yang menderita dua kali lipat jumlah narapidana biasa, karena kelalaian medis dan fakta bahwa bahkan transfer perawatan sederhana membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Salah satu tawanan bahkan dipaksa menahan sakit gigi gerahamnya selama setahun penuh sebelum dipindahkan untuk perawatan. Penundaan yang tidak perlu dan sadis, menegaskan bahwa administrasi penjara secara aktif melakukan tindakan brutal terhadap para narapidana, bahkan dalam hal prosedur medis, seringkali dengan mengatur transfer pengobatan pada tanggal yang sama dengan kunjungan keluarga yang dijadwalkan. Narapidana akan sering lebih memilih untuk bertemu keluarga mereka daripada berobat, memungkinkan otoritas Israel untuk kemudian menulis di file mereka bahwa mereka “menolak pengobatan”.

Sel Isolasi dan Penyiksaan Berat

Selama 15 hari berturut-turut, ibu dari lima anak Fadwa Hamadah, 34 tahun, mendekam di sel isolasi, di mana semua haknya dirampas. Ia ditangkap oleh pasukan Israel pada Agustus 2017 atas tuduhan berusaha menikam tentara Israel. Ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Fadwa adalah ibu dari lima anak. Bungsunya baru berusia tiga tahun. Suaminya Monther Hamadah memberi tahu kami bahwa istrinya dikurung dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi.

“Sebulan yang lalu ia ditahan di sel isolasi karena membela temannya dari kebrutalan penjaga penjara Israel terhadapnya … Ia secara terus menerus jadi sasaran kebijakan ini, dan tidak ada yang bertindak untuk menghentikan Israel juga tidak ada media meliput ceritanya,” kata Hamadah.

Pada tahun lalu, salah satu kasus paling ekstrim dari seorang narapidana wanita, yang mengalami penyiksaan dan penganiayaan, adalah kasus Mais Abu Gush. Kita tahu ini hanya karena Mais telah mengirim pesan yang memberitahu keluarganya bagaimana ia dipermalukan dan menjadi sasaran semua jenis penyiksaan.

BACA JUGA:

Mais Abu Gush, 23 tahun, adalah mahasiswi tahun keempat, belajar Jurnalisme di Universitas Birzeit. Ia ditahan pada 29 Agustus 2019, saat penggerebekan di rumah keluarganya, ketika sejumlah besar pasukan pendudukan Israel yang bersenjata lengkap, dikawal oleh anjing keamanan terlatih, menyerang secara brutal. Abu Gush kemudian dipindahkan ke pusat interogasi al-Maskobiyya, dan menghabiskan sekitar satu bulan di sana, di mana dia mengalami penyiksaan fisik dan psikologis yang parah dan penganiayaan, menurut pengacaranya. Setelah sekitar satu bulan, Mais akhirnya diberikan daftar tuduhan, termasuk berpartisipasi dalam kegiatan universitas dan mengkoordinasikan perkemahan musim panas.

Kondisi Kesehatan di Penjara Israel

Saat ini terdapat delapan narapidana wanita yang terluka dan dua belas lainnya menderita kondisi butuh pertolongan medis, semuanya diabaikan secara medis. Beberapa di antaranya membutuhkan operasi mendesak dan perawatan medis khusus, tetapi malah ditahan dalam kondisi yang keras yang memperburuk kondisi kesehatan mereka.

Satu-satunya obat yang diberikan untuk pengobatan penyakit apa pun adalah obat penghilang rasa sakit. Selain itu, administrasi penjara menolak akses obat-obatan dari luar penjara, baik dari keluarga narapidana maupun dari organisasi Palestina. Tahanan yang sakit di dalam penjara Israel hidup dengan obat penghilang rasa sakit dan obat penenang, menurut ‘Addameer’, Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi Manusia, dengan beberapa tahanan menjadi sakit selama penahanan mereka. Perlu juga dicatat bahwa pandemi global saat ini, COVID-19 menimbulkan ancaman yang signifikan, karena kondisi kehidupan yang buruk di dalam sel penjara.

Bagaimana Kondisi Sel di Penjara Israel

Menurut Kantor Informasi Asra, dindingnya sangat dingin, sebagian besar kamar berventilasi buruk, lembab dan penuh serangga. Bangunannya tua, banyak lemari sudah berkarat karena kelembaban. Tidak ada kursi di kamar, dan administrasi penjara mencegah para wanita menutupi lantai dengan selimut. Setiap kamar memiliki hanya satu pemanas air, satu kompor listrik, satu TV, satu radio, dan satu toilet terbuka. Tempat tidurnya adalah tempat tidur susun, yang menyebabkan kecelakaan saat wanita jatuh dari tempat tidur yang terkadang mengakibatkan patah tulang. Airnya terkontaminasi, mengharuskan perempuan untuk membeli air mineral dari “kantin” penjara atau toko. Bahkan dengan penyebaran Covid-19 di bagian tahanan pria, beberapa barang pembersih baru-baru ini dan sengaja dihilangkan dari Kantin.

BACA JUGA:

Narapidana wanita berkumpul di halaman saat istirahat di mana mereka diawasi oleh dua penjaga dengan kamera. Hal ini mencegah mereka untuk berolahraga dan berlari dengan bebas, serta dari paparan sinar matahari, terutama karena mayoritas narapidana wanita mengenakan jilbab. Halaman tidak tertutup sehingga ketika hujan atau cuaca terlalu panas para wanita bahkan kehilangan beberapa jam udara segar. Narapidana selanjutnya dilarang duduk berkelompok, berlatih kerajinan tangan, atau bahkan memiliki materi pendidikan, seperti buku atau pena.

Menurut Addameer, Israel telah menangkap lebih dari 16.000 wanita Palestina sejak 1967.

Tindakan kejam yang disengaja ini meningkatkan tekanan psikologis narapidana wanita dan penganiayaan medis mereka. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: