NewsTicker

Analis: Iran Terlalu Cerdas untuk Jatuh ke Perangkap Zionis

Analis: Iran Terlalu Cerdas untuk Jatuh ke Perangkap Zionis Tentara Iran Angkat peti jenazah Mohsen Fakhrizadeh

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM Seorang analis dan penulis Amerika, mengatakan bahwa tujuan pembunuhan atas ilmuwan ternama Iran Mohsen Fakhrizadeh adalah agar Iran membalas dengan cara yang akan menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk menyerang negara itu dengan cara militer, namun Iran terlalu cerdas untuk jatuh ke perangkap Zionis.

Stephen Lendman dalam artikelnya di Press TV pada Senin (30/11) menyebut bahwa Intelijen AS jelas mengetahui rencana ini sebelumnya, dan Fakhrizadeh sudah lama berada di daftar sasaran rezim Zionis untuk dieliminasi.

BACA JUGA:

“Berdasarkan apa yang diketahui sejauh ini, tangan-tangan kotor Israel ada di seluruh sisi pembunuhan ilmuwan nuklir Iran terkemuka Mohsen Fakhrizadeh. Mungkin juga CIA terlibat dengan Mossad atas apa yang terjadi”, katanya.

Lendman dalam artikelnya juga menegaskan bahwa Iran tidak pernah memiliki program senjata nuklir dan media-media pro AS-Israel telah dengan sengaja membuat berita palsu untuk membenarkan kejahatan itu.

“Pembunuhan itu sama sekali tidak terkait dengan program nuklir Iran. Intelijen AS dan Israel, maupun para penyidik IAEA, dan media-media besar mengetahui pasti bahwa aktivitas nuklir Iran tidak memiliki komponen militer,” jelasnya.

“Mereka tidak pernah melakukannya (membuat senjata nuklir) dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahkan sekedar niat Iran untuk berubah pandangan. Yang jelas adalah, jika otoritas yang berkuasa di Iran menginginkan kemampuan senjata nuklir, maka hal itu pasti sudah dikembangkan sejak lama,” tambahnya.x

Lendman menyebut hal itu tidak pernah terjadi dan kemungkinan besar kapanpun tidak akan pernah dilakukan oleh negara yang membenci senjata pemusnah massal (WMD) ini. Iran justru menginginkan WMD ini disingkirkan dari manapun.

“New York Times melaporkan bahwa menurut seorang pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya, dunia harus berterima kasih kepada Israel karena telah membunuh Fakhrizadeh. Namun pada saat yang sama, dia berbohong dengan menambahkan bahwa Israel akan terus melawan “Aspirasi Iran untuk senjata nuklir,” ujarnya mengecam kebohongan media arus utama AS tersebut.

BACA JUGA:

“Tidak ada! Pejabat AS dan Israel tahu itu. Begitu pula Times dan media mainstream lainnya”, kata Lendman. “Namun mereka lagi-lagi tak pernah bisa melaporkan kebenaran ini, dan banyak kebenaran lainnya, mereka lebih memilih melaporkan berita palsu, bukan yang sebenarnya”.

Lendman menunjukkan bahwa sebuah laporan propaganda Times secara salah menuduh Fakhrizadeh memimpin pengembangan senjata nuklir Iran selama dua dekade terakhir, sementara tidak ada pengembangan seperti itu, tidak sebelumnya atau sekarang.

“The Times dengan sengaja dan jahat berbohong, dengan disaat yang sama mengabaikan Israel yang jelas-jelas memiliki senjata nuklir dan berbahaya, satu-satunya entitas regional dengan senjata ini dan niat untuk menggunakannya jika perlu,” ujarnya.

Mengutip pejabat intelijen AS yang tidak disebutkan namanya, Times mengatakan “hampir tidak diragukan bahwa Israel berada di balik pembunuhan itu, Pembunuhan itu memiliki semua keunggulan operasi yang diatur waktunya oleh Mossad.” Dan Rezim Netanyahu “tidak melakukan apa pun untuk menyangkal hal itu”.

“Berkali-kali, surat kabar AS ini berbohong tentang dugaan program senjata nuklir rahasia Iran padahal mereka tahu pasti itu tidak pernah ada,” Ledman menekankan.

BACA JUGA:

The Times berbohong dengan menyebut Fakhrizadeh “sosok Iran yang (dianggap) setara dengan J. Robert Oppenheimer … yang mengawasi Proyek Manhattan”.

Pada hari Jumat, mantan pejabat Departemen Luar Negeri Mark Fitzpatrick mengatakan di laman twitternya, “Alasan pembunuhan Fakhrizadeh bukanlah untuk menghalangi potensi perang Iran. Itu untuk menghalangi diplomasi”.

Yang tidak dijelaskan disana adalah bahwa Iran tidak pernah menyerang negara lain selama berabad-abad. Iran tidak pernah mengancam sekarang kecuali dalam membela diri jika diserang, dimana itu merupakan hak Iran yang sesuai Piagam PBB yang sah.

Iran belum sepenuhnya menyelesaikan masalah dengan AS atas pembunuhan komandan Pasukan Quds Jenderal Qassem Soleimani Januari lalu.

Pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh oleh Israel menambah tuntutan lebih besar pada otoritas Iran untuk melakukan pembalasan.

Hingga bulan Januari 2021, dimana nantinya Biden/Harris akan menggantikan Trump, rezim Netanyahu mungkin akan melakukan tindakan yang lebih bermusuhan untuk memprovokasi Iran.

Lendman mengatakan bahwa kemungkinan akan ada tanggapan sebagai pembalasan atas apa yang terjadi sejauh ini, namun para Pejabat Iran terlalu cerdas untuk menjadi korban jebakan Zionis.

Mereka akan bertindak dengan caranya sendiri pada waktu yang mereka pilih, mungkin bagaimana, di mana, dan kapan itu akan menjadi kejutan. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: