NewsTicker

Denny Siregar: Indonesia, Ayo Belajarlah dari Suriah

Denny Siregar: Indonesia, Ayo Belajarlah dari Suriah Jangan Suriahkan Indonesia

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Pegiat medsos Denny Siregar mengingatkan kembali kepada bangsa dan pemerintah Indonesia agar waspada oleh gerakan kelompok radikal dan teroris yang saat ini sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia. Indonesia, ayo belajarlah dari Suriah, ujar Denny Siregar.

Menurut Denny, Suriah dulu negara yang plural dan damai. Satu kesalahan yang diakui oleh Bashar Assad, Presiden Suriah adalah membiarkan aliran wahabi berkembang biak disana. Dia juga tidak menindak tegas ormas-ormas radikal yang tumbuh seperti jamur di musim hujan.

BACA JUGA:

Tahun 2011, disebuah kota kecil di Suriah, terjadilah gelombang protes kecil. Para pemrotes ini kemudian ditangkapi oleh aparat keamanan Suriah. Anak-anak ini bisa jadi decoy atau umpan. Mereka berumur 9 sampai 15 tahun. (Dina Sulaeman: Prahara di Suriah).

Ketika anak-anak itu ditangkapi, muncullah aksi protes dan demo dimana-mana, di support oleh ormas radikal, kelompok penggiat HAM, komisi perlindungan anak dan banyak LSM lainnya. Tindakan aparat berlebihan, demo itu dibubarkan dengan kekerasan. Dan 4 orang dikabarkan meninggal.

BACA JUGA:

Yang tidak diketahui oleh pemerintah Suriah, ormas-ormas radikal ini sudah bekerjasama dengan lembaga ulama internasional yang dibentuk di Saudi khusus untuk menggoreng isu di Suriah. Demo semakin lama semakin marak karena dibesarkan apinya oleh kelompok wahabi. Dan tindakan aparat semakin represif.

Korban-korban berjatuhan dan ini yang diharapkan pemberontak.

Mereka membuat foto korban, memframingnya dalam bentuk hoax, dan ditambahkan korban-korban lainnya yang entah dari peristiwa mana, ditambah narasi korban bau wangi dan syahid, dan disebarkan ke media internasional, juga ke lembaga ulama bentukan mereka di Saudi.

Demo semakin meluas. Situasi semakin tidak terkontrol. Dan di puncak situasi itulah, setan besarnya muncul. Amerika. Siapa lagi?.

BACA JUGA:

Amerika sejak lama ingin membangun pangkalan militer di Suriah, tapi ditolak mentah-mentah oleh Suriah. Karena itu, AS mengembangkan cara dengan menjalin kerjasama dengan pemberontak Suriah.

Dan ketika demo-demo besar muncul di banyak titik di Suriah, Amerika langsung keluarkan senjata terampuhnya, yaitu sanksi ekonomi. Sanksi ekonomi ini yang melumpuhkan Suriah dan memperluas area bentrokan sampai akhirnya muncul ISIS sebagai raja teror disana.

Pola-pola yang sama seperti di Suriah, muncul di Indonesia. Matinya 6 orang anggota FPI diframing dengan narasi pembunuhan dan pembantaian. Narasi ini dibangun untuk membingungkan orang awam kemudian menyalahkan pemerintah karena menggunakan kekerasan.

BACA JUGA:

Yang diharapkan, muncul simpati kepada FPI sebagai pihak yang terzolimi dan membangkitkan perlawanan dari ormas-ormas radikal lain sehingga akan terbentuk klaster-klaster demo di beberapa tempat.

Saya sendiri sudah curiga ketika Mike Pompeo datang ke Indonesia dan menawarkan pangkalan militer di sini, karena AS takut dengan dominasi China di Indonesia. Apakah kedatangan Riziek ke Indonesia ada peran Amerika dengan telpon ke Saudi, sebagai mitra mereka, supaya “Lepaskan barang itu..”.

Hati-hati. Aparat harus tegas. Tangkapi orang-orang yang bangun framing bahwa polisi membantai dan membunuh anggota FPI. Mereka itulah corong-corong penyebar kerusuhan yang sudah disiapkan.. Aparat harus tegas dan terukur. Atau kita kelak seperti Suriah.. Seruput kopinya. (ARN)

Sumber: Indonesia, Ayo Belajarlah dari Suriah

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: