NewsTicker

Putra Shaikh Al-Awdah: Saudi Bunuh Ayahku Secara Perlahan

Putra Shaikh Al-Awdah: Saudi Bunuh Ayahku Secara Perlahan Putra Shaikh Al-Awdah: Saudi Bunuh Ayahku Secara Perlahan

Arab Saudi, ARRAHMAHNEWS.COM Kerajaan Saudi membunuh ayah saya secara perlahan, ujar Putra Shaikh Salman Al-Awdah, seorang ulama yang ditangkap dan ditahan oleh Arab Saudi menyampaikan hal ini dalam sebuah artikel yang ditulisnya, menekankan bahwa selain aktivis HAM Loujain Al-Hathloul, banyak tahanan lain yang diperlakukan tak adil dan keji oleh kerajaan.

“Kesehatan fisik dan mental ayah saya menurun dengan cepat selama tiga tahun terakhir karena pelecehan dan isolasi. Selama tiga sampai lima bulan pertama penahanannya, di penjara Dhahban di Jeddah, penjaga membelenggu kakinya dengan rantai dan menutup matanya, saat memindahkannya dari ruang interogasi ke selnya. Para interogator melarang ia tidur dan minum obat selama beberapa hari berturut-turut, Ia mengatakan hal itu kepada keluarga kami selama kunjungan,” ungkap Abdullah Al-Awdah dalam artikel yang dirilis Alahed News pada Kamis (31/12).

BACA JUGA:

“Pada suatu kesempatan, para penjaga melemparkan kantong plastik berisi makanan ke arahnya tanpa melepaskan borgolnya. Ia terpaksa membuka kantong dan mengeluarkan makanan dengan mulutnya, menyebabkan kerusakan parah pada giginya. Setelah penganiayaan yang berkepanjangan ini, pada Januari 2018, ia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari karena tekanan darah tinggi yang berbahaya,” lanjutnya.

Putra Shaikh Al-Awdah: Saudi Bunuh Ayahku Secara Perlahan

Syaikh Salman Al-Awdah

Abdullah menjelaskan bahwa ayahnya adalah seorang sarjana reformis hukum Islam berusia 63 tahun di Arab Saudi, yang telah ditahan di sel isolasi sejak penangkapannya pada 10 September 2017. Ini semua dikarenakan ayahnya secara tidak langsung mengungkapkan keinginan untuk rekonsiliasi dalam sebuah postingan di twitter yang disampaikan mengingat meningkatnya ketegangan regional setelah Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memberlakukan blokade di Qatar. Beberapa jam setelah postingannya, ia ditahan.

BACA JUGA:

Setelah menahannya tanpa dakwaan selama setahun, otoritas Saudi mengajukan banyak dakwaan terhadapnya ketika mereka memulai persidangannya pada September 2018 di pengadilan tertutup di Riyadh: dari menghasut orang untuk melawan penguasa dan menyerukan perubahan dalam pemerintahan hingga memiliki buku-buku yang dilarang. . Jaksa Agung Saud al-Mojeb dari Arab Saudi mengupayakan hukuman mati untuk ayahnya atas 37 dakwaan.

Abdullah juga mengungkap bahwa putra Mahkota Saudi, Mohammed Bin Salman, yang sebelum memperoleh kekuasaan menghormati dan meminta nasihat kepada ayahnya mengenai reformasi, kini berbalik menjadi penjahat yang menangkap dan menahan ayahnya atas alasan yang sama.

BACA JUGA:

“Sekitar waktu itu, Putra Mahkota Salman (sekarang Raja Salman) memperkenalkan Pangeran Mohammed, putranya yang masih kecil, kepada berbagai tokoh masyarakat berpengaruh di Arab Saudi yang membicarakan tentang reformasi. Putra Mahkota Salman dan Pangeran Mohammed bertemu dengan ayah saya dan meminta nasihatnya tentang proses reformasi yang bernuansa politik,” ujarnya.

“Pangeran Mohammed, yang dikenal sebagai MbS, menetapkan otoritasnya melalui tindakan keras terhadap pesaing-pesaingnya di antara keluarga kerajaan yang besar, ruang untuk perbedaan pendapat dilenyapkan; kerajaan terlibat dalam perang di Yaman, memimpin blokade Qatar, dan ayah saya ditangkap hanya karena sebuah tweet,” tulis Abdullah.

Abdullah mengatakan  bahwa saudara-saudaranya begitu terkejut melihat kondisi Sheikh Al-Awdah saat mereka bertemu di pengadilan selama persidangan 18 November di Riyadh. Ulama Saudi itu menjadi begitu kurus, kehilangan setengah dari pendengaran dan penglihatannya. Mereka merasa bahwa Shaikh Al-Awdah yang berwibawa dan teguh tampak benar-benar tunduk dan mengangguk pada apa pun yang diperintahkan kepadanya. Mereka takut bahwa dalam keadaan genting, ia bisa dipaksa untuk menandatangani pengakuan apapun.

BACA JUGA:

“Kurungan isolasi adalah penyiksaan. Itu berdampak besar dan berbahaya bagi ayah saya. Penganiayaan di kegelapan sel penjaranya menunjukkan bahwa otoritas Saudi berniat membunuhnya secara perlahan. Petugas penjara tidak mengungkapkan apa yang dia makan atau “obat” apa yang dia terima,” jelas Abdullah menekankan.

Di akhir artikelnya Abdullah menyerukan kepada pemerintahan AS yang baru untuk bertindak atas segala kebrutalan Putra Mahkota Saudi, MbS, dan menyelamatkan ayahnya. Mengingatkan Biden atas janji kampanyenya yang akan menuntut tanggung jawab atas berbagai kejahatan Arab Saudi. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: