Tak Paham Nasionalisme Ala Nabi, Islah Bahrawi “Semprot” Felix Siauw

Tak Paham Nasionalisme Ala Nabi, Islah Bahrawi "Semprot" Felix Siauw
Ilustrasi Gambar, Tak Paham Nasionalisme Ala Nabi, Islah Bahrawi "Semprot" Felix Siauw

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Menurut Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi mengatakan Felix Siauw tidak memahami Nasionalisme yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, dikutip dari akun Instagramnya.

Menurut Islah Bahrawi, dia masih saja terusik dengan pernyatan Felix Siauw yang mengatakan secara terbuka bahwa membela tanah air tidak ada dalilnya dalam agama. Ini menjadi persoalan yang sangat serius mengingat dampak pendevaluasian integritas negara akan berlaku kepada siapapun yang meyakini pernyataan itu. Dia mungkin kurang memahami akar historis Nasionalisme yang pernah dipraktikkan Rasulullah di Madinah.

BACA JUGA:

Soal nasionalisme pada dasarnya telah rampung pada era Nabi Muhammad saw dengan mewajibkan keterlibatan semua laki-laki penduduk Madinah beragama apapun untuk terlibat dalam perang melawan serbuan kafir Quraisy. Logika dasarnya: ini bukan perang agama, melainkan perang yang mengancam entitas negara – oleh karenanya Nabi melibatkan umat beragama lain yang juga rakyat Madinah.

Dalam perang Uhud, seorang Rabi Yahudi pemimpin suku Tha’labah bernama Mukhayriq gugur di medan perang. Inilah jejak nyata praktik nasionalisme dari Kanjeng Nabi pada masa itu.

Tak Paham Nasionalisme Ala Nabi, Islah Bahrawi "Semprot" Felix Siauw
Ilustrasi Gambar, Tak Paham Nasionalisme Ala Nabi, Islah Bahrawi “Semprot” Felix Siauw

Contoh nasionalisme dari Nabi Muhammad saw ini kemudian mulai ditepis, terutama di sebagian sub kultur Arab moderen, sejak munculnya pemahaman baru dengan obsesi arus politik utama: “Khilafah”. Sistem politik ini tidak menghendaki batas negara yang dianggap warisan imperialisme.

Di kawasan Arab pertentangan nasionalisme dan agama memang tidak pernah lepas dari diskursus dan polemik. Nasionalisme cenderung luntur, karenanya konsep pan-Islamisme dan pan-Arabisme pun gagal menyatukan bangsa Arab. Postulat politik “rawan konflik” inilah yang berusaha diusung ke negara kita belakangan ini dalam berbagai kemasan.

BACA JUGA:

Ironisnya, nilai nasionalisme dan patriotisme ala Madinah yang tidak membatasi keimanan ini justru lebih dihargai dan diadopsi oleh banyak filsuf Barat. Habermas dan Sternberger merumuskan “Verfassungspatriotismus” atau Patriotisme Konstitusonal, yang dirasionalisasi persis seperti pasal pembelaan negara berbasis pluralisme dalam Piagam Madinah. “Mencintai dan membela tanah air adalah dimensi universal umat manusia tanpa sekat – binatang saja akan melawan jika sarangnya dilanggar,” kata filsuf Karl Loewenstein. Sepertinya Felix Siauw belum paham, bahwa binatang juga bisa memberi pelajaran. (ARN)

About Arrahmahnews 29522 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.