NewsTicker

Inggris Panik AS Bekukan Penjualan Senjata ke Saudi

Keputusan Presiden Joe Biden untuk membekukan penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA menyebabkan seruan baru ke Inggris untuk mengevaluasi kebijakannya

Inggris Panik AS Bekukan Penjualan Senjata ke Saudi Penjualan Senjata, Pesawat tempur

London, ARRAHMAHNEWS.COM – Guardian dalam laporannya mengatakan bahwa perubahan kebijakan AS di bawah pemerintahan Joe Biden menjadikan Inggris terasing secara politik.

“Keputusan Presiden Joe Biden untuk membekukan penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA menyebabkan seruan baru ke Inggris (sebagai pemasok senjata terbesar kedua ke Riyadh) untuk mengevaluasi kebijakannya,” Al-Maalomah mengutip laporan Guardian.

BACA JUGA:

Pejabat di pemerintahan Inggris, mengatakan bahwa tidak ada rencana untuk meninjau penjualan, tetapi keraguan Joe Biden tentang perang 6 tahun Arab Saudi di Yaman, mengharuskan Kementerian Luar Negeri mengubah kebijakannya atau mengambil resiko terisolasi secara diplomatis.

Inggris Panik AS Bekukan Penjualan Senjata ke Saudi

Penjualan Senjata, Pesawat tempur

 

“Ada implikasi praktis yang tak terhindarkan bagi perusahaan senjata Inggris. Para ahli Inggris mengatakan bahwa langkah AS akan memiliki efek tidak langsung, misalnya ketika peralatan Inggris dikaitkan dengan pengaturan perisinan AS,” kata pejabat itu.

Institut penelitian perdamaian internasional Stockholm memperkirakan bahwa senjata buatan AS menyumbang hampir 3/4  dari volume penjualan senjata ke Arab Saudi dari 2015 hingga 2019. Sementara kampanye melawan perdagangan senjata (CAAT) mengklaim bahwa Inggris menjual senjata ke Arab Saudi senilai 5,4 milyar sejak dimulainya perang, hingga menjadikan pengekspor terbesar kedua.

Pertanyaannya, apakah Amerika Serikat akan menekan Inggris untuk mengikuti langkahnya?

“Jika Biden memegang kata-katanya dan mengakhiri penjualan senjata, itu bisa menjadi langkah besar untuk mengakhiri pemboman brutal dan blokade,” Andrew Smith mengatakan, direktur CAAT. Jika pemerintah AS, pedagang senjata terbesar di dunia, siap untuk mengambil sikap, maka sekarang waktunya untuk Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan rekan-rekannya untuk melakukan hal yang sama. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: