NewsTicker

Protes Jalanan Berlanjut di Myanmar

Ribuan orang melakukan protes jalanan pada hari kedua di kota terbesar Myanmar, Yangon, sebagai luapan kemarahan terhadap kudeta junta militer dan penahanan para pemimpin sipil.

Protes Jalanan Berlanjut di Myanmar Aung San Suu Kyi Pidato

Myanmar, ARRAHMAHNEWS.COM Ribuan orang melakukan protes jalanan pada hari kedua di kota terbesar Myanmar, Yangon, sebagai luapan kemarahan terhadap kudeta junta militer dan penahanan para pemimpin sipil.

Para pengunjuk rasa menyuarakan penolak terhadap kudeta militer yang menggulingkan pemerintah terpilih, dan menuntut pembebasan segera pemimpin de facto Aung San Suu Kyi, Press TV melaporkan pada hari Minggu.

BACA JUGA:

Para demonstran membawa balon merah yang mewakili Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh Suu Kyi, dan mengibarkan bendera NLD serta meneriakkan, “We don’t want military dictatorship! We want democracy!”.

Protes Jalanan Berlanjut di Myanmar

Aung San Suu Kyi Pidato

 

Pengemudi kendaraan juga ikut bergabung dengan membunyikan klakson dan penumpang mengangkat foto Suu Kyi. Adegan-adegan tersebut, disiarkan di Facebook, Twitter dan media sosial lainnya.

Kelompok hak asasi manusia mengutuk pembatasan internet, dan menekankan fungsi penting dari jaringan online di tengah krisis kemanusiaan yang diperburuk oleh pandemi COVID-19.

BACA JUGA:

“Sejak kudeta, orang-orang Myanmar dipaksa ke dalam situasi ketidakpastian yang parah,” kata Ming Yu Hah, wakil direktur regional untuk kampanye Amnesty International. “Penghentian internet yang diperluas akan menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar dari pelanggaran hak asasi manusia yang lebih parah di tangan militer.”

“Kami tidak dapat menerima kudeta,” kata seorang pengunjuk rasa berusia 22 tahun yang dikutip oleh Reuters, ia meminta untuk tidak disebutkan namanya karena takut akan pembersihan. “Ini untuk masa depan kita. Kita harus keluar.”

Seorang wanita berusia 30 an yang tengah membawa keluarganya mengatakan, “Kita harus bergabung dengan masyarakat, kita menginginkan demokrasi.”

Pada 1 Februari, junta militer menahan pemimpin de facto Myanmar dan Presiden Win Myint serta tokoh-tokoh senior lainnya dari partai yang berkuasa. Militer mengklaim adanya ketidakberesan dalam pemilihan bulan November yang membuat partai Suu Kyi memenangkan mayoritas kursi. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: