NewsTicker

Cuitan “Provokasi” HNW, Tengku Zul dan Novel Baswedan Soal Kematian Maaher Ath-Thuwailibi

Hidayat Nur Wahid (HNW), Tengku Zulkarnaen dan Novel Baswedan mencuitkan di akun twitternya masing-masing dan mereka menggunakan bahasa yang menjurus provokasi.

Cuitan Cuitan Hidayat Nur Wahid (HNW), PKS

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Soni Eranata alias Maaher Ath-Thuwailibi yang meninggal dunia pada hari Senin (08/02/2021), di rutan Mabes Polri membuat beberapa tokoh berkomentar miring dan bahkan menjurus ke bahasa provokasi dan sangat tidak pantas diucapkan.

Hidayat Nur Wahid (HNW), Tengku Zulkarnaen dan Novel Baswedan mencuitkan di akun twitternya masing-masing dan mereka menggunakan bahasa yang menjurus provokasi.

BACA JUGA:

Cuitan Hidayat Nur Wahid (HNW) Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 2015-2025 pada hari Senin (08/02/2021) pagi, “Ust Maaher wafat di rutan Mabes Polri. InnaaliLlahiwainnaailaiHi rajiun. Agar tak jadi fitnah, penting pihak Kepolisian memberikan penjelasan terbuka(transparan) dan profesional soal sebab wafatnya Ust Maher.

HNW meretweet berita dari Tempo “Tersangka kasus ujaran kebencian Maheer At Thuwailibi atau dikenal dengan Ustad Maaher meninggal di Rutan Mabes Polri hari ini”.

Tengku Zulkarnaen juga mengeluarkan cuitan yang bernada provokasi di akun Twitternya, “Kalau Pembunuh mati di penjara wajar. Koruptor Trilyunan, Pemerkosa, Penghina Agama, Pedolfia, dan Teroris mati di penjara wajar. Tapi kalau menghina orang, sampai mati dipenjara, rasanya memprihatinkan. Sesama Muslim bukankah bisa ISHLAH? Semoga ke depan keadaan makin membaik

Dan tidak ketinggalan pula Novel Baswedan mengeluarkan cuitan di akun Twitternya dengan nada yang cukup keras merespon kematian Maaher Ath-Thuwailibi:

BACA JUGA:

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun

Ustadz Maaher meninggal di rutan Polri. Pdhl kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Org sakit, kenapa dipaksakan ditahan?

Aparat jgn keterlaluanlah..

Apalagi dgn Ustadz. Ini bukan sepele lho..

Padahal pengacara Maaher Ath-Thuwailibi menjelaskan kalau kematian kliennya diduga akibat sakit Usus.

Kuasa hukum Soni Ernata atau Maaher, Djudju Purwantoro menduga kliennya itu meninggal karena sakit usus. Pasalnya, Maaher baru saja menjalani operasi usus 3 bulan silam.

“Awal beliau dioperasi ususnya itu, kira-kira 3 bulan yang lalu, nampaknya penyakit itu masih menjadi keluhan juga,” ujar Djudju kepada wartawan di RS Polri, Senin (8/2/2021).

Meski demikian, Djudju tidak bisa memastikan penyebab kematian yang usianya masih muda itu. Djudju mengatakan kalau kondisi Maaher beberapa hari terakhir semakin melemah.

“Kita belum ada keterangan jelas, tapi yang jelas kondisi fisiknya memang semakin lemah. Karena saat diperiksa Minggu sore, Minggu sore masih dibawa ke klinik Bareskrim. Pada waktu diperiksa pun sudah tiduran,” terangnya.

Djudju membeberkan kondisi Maaher beberapa waktu lalu membutuhkan istirahat lebih. Sayang, dirinya tidak diizinkan untuk dibawa ke RS Ummi Bogor.

“Ya masih perlu istirahat lebih lanjut saja. Kita sudah tekankan untuk dibawa ke RS Ummi. Tapi kan tetap belum bisa diizinkan,” tandas Djudju.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri turut memberi penjelasan terkait meninggalnya Maaher di rutan Bareskrim Polri. Maaher berstatus tahanan kejaksaan.

“Pada tanggal 8 Februari 2021 telah meninggal dunia Tahanan Kejaksaan atas nama Maaher atau Soni Eranata pada sekitar pukul 19.45 WIB karena sakit,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Brigjen Slamet Uliandi, Selasa (9/2).

Berikut 6 poin penjelasan Bareskrim terkait meninggalnya Maaher:

  1. Pada tanggal 8 Februari 2021 telah meninggal dunia tahanan Kejaksaan atas nama Uutadz Maaher atau Soni Eranata pada sekitar pukul 19.45 WIB karena sakit.
  2. Pada saat proses penyidikan oleh Dittipidsiber tersangka pernah dibantarkan penahanannya oleh penyidik dikarenakan sakit pada tanggal 20 Januari 2021 s/d 27 Januari 2021 dan dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
  3. Pada tanggal 4 Februari 2021 penyidik melimpahkan tersangka dan barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Kota Bogor dikarenakan berkas perkara dinyatakan lengkap.
  4. Setelah dilakukan pelimpahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan, tersangka dititipkan penahanannya oleh Pihak Kejaksaan Negeri Bogor di Rumah tahanan Bareskrim berdasarkan Surat Kejaksaan Negeri Kota Bogor tanggal 4 Februari 2021.
  5. Setelah dilimpahkan ke Kejaksaan dan dititipkan penahanannya di Rutan Bareksrim, tersangka sampai dengan meninggal dunia karena sakit tidak pernah dilakukan pembantaran oleh pihak Kejaksaan.
  6. Bahwa pengacara tersangka sudah meminta kepada pihak Kejaksaan untuk permohonan pembantaran tersangka namun belum disetujui. (ARN/Detik)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: