NewsTicker

Jurnalis AS: Hizbullah, Hamas dan Ansarullah Bukan Teroris

Turki dan UEA tidak ditetapkan sebagai dua negara yang mensponsori terorisme meskipun mereka mendukung kelompok yang membunuh warga sipil di Libya dan Yaman.

Amerika, ARRAHMAHNEWS.COM – Dalam sebuah artikel di “Responsible Statecraft”, jurnalis Amerika, Barbara Slavin menyerukan peninjauan ulang klasifikasi AS dari negara-negara yang mensponsori terorisme dan organisasi teroris asing, dan menekankan bahwa banyak dari klasifikasi itu telah dipolitisasi, dan kontraproduktif dalam menghadapi lawan.

Barbara menyatakan bahwa Turki dan UEA tidak ditetapkan sebagai dua negara yang mensponsori terorisme meskipun mereka mendukung kelompok yang membunuh warga sipil di Libya dan Yaman. Selain itu, Israel juga mendukung kelompok teroris seperti “Mujahidin Khalq” yang diklaim bertanggung jawab atas operasi pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, hubungannya dengan kelompok-kelompok seperti pasukan Lahd di Lebanon Selatan, kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Baca: 

“Pakistan tidak ditunjuk sebagai negara sponsor terorisme, di saat negara itu terbukti menyembunyikan teroris seperti Osama bin Laden, pendiri Al Qaeda. Kemudian Arab Saudi terlepas dari dukungan yang diberikan oleh warga dan pejabat Saudi terhadap ISIS dan Jabhat Nusra di Irak.

Jurnalis itu juga mengkritik klasifikasi Hizbullah dan Hamas oleh Amerika Serikat sebagai organisasi teroris, dan mengatakan bahwa “sebutan teroris tidak lagi berlaku untuk kelompok ini.”

Barbara kemudian menekankan bahwa mengklasifikasikan kelompok-kelompok ini sebagai organisasi teroris tidak bisa dibenarkan dan kotraproduktif, serta sulit untuk menenangkan kondisi di lapangan tempat mereka beroperasi.

Jurnalis Amerika lebih lanjut mengatakan bahwa kemunafikan dalam klasifikasi tersebut tercermin dari terbunuhnya puluhan ribu warga tak berdosa akibat kebijakan AS seperti penyerbuan ke Irak dengan dalih senjata pemusnah massal yang ternyata tidak terbukti.

Pengklasifikasian “Al Qaeda” dan “ISIS” serta afiliasinya sebagai organisasi teroris dalah benar. Sementara dikarenakan “tindakan dalam perang” seperti pemboman barak Marinir di Beirut pada tahun 1983, menyebabkan masuknya Iran dan Hizbullah dalam daftar terorisme adalah absurd.

Barbara kemudian memperingatkan bahwa pemerintahan Reagan saat itu mengirim Marinir ke Lebanon setelah invasi Israel pada tahun 1982 dengan misi misterius dan memberi lampu hijau untuk mengubah kekuatan ini dari tim “penjaga perdamaian” menjadi sebuah pihak dalam perang saudara di Lebanon.

Sementara penulis mengatakan bahwa pemboman barak Marinir merupakan peristiwa yang mengerikan, dan menekankan pada saat yang sama bahwa pasukan ini tidak seharusnya berada dalam posisi seperti itu sejak awal, dan melanjutkan, “Pemerintahan George Bush menyatakan perang melawan teror alih-alih berfokus pada “ekstremis” seperti Saudi, Emirat dan Mesir yang membunuh 3.000 orang Amerika dalam serangan 11 September, justru menginvasi Afghanistand dan Irak.”

Barbara percaya bahwa Amerika Serikat telah melindungi unsur-unsur teroris “Khalq” di Irak, terlepas dari kenyataan bahwa kelompok ini pada saat itu ditempatkan dalam daftar organisasi teroris Amerika, dan menekankan bahwa Amerika Serikat menolak pada saat itu untuk menyerahkan unsur-unsur teroris “Mujahidin Khalq” ke Iran sebagai imbalan atas penyerahan unsur-unsur Al-Qaeda.

Baca:

Wartawan Amerika berbicara tentang perlunya Amerika Serikat mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan ini pada saat ekstremisme domestik menjadi ancaman yang lebih besar daripada kelompok asing. Pemerintahan Biden harus mengurangi obsesinya dengan Iran dan mitranya jika ingin mengurangi konflik di Timur Tengah dan beralih ke Asia untuk mengatasi China.

Barbara menyimpulkan bahwa pembuat kebijakan harus memahami posisi kelompok-kelompok yang diklasifikasikan Washington sebagai teroris dan tidak secara otomatis menggunakan klasifikasi ini. Kesimpulannya, pendekatan ini tidak melayani kepentingan rakyat Amerika atau rakyat Timur Tengah. (ARN)

Sumber: FNA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: