Abdulsalam: Proposal Perdamaian AS untuk Yaman “Konspirasi Jahat”

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COM Kepala delegasi nasional Yaman, Muhammad Abdul Salam, pada Hari Jumat (12/03) mengecam upaya jahat dibalik Proposal gencatan senjata yang dibawa oleh utusan AS, Tim Lenderking.

Abdulsalam menggambarkannya sebagai konspirasi untuk menempatkan Yaman pada kondisi yang lebih berbahaya daripada sebelumnya, dan bahwa proposal itu mewakili visi Saudi dan internasional sebelumnya.

Dalam wawancara dengan TV Al Masirah melalui telepon, Abd al-Salam menjelaskan bahwa isi proposal Amerika tidak termasuk penghentian pengepungan atau gencatan senjata. Proposal itu adalah jalan memutar yang mengarah pada dimulainya kembali blokade secara diplomatis.

Ia menegaskan, salah satu syarat atas inisiatif tersebut adalah menentukan tujuan bandara Sana’a, mengeluarkan izin melalui koalisi agresi, dan agar paspor tidak dikeluarkan dari Sana’a.

BACA JUGA:

“Jika mereka serius untuk menghentikan agresi dan blokade, mereka akan menyatakan akhir yang serius dari perang dan blokade, baru kami akan menyambut langkah ini,” katanya.

“Utusan AS datang untuk menyampaikan rencana yang bahkan kurang dari apa yang dilakukan utusan PBB itu. Ini tidak bisa diterima,” tambahnya.

Kepala delegasi nasional Yaman itu menambahkan, “Proposal utusan khusus AS adalah petualangan yang dapat meninggalkan Yaman dalam situasi lebih berbahaya daripada sekarang. Proposal AS tidak memiliki hal baru, hanya persyaratan Arab Saudi untuk gencatan senjata. Jika usulan Washington dapat diterima, kami sudah akan menyepakatinya saat pembicaraan dengan Arab Saudi.”

BACA JUGA:

Andulsalam menekankan bahwa apa yang AS-Saudi tak bisa dapatkan melalui agresi yang selama ini mereka luncurkan, juga tidak akan bisa mereka dapatkan melalui dialog.

“Amerika, dengan menampilkan syarat-sayarat Saudi sebagai proposal untuk menghentikan perang, telah menunjukkan sekali lagi bahwa mereka secara terbuka berada di belakang agresi dan blokade,” katanya.

“Mereka ingin kami mencapai melalui dialog, apa yang tidak bisa mereka capai dengan perang dan pengepungan, dan fakta ini harus disadari oleh semua orang,” jelasnya.

Soal bantuan kemanusiaan, Abdulsalam mengungkap kebohongan apa yang dikatakan utusan AS tentang datangnya bantuan kemanusiaan di Yaman dan kegagalan mencapai mereka yang berhak.

Ia menjelaskan bahwa kapal minyak dibeli oleh para pedagang Yaman dengan uang mereka sendiri dan memperoleh izin PBB, namun agresi secara sewenang-wenang mencegah mereka mencapai Yaman.

“Kami menerima semua persyaratan yang diusulkan oleh pihak lain untuk memastikan akses kemanusiaan, dan ketika mereka tidak menemukan alasan untuk melanjutkan blokade, mereka mengatakan itu tidak menjangkau mereka yang berhak,” katanya.

“Kami yang meminta konsolidasi pendapatan di Yaman dan pencairan gaji, dan merekalah yang menolak ini. Namun mereka justru ingin menggunakan pendapatan untuk rekening pribadi yang mereka control,” Mohammed Abdulsalam menyimpulkan. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: