Hatami: Iran Siap Hadapi Serangan Biologis, Kimia bahkan Nuklir

Hatami: Iran Siap Hadapi Serangan Biologis, Kimia bahkan Nuklir
Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami

Iran, ARRAHMAHNEWS.COMMenteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami menggarisbawahi kesiapan Republik Islam untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan biologis, kimia dan nuklir.

“Kita harus siap untuk membela bangsa kita dari semua ancaman dan apapun yang suatu saat mungkin digunakan musuh sebagai alat ofensif. Termasuk senjata kimia, nuklir dan biologi,” kata Jenderal Hatami pada peringatan 33 tahun pembantaian menggunakanbahan kimia di Halabja oleh mantan diktator Irak, Saddam Hussein pada 16 Maret.

BACA JUGA:

“Bangsa kita harus tahu bahwa mereka memiliki titik tolak yang waspada dan cerdas untuk melawan musuh, yang telah mengadopsi semua tindakan diperlukan menghadapi semua ancaman,” tambahnya sebagaimana dikutip Al-Ahed News.

Hatami: Iran Siap Hadapi Serangan Biologis, Kimia bahkan Nuklir
Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami

Pada tanggal 28 Juni 1987, pesawat Irak menjatuhkan bom gas sulfur mustard di Sardasht. Sebuah kota di barat laut Iran dengan 20.000 penduduk etnis Kurdi, dalam dua pemboman terpisah di empat daerah pemukiman. Sardasht adalah kota pertama di dunia yang terkena gas di mana dari 95% populasinya terpapar gas beracun. 130 warga sipil terpapar hingga tewas. Saat ini, 25% penduduknya masih menderita penyakit parah akibat serangan tersebut.

BACA JUGA:

Sembilan bulan kemudian, pada 16 Maret 1988, mantan diktator Irak Saddam Hussain menggunakan senjata itu terhadap rakyatnya sendiri di Halabja untuk menghukum Kurdi yang tidak setuju dengan perang melawan Iran.

Puluhan ribu orang Iran terbunuh dan terluka oleh senjata kimia selama perang yang dipaksakan Irak tahun 1980-1988 terhadap Iran. Sekitar 100.000 orang Iran masih hidup dengan efek tersebut. Efek itu  meliputi masalah pernapasan jangka panjang, masalah mata dan kulit serta gangguan sistem kekebalan, gangguan psikologis, kelainan genetik, dan kemungkinan kanker.

Bahan kimia mengerikan tersebut dipasok ke rezim Saddam Irak oleh sejumlah perusahaan Jerman, Prancis, dan Belanda. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 30633 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.