Ansharullah Yaman Kecam Tawaran “Palsu” Gencatan Senjata Saudi

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COMGerakan Ansarullah Yaman mengecam tawaran gencatan senjata Riyadh dalam rangka untuk mengakhiri perang, karena menggunakan masalah kemanusiaan sebagai alat tekan. Gerakan perlawanan itu mengungkap “tidak ada yang baru” dalam tawaran koalisi baru-baru ini.

Menanggapi pernyataan Menlu Saudi Faisal bin Farhan Al Saud, Ketua juru runding gerakan Ansharullah, Mohammed Abdulsalam pada hari Senin (22/03) mengatakan bahwa pembukaan bandara dan pelabuhan adalah “hak kemanusiaan” dan tidak boleh digunakan sebagai “alat tekanan” oleh kerajaan.

BACA JUGA:

Abdulsalam juga menegaskan bahwa pernyataan Arab Saudi tentang dirinya sendiri sebagai bukan bagian dari agresi adalah “menyesatkan dan tidak akurat”.

“Kerajaan Arab Saudi adalah bagian dari perang dan harus segera mengakhiri blokade udara dan laut di Yaman,” kata Abdulsalam dalam sebuah pernyataan.

BACA JUGA:

Ia menekankan bahwa mencabut pengepungan tidak membutuhkan inisiatif apapun, dan “barter” dalam masalah kemanusiaan semacam ini adalah kejahatan terhadap seluruh rakyat.

“Arab Saudi harus menyatakan diakhirinya agresi dan mencabut blokade sepenuhnya. Mengemukakan ide-ide yang telah dibahas selama lebih dari setahun bukanlah hal baru,” kata Abdulsalam, sebagaimana dikutip televisi Yaman, Al-Masirah.

Namun, Abdulsalam juga mengatakan Ansarullah akan terus mengadakan pembicaraan dengan Riyadh, Muscat dan Washington untuk mengakhiri perang yang dipaksakan Saudi ini.

Des 2, 2021
Mohammed Abdulsalam

 

Riyadh telah mempresentasikan ‘inisiatif perdamaian’ pada Senin malam (22/03), yang akan mencakup gencatan senjata nasional di bawah pengawasan PBB dan pembukaan kembali hubungan udara dan laut.

Inisiatif tersebut meliputi pembukaan kembali bandara Sana’a, dan jalur bebas impor bahan bakar dan pangan melalui pelabuhan Hodeidah. Kedua fasilitas ini dikendalikan oleh Ansarullah.

Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan Al Saud mengatakan inisiatif itu akan berlaku “segera setelah Houthi menyetujuinya.”

Arab Saudi dan sekutu regionalnya telah berperang berdarah di Yaman sejak 2015, menggunakan senjata yang dipasok oleh Barat. Agresi terutama untuk memulihkan rezim Abd Rabbuh Mansur Hadi, sebuah tindakan yang ditentang keras oleh Ansarullah.

Des 2, 2021

Pada bulan Desember tahun lalu, PBB menyebutkan jumlah korban tewas dalam agresi Saudi mencapai 233.000 jiwa. Menyebutnya “disayangkan dan tidak dapat diterima”.

Sejumlah besar rumah sakit dan properti tempat tinggal telah dihancurkan dalam pemboman Saudi. Kondisi semakin buruk setelah pandemi Covid-19.

BACA JUGA:

Sementara Arab Saudi dan sekutu regionalnya telah menjadi ujung tombak perang, rezim Barat telah terlibat dalam memberikan senjata kepada mereka dan gagal mengutuk agresi brutal mereka.

Des 2, 2021

Menurut Abdulsalam, meskipun pemerintahan baru AS mengumumkan berakhirnya dukungan Washington kepada koalisi, kebijakan utama AS tetap tidak berubah.

Pekan lalu, anggota Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi, menekankan bahwa tidak akan ada perdamaian di negara Arab itu kecuali koalisi yang dipimpin Saudi menghentikan serangan, mencabut pengepungan yang melumpuhkan, dan mengakhiri pendudukan militer. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: