NewsTicker

Teroris HTS Aset AS di Idlib Suriah untuk Gulingkan Assad

James Jeffrey, mengatakan kelompok teroris Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merupakan aset untuk strategi AS di Idlib, Suriah, untuk menggulingkan Bashar Assad

Teroris HTS Aset AS di Idlib Suriah untuk Gulingkan Assad Abu Muhammad al-Jolani, pemimpin kelompok militan Islam Suriah Hayat Tahrir al-Sham, duduk untuk wawancara Februari 2021 dengan koresponden FRONTLINE Martin Smith di provinsi Idlib, Suriah.

Suriah, ARRAHMAHNEWS.COMPemimpin sebuah kelompok teror Suriah, Haiat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Muhammad al-Jolani, mengakui dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Amerika “Front Line” bahwa ia tidak pernah “Mengancam Barat”. Pernyataan ini menjadi bantahan dari pernyataan-pernyataan yang selalu ia katakan sebelumnya mengenai permusuhan terhadap Amerika dan Eropa.

James Jeffrey, mantan diplomat yang belum lama ini menjadi utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk berhubungan dengan Suriah membuat pengakuan mengejutkan. Dia mengatakan kelompok teroris Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merupakan aset untuk strategi Amerika di Idlib, Suriah, untuk menggulingkan Bashar Assad.

BACA JUGA:

Jeffrey pernah menjabat duta besar AS untuk negara-negara Timur Tengah, termasuk Irak dan Turki. Dia baru-baru ini menjadi utusan khusus AS untuk koalisi global melawan ISIS selama pemerintahan Presiden Donald Trump.

Teroris HTS Aset AS di Idlib Suriah untuk Gulingkan Assad

Abu Muhammad al-Jolani, pemimpin kelompok militan Islam Suriah Hayat Tahrir al-Sham, duduk untuk wawancara Februari 2021 dengan koresponden FRONTLINE Martin Smith di provinsi Idlib, Suriah.

Al-Jolani mengatakan selama wawancara dengan koresponden “Front Line” Martin Smith, yang dilakukan pada 1 Februari, dan baru-baru ini diterbitkan oleh surat kabar tersebut, bahwa “HTS tidak mewakili ancaman apapun bagi Amerika Serikat dan Eropa dan harus dihapus dari daftar terorisme”.

Surat kabar tersebut menilai bahwa Al-Jolani sedang mencoba untuk mendapatkan penerimaan yang lebih luas melalui pernyataannya.

Amerika Serikat menggambarkan al-Jolani pada 2013 sebagai “teroris” dan menawarkan hadiah 10 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya. Pada 2012, Departemen Luar Negeri AS menetapkan kelompok Al-Jolani, yang saat itu dikenal sebagai Front Al-Nusra, sebagai organisasi teroris.

BACA JUGA:

Dalam wawancara pertamanya dengan seorang jurnalis Amerika di Idlib, Al-Jolani menambahkan bahwa “Perannya mencerminkan kepentingan bersama dengan AS dan Barat dalam memerangi Presiden Suriah Bashar Assad dan ISIS, dan dalam mengendalikan sejumlah wilayah Suriah.

Smith bertanya kepada Al-Joulani mengapa orang harus menganggapnya sebagai pemimpin di Suriah jika dia diklasifikasikan sebagai teroris, dan dia mengatakan bahwa pelabelan itu “tidak adil dan politis”.

“Kami tidak mengatakan bahwa kami ingin berperang, dan hubungan saya dengan Al-Qaeda berakhir, dan bahkan di masa lalu kelompok saya menentang melakukan operasi di luar Suriah,” katanya.

Menurut surat kabar itu, James Jeffrey, yang menjabat sebagai duta besar AS untuk pemerintahan Republik dan Demokrat dan baru-baru ini sebagai perwakilan khusus untuk partisipasi di Suriah dan sebagai utusan khusus untuk “koalisi internasional untuk memerangi ISIS” selama pemerintahan Trump, mengatakan kepada Smith bahwa Organisasi Jolani adalah “aset strategis Amerika di Idlib”.

“Itu adalah pilihan yang paling tidak buruk di antara berbagai pilihan terkait Idlib, dan Idlib adalah salah satu tempat terpenting di Suriah, dan itu adalah salah satu tempat terpenting di Timur Tengah saat ini,” kata Jeffrey dalam sebuah wawancara pada 8 Maret.

Berbagai Organisasi HAM sebelumnya telah mendokumentasikan pelanggaran yang dilakukan kelompok teror pimpinan Al-Jolani ini, dari serangan membabi buta di wilayah sipil hingga penangkapan sewenang-wenang.

BACA JUGA:

Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Suriah mengatakan bahwa mereka telah mendokumentasikan pelanggaran termasuk penyiksaan, kekerasan seksual, perlakuan tidak manusiawi atau merendahkan martabat, penghilangan paksa atau kematian dalam tahanan oleh HTS dan bentuk-bentuk sebelumnya yang dimulai pada tahun 2011.

Komisi itu mengindikasikan bahwa insiden mencapai puncaknya pada 2014, sementara pelanggaran didokumentasikan pada periode 2013 hingga 2019 pada tingkat yang sama.

Front Line menyebut bahwa selama lebih dari dua dekade, kehidupan Abu Muhammad al-Jolani telah menjadi peta jalan militansi Islam di Irak dan Suriah. Ia bergabung dalam perang melawan pasukan AS di Irak dan dipenjara oleh Amerika.

Ia menjadi komandan dalam kelompok yang dikenal sebagai ISIS di Irak. Ia mendirikan afiliasi Al-Qaeda di Suriah dan kemudian memutuskan hubungan dengan Al-Qaeda dan ISIS, kemudian membentuk kelompok sendiri sementara melanjutkan teror di Suriah. (ARN)

Sumber: Al-Mayadeen

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: