NewsTicker

Eko Kuntadhi: Gerombolan Kadrun Wahabi VS Kuda Lumping

Otak laskar memang pendek. Ia gak bisa membedakan antara kesenian dan ibadah ritual. Wong, cuma nari kuda lumping, terus yang musyrik apanya

Eko Kuntadhi: Gerombolan Kadrun Wahabi VS Kuda Lumping Screenshoot Pelaku oknum anggota Ormas yang ludahi warga

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMPenulis dan juga seorang pegiat medsos Eko Kuntadhi dalam akun Facebooknya menulis Kadrun VS Kuda Lumping, Eko menjelaskan bagaimana kelompok Wahabi yang anti budaya nusantara ini dengan sok-sok an menjadi arogan.

Di Medan, segerombolan orang menamakan Laskar Khusus Umat Islam menggeruduk warga. Masalahnya sederhana. Ketika warga mau menonton pertunjukan kuda lumping. Laskar FUI itu marah.

Katanya tarian itu menyembah setan. Musyrik. Dosa besar. Dan ujungnya mereka meminta acara bubar.

Warga marah. Beberapa wanita berjilbab yang tersinggung dengan perilaku barbar pada laskar itu melawan. Eh, dasar preman kelas teri medan, mereka malah meludahi warga. Kurang ajar, kan?

BACA JUGA:

Siapa sih, yang gak tersinggung diludahi sama orang yang jarang sikat gigi?

Saya heran dengan kelakuan laskar model begini. Di mana-mana cirinya sama saja. Kalau gak minder biasanya over acting. Yang nyebelin, over actingnya selalu membawa-bawa agama.

Eko Kuntadhi: Gerombolan Kadrun Wahabi VS Kuda Lumping

Screenshoot Pelaku oknum anggota Ormas yang ludahi warga

Otak laskar memang pendek. Ia gak bisa membedakan antara kesenian dan ibadah ritual. Wong, cuma nari kuda lumping, terus yang musyrik apanya. Sampai sekarang gak ada juga orang indonesia yang menyembah kuda. Padahal kesenian kuda lumping itu sudah ada sejak jaman dulu.

Yang ada malah laskar-laskar jenis itu yang menyembah baliho. Saya lupa. Baliho yang disembah itu berisi foto kuda apa foto orang.

BACA JUGA:

Inilah ngeheknya cara berfikir laskar ini. Wong cuma nari dengan kuda-kudaan saja, kenapa mereka menilainya sebagai bagian dari ibadah? Sehingga harus dianggap musyrik.

Jangan-jangan kalau laskar itu main  catur, mereka kalah terus. Soalnya mereka gak mau makan kuda. Alasannya karena keduanya gak disembelih dengan mengucap nama Tuhan. Hukumnya haram makan kuda.

Kayaknya laskar-laskar itu gak pernah langganan Netflix atau Disney Channel. Yang ditonton di rumah cuma sinetron azab doang sama akademi dangdut. Jadinya korslet, kan?

Tapi begini. Jika mau ditelusuri, mudahnya mereka memusyrik-musyrikan sebuah pertunjukan kesenian karena cara berfikir agama ala Wahabi takfiri. Masih inget kan, ada penceramah agama yang bilang lagu ‘Naik ke Puncak Gunung’, dianggap kristenisasi.

Karena dikirim kanan gunung ada pohon cemara. Dan cemara sering digunakan sebagai hiasan Natal. Lho, emang di gunung banyak pohon cemara atau pinus. Kalau banyak pohon Kamboja, itu sih, di kuburan.

Cara beragama ala Wahabi ini salah satu cirinya adalah membenci kebudayaan. Mereka misalnya mengharamkan lukisan. Mereka mengharamkan patung. Mereka mengharamkan musik. Padahal kalau dengar dangdut, jempol kakinya ikut bergoyang juga.

BACA JUGA:

Pemahaman Wahabiah adalah bahan dasar sebagian unat Islam jadi beringas dan anti kebudayaan. Coba telaah ketika gerombolan ini menguasai satu daerah. Yang mereka lakukan adalah menghancurkan situs-situs kebudayaan yang ada di daerah itu.

Di Suriah, misalnya. Ada 900 situs dan artefak budaya berusia ribuan tahun diratakan dengan tanah. Begitu juga di Irak, Libya, Mali atau Afghanistan. Alasannya sama kayak laskar di Medan itu, menimbulkan kemusyrikan.

Padahal situs-situs itu adalah data penting untuk mempelajari peradaban umat manusia. Tapi di tangan gerombolan tidak beradab, artefak kebudayaan itu dianggap sesembahan. Kan, tolol.

UNESCO sampai harus membuat konferensi sendiri untuk membahas kelakuan kaum biadab ini. Para sejarawan menangis. Para arkeolog bersedih. Wahabi memang pantas dijadikan musuh peradaban.

Kenapa mereka selalu mengincar menghancurkan budaya dan sejarah sebuah wilayah. Sebab masyarakat yang dicerabut dari sejarahnya sendiri, akan kehilangan jati dirinya. Mereka akan  menjadi sekelompok orang yang tidak lagi memiliki akar dengan tanah airnya.

Pencerabutan akar budaya dan sejarah ini akan memudahkan mereka lakukan ekspansi ideologis. Setelah berhasil dicabut dari akar budaya dan sejarahnya, lalu masyarakat akan disuntikkan pemahaman baru yang sama sekali berbeda.

Wajar saja jika kita lihat cara berpakaian kelompok ini. Seolah yang namanya pakaian islamis bagi lekaki mirip dengan pakaian suku-suku di Afghanistan, dengan celana cingkrang dan baju panjang.

Atau mirip dengan pakaian orang Arab, yang melaki memakai baju seperti daster.

Sementara yang perempuan memakai cadar yang tidak memperlihatkan wajahnya sama sekali. Dengan warna hitam, seperti seragam ninja di Jepang.

Padahal tidak memperlihatkan wajah dalam hubungan sosial di Indonesia itu dulu dikenal sebagai tindakan tidak sopan. Tapi standar ketidaksopanan itu disuntikan sebagai doktrin agama yang baru.

BACA JUGA:

Masyarakat yang telah tercerabut akar budaya dan kehilangan makna sejarahnya, akan hilang juga kebanggaan pada wilayahnya. Akan merosot cintanya pada Tanah airnya. Dengan begitulah mereka berusaha menguasai sebuah wilayah.

Jadi soal pelarangan kuda lumping di Medan itu, sebetulnya bukan sekadar ulah laskar tolol yang memamerkan isi kepalanya. Peristiwa itu adalah percikan kecil dari tujuan besar merusak Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Peristiwa jenis ini bukan baru sekali terjadi. Di Purwakarta, kita pernah mendengar gerombolan laskar dengan isi kepala kopong juga berusaha merusak patung yang menghiasai sudut-sudut kota.

Memang kita tidak bisa berharap banyak dari orang yang isi kepalanya kopong. Mereka menyangka sedang memperjuangkan agama. Padahal yang mereka lakukan hanya mendatangkan kerusakan.

“Mas, harusnya para Kadrun itu mikir. Di dunia ini gak ada mahluk yang kelaminnya di pinggul. Selain kuda lumping. Harganya dia bangga!, ” ujar Abu Kumkum dengan nada sebel.

Kok, mendengar Abu Kumkum marah sama Kadrun, jidat gue malah mengerut. Kenapa harus lari ke kelamin sih?. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: