Tradisi Khas Ramadhan di Mesir yang Pengaruhi Dunia Muslim

Tradisi Khas Ramadhan di Mesir yang Pengaruhi Dunia Muslim
Ramadhan Kareem

Mesir, ARRAHMAHNEWS.COM Mesir adalah tempat paling terkenal untuk tradisi Ramadhan, bahkan dikatakan bahwa banyak ritual Ramadhan yang dipraktikkan di seluruh dunia Muslim berasal dari Mesir.

Berbagai negara berpenduduk mayoritas Muslim mulai dari Afrika, seperti Burkina Faso, Comoros, Chad, Pantai Gading, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Gambia, Ghana, Guinea, Kenya, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, Somalia, Sudan, Tanzania, Togo, dan Uganda, saat ini tengah menjalani Bulan puasa Ramadhan.

Tetapi ritual Ramadhan di negara-negara Afrika utara seperti Mesir, Tunisia, Lybia, Aljazair, dan Morroco, yang merupakan negara-negara Muslim Arab, lebih berpengaruh pada budaya Islam secara keseluruhan. Mesir menonjol di antara negara-negara Arab tersebut dan dikatakan bahwa banyak ritual Ramadhan yang dipraktikkan di seluruh dunia Muslim berasal dari Mesir, di mana adat istiadat masa lalu telah dipraktikkan selama beberapa generasi.

BACA JUGA:

Meskipun Mesir bukan negara yang seluruhnya Muslim dan memiliki komunitas Kristen yang cukup besar yang disebut Koptik, Ramadhan dirayakan dengan sangat menarik yang tidak dapat Anda temukan di negara Muslim lainnya.

Cara orang Mesir mempersiapkan bulan suci berbeda dengan negara Islam lainnya dan bahkan dikatakan bahwa negara lain telah meniru adat istiadat dan ritual mereka. Warga Mesir bersiap untuk melaksankan bulan yang diberkati ini sejak beberapa minggu sebelumnya. Pasar penuh dengan produk spesial Ramadhan termasuk kurma, pasta aprikot kering, plum kering, kacang-kacangan, dan minuman spesial sebelum Ramadhan. Mereka punya cara sendiri dalam merayakan bulan suci.

Ini adalah tradisi berusia berabad-abad yang paling populer di Mesir yang dipraktikkan secara luas di negara-negara Arab lainnya di Afrika Utara dan di seluruh dunia Islam.

Tradisi Membangunkan orang sahur (Mesaharati)

Para Penabuh atau Mesharatis, demikian orang Mesir menyebut mereka, membangunkan umat Islam untuk makan sahur (“suhur” dalam bahasa Arab) sebagai persiapan untuk hari puasa yang akan datang.

Setiap menjelang shubuh selama bulan suci Ramadhan, para penabuh drum (Tabbal) berjalan di jalan-jalan dengan genderang kecil, membunyikan ketukan yang berulang-ulang untuk membangunkan orang-orang agar bangun untuk menikmati Sahur mereka.

Mesaharati mengembara di gang-gang dengan drum mereka dan menyanyikan lagu-lagu tradisional dimana anak-anak bermain di sekitarnya dengan lentera mereka dan bernyanyi bersamanya.

Tradisi Khas Ramadhan di Mesir yang Pengaruhi Dunia Muslim
Mesaharati

Diyakini bahwa tradisi ini berasal dari era Ottoman ketika orang tidak memiliki jam alarm untuk membangunkan orang-orang saat Sahur, para penabuh genderang akan berjalan menyusuri jalan sambil menabuh genderang. Mereka juga akan menyanyikan bait berima.

BACA JUGA:

Di akhir Ramadhan, meski Mesaharati tidak meminta uang, masyarakat di komunitasnya sering memberi mereka tip kecil dan bahkan hadiah. Kebiasaan ini masih dijalankan karena mengusung aspek spiritual di masa Ramadhan kuno

Lentera Ramadhan (Fanous)

Salah satu bagian dekoratif Ramadhan yang paling populer adalah lentera (atau “Fanous”). Lampion yang terbuat dari logam dan kaca berwarna, hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Orang Muslim Mesir menghiasi jalan-jalan, rumah, dan balkon dengan lampu, dekorasi, serta lentera besar.

Fanous

Lentera Ramadhan adalah simbol utama bulan suci, Anda tidak akan pernah mengunjungi rumah orang Mesir atau melewati lingkungan sekitar yang tidak memiliki lentera yang indah, menerangi tempat itu, menurut situs web yang mendorong kunjungan ke Mesir selama bulan suci.

Meski lentera tidak lagi digunakan sebagai sumber cahaya, banyak keluarga di seluruh dunia Muslim terus menggunakannya sebagai dekorasi. Menurut laporan dari Mesir, saat ini hanya tersisa beberapa lusin bengkel lentera tradisional disana.

Meriam untuk Tanda Berbuka Puasa

Tidak seperti banyak negara Muslim lainnya di Asia Barat (Timur Tengah) dan Asia Tengah, di banyak negara Afrika Utara, meriam ditembakkan untuk menandai akhir dari puasa sehingga mereka yang berpuasa dapat menyantap hidangan buka puasanya.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kebiasaan menembakkan Midfaa Al Iftar (atau “meriam buka puasa”) berasal dari Mesir, meskipun, ada catatan yang berbeda, terkadang saling bertentangan, tentang kapan ritual itu ditetapkan.

Konon tradisi ini dimulai pada masa Mamelöukes pada 1439 dan Kairo adalah kota pertama di dunia Islam yang menyaksikan hal ini, menurut laporan Daily Sabah. Sementara itu, beberapa percaya bahwa itu dimulai pada abad ke-10 pada masa kekhalifahan Fatimiyah.

Cerita yang lebih populer menunjukkan bahwa tradisi tersebut dimulai secara tidak sengaja selama pemerintahan Mamluk di Mesir pada abad ke-15.

cannon

Saat matahari terbenam, ketika saatnya bagi umat Islam untuk berbuka puasa, suara ledakan bergema di sepanjang jalan-jalan Kairo yang sunyi; itu adalah suara tembakan Meriam Ramadhan untuk menandai waktu Maghrib. Selama berabad-abad, ‘madfaa’ atau meriam, telah menjadi satu-satunya metode bagi orang untuk mengetahui saatnya buka.

Berbagai Produk dan kebiasaan khas Ramadhan lainnya

Khayamiya adalah jenis tekstil dekoratif yang secara historis digunakan untuk mendekorasi tenda di seluruh Timur Tengah. Selama ratusan tahun, tekstil ini menjadi eksklusif di Kairo, Mesir, di mana ada pasar yang disebut Souq Al-Khayamiya yang didedikasikan untuk itu.

Khayamiya adalah pola rumit dari kain warna-warni, yang terutama digunakan untuk tirai, penutup, mode, tas, seprai, dan taplak meja.

Khayamiya

Salah satu tradisi terpenting Ramadhan adalah ketika semua remaja dan anak-anak tetangga berkumpul dengan orang tua mereka dan bekerja mendekorasi setiap jalan dengan Zeenat Ramadan.

Tali segitiga berwarna-warni ini dipasang di antara balkon, dengan lentera dan lampu berwarna, memberikan suasana jalan yang menyenangkan yang sangat terkait dengan orang Mesir.

Makanan khas juga selalu menjadi topik pembicaraan di Mesir selama bulan suci Ramadhan, dan ada sejumlah hidangan tradisional yang menjadi makanan pokok setiap rumah selama Ramadhan.

Ini termasuk mahshi (nasi dan sayuran yang diisi bumbu), pasta bechamel, molokhia, dan banyak lagi.

Ada juga minuman tradisional yang tidak bisa ditinggalkan orang Mesir di bulan Ramadhan, seperti Kamar Al-Din (jus aprikot), Karkade (teh kembang sepatu), dan Tamr Hindi (asam). (ARN)

Sumber: Mehr News

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 29538 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.