Polisi Cinta Sunnah Virus Radikal di Tubuh Polri

Polisi Cinta Sunnah Virus Radikal di Tubuh Polri
Ilustrasi

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Tulisan Makmun Rasyid menceritakan bagaimana institusi Kepolisian disusupi oleh kelompok-kelompok Radikal.

“Polisi Cinta Sunnah” menjadi virus tersendiri di internal kepolisian. Sebab yang merasuki jiwa mereka bukanlah paham yang ditradisikan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, tetapi mereka menjadi target sendiri dari kelompok Salafi Haraki dan Salafi Jihadi. Dua kelompok inilah, yang banyak melahirkan teroris-teroris dimana-mana.

Hal itu diceritakan olehnya, belakangan ini, di kota kelahiran saya, Gorontalo, muncul kelompok Polisi Cinta Sunnah. Sebagaimana namanya, kelompok ini beranggotakan para personel kepolisian yang masih aktif, namun memiliki ekspresi keagamaan yang sama.

BACA JUGA:

Dari nama saja sudah menandakan bahwa mereka tidak akan pernah sepaham dengan selain kelompoknya. Istilah “Polisi Cinta Sunnah” menjadi virus tersendiri di internal kepolisian. Sebab yang merasuki jiwa mereka bukanlah paham yang ditradisikan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, tetapi mereka menjadi target sendiri dari kelompok Salafi Haraki dan Salafi Jihadi. Dua kelompok inilah, yang banyak melahirkan teroris-teroris dimana-mana.

Seharusnya Polri menindak tegas perkumpulan sempalan ini. Karena Polri tidak memiliki sayap bernama “Polisi Cinta Sunnah”, apalagi memuat di dalamnya ada logo yang mencantumkan tanda Tri Brata, yang identik dengan institusi Polri.

Polisi Cinta Sunnah Virus Radikal di Tubuh Polri
Ilustrasi

Seharusnya Polri menindak tegas perkumpulan sempalan ini. Karena Polri tidak memiliki sayap bernama “Polisi Cinta Sunnah”, apalagi memuat di dalamnya ada logo yang mencantumkan tanda Tri Brata, yang identik dengan institusi Polri.

Dan di Gorontalo, jangan dianggap orang-orang itu yang ada di dalam foto ini saja. Bahkan tak jarang di antara mereka, ada yang “taqiyyah” (menyembunyikan identitas mereka) dan ada pula yang terang-terangan.

BACA JUGA:

Di lapangan, ketika mereka dihadapkan untuk memilih: antara institusi kepolisian atau gerakan yang diikutinya, maka tak jarang mereka keluar dari institusi kepolisian. Salah satu alasan yang kerap kita temukan di lapangan seperti “jabatan bukan seumur hidup, tapi belajar agama selama-lamanya”.

Hal itu terkesan benar padahal salah. Menabrakkan urusan dunia dengan akhirat. Yang pemahaman itu tidak dikenal dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan dalam Bhayangkara/ri ditemukan pula seperti “saya rela dikeluarkan dari institusi kepolisian, yang penting yang hidup dalam bingkai sunnah”. Dia membayangkan bahwa pekerjaan polisi tidak bernilai ibadah… What?

Dan fenomena ini sudah terjadi 3 tahun belakangan. Tentunya, Polri dan segenap elemennya harus tegas. Semakin dibiarkan semakin keropos institusi ini dan bayangkan jika yang memegang sebuah amanah mereka yang berpaham Salafi-Wahabi atau terafiliasi dengan kelompok transnasional lainnya.

Tinggal menunggu, kapan alarm itu akan berbunyi dan kita pecah-belah…!. (ARN)

Sumber: Hwmi

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 29538 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.