KH Hasyim Asy’ari dan Konsistensi NU Bela Palestina

KH Hasyim Asy'ari dan Konsistensi NU Bela Palestina
Save Palestina

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM KH Hasyim Asy’ari dan Konsistensi NU Bela Palestina. Kiprah lembaga Nahdlatul Ulama, yang didirikan Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah ini begitu besar. Bahkan gaungnya terasa hingga Palestina.

Sedari dulu, secara historis, Nahdlatul Ulama tidak pernah berhenti mendukung kemerdekaan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

BACA JUGA:

Sejarah mencatat, NU adalah lembaga terdepan dalam menggalang kemerdekaan Palestina. Pada tahun 1938, NU mengedarkan seruan kepada berbagai ormas dan Partai Islam seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, PSII dan lainnya.

KH Hasyim Asy'ari dan Konsistensi NU Bela Palestina
Save Palestina

PBNU kala itu menyerukan kepada ormas dan partai Islam untuk bersikap tegas atas apa yang dilakukan bangsa Yahudi. NU juga mendesak masyarakat muslim untuk bahu membahu membantu rakyat Palestina dalam memperjuangkan agama dan kemerdekaan mereka dari kaum Zionis penjajah.

Menggalang Massa

Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah (14 Februari 1871-25 Juli 1947 M, Jombang), pernah menggalang massa  untuk melakukan longmarch dan kampanye  besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara umat Islam yang sedang berjuang merebut kemerdekaannya di Maroko, Suriah dan Palestina melawan “Penjajah”, juga sebagai bentuk demonstrasi terhadap “Kolonial Barat”.

Diteruskan anak dan cucunya

Putranya, KH A Wahid Hasyim rahimahullah (1 Juni 1914-19 April 1953 M), kemudian meneruskan  manhaj ayahnya ini, dengan terus menggalang solidaritas umat Islam dan menentang segala bentuk penjajahan.

BACA JUGA:

Kemudian cucunya, DR KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur rahimahullah (7 September 1940-30 Desember 2009 M), juga mengikuti manhaj kakek dan ayahnya.

Hanya saja, ada sedikit perbedaan dan cara pendekatan dalam menyikapi krisis Palestina dan Israel.

Atas dasar itulah, sebagai warga Negara Indonesia dan warga Nahdliyin, sudah semestinya kita mengikuti UUD 45 dan manhaj dakwah Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah. Apalagi, jika kita menilik Amanat UUD 45, yang di dalamnya secara tegas menolak segala bentuk penjajahan. (disarikan dari kitab Waadli’u Lubnati Istiqlali Indonesiy hlm 29, karya Al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari dan sumber lainnya).

Fatwa Membaca Doa Qunut Nazilah

Dukungan NU tidak sekedar kata-kata. Jauh sebelum ramainya bantuan dana untuk Palestina saat ini, NU saat itu turut melakukan aksi penggalangan dana melalui Palestine Fonds (Dana Palestina).

PBNU pada 12 November 1938 atau bertepatan dengan 19 Ramadhan 1357 H mengedarkan sebuah seruan.

Bahkan cabang-cabang NU di seluruh Indonesia diinstruksikan untuk menjadikan tanggal 27 Rajab sebagai ‘Pekan Rajabiyah.’ Sebuah pekan yang menggabungkan perayaan Isra Miraj dengan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina merdeka.

BACA JUGA:

PBNU pun menyerukan kepada seluruh anggota NU dan umat Islam untuk melakukan Qunut Nazilah pada setiap salat fardhu.

Dalam Majalah “Berita Nahdlatoel Oelama” (BNO) edisi no. 22, tahun ke-7 (20 Redjeb 1357 H / 15 September 1938 M), termuat fatwa Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah yang menyerukan dibacakannya doa “Qunut nazilah” sebagai bentuk solidaritas sesama umat Muslim atas peristiwa yang terjadi di Palestina.

Seruan ditujukan kepada PB Al-Hidayah Al-Islamiah, PB Wartawan Muslimin Indonesia, PB Al-Islam, PB Muhammadiyah, PB Musyawaratut Thalibin, PB Al-Jam’iyatul Washliyah, PB Al-Irsyad, PB Ar-Rabitah Al-Alawiyah, PB Perserikatan Ulama Indonesia, Lajnah Tanfidziyah PSII, Pucuk Pimpinan PSII Penyadar, dan Dewan Pimpinan Majelis Islam A’la Indonesia.

Di situ juga termaktub dan disebutkan bahwa Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah, telah membacakan doa qunut nazilah tersebut sejak beberapa minggu sebelumnya. Seruan sang Hadratus Syaikh ini pun segera dijalankan oleh hampir seluruh cabang HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama/PBNU) waktu itu.

Peristiwa pembacaan doa “Qunut nazilah”, untuk Palestina inipun berjalan selama beberapa bulan lamanya. Hal ini sebagaimana tampak juga diberitakan dalam majalah BNO edisi Dzulhijjah 1357 H (Januari 1939). Tertulis di sana:

“Berkenaan dengan itoe, maka berhoeboeng dengan oeroesan Falesthin itoe, H.B.N.O. telah meminta tjabang-tjabangnja mendjalankan Qoenoet Nazilah itoe, dan soedah poela didjalankan di mana-mana tempat di Indonesia sini”.

Fatwa Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah ini, telah dirilis 83 (delapan puluh tiga) tahun yang lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kini Indonesia telah merdeka, sementara Palestina belum.

Saudara-saudara kita bangsa Palestina, masih terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaannya itu.

Tidak gentar dengan ancaman Belanda

Pernah, atas kegiatan Pekan Rajabiyah dan seruan Qunut Nazilah tersebut, pemerintah kolonial Belanda bereaksi keras. Bupati Surabaya dan Hoofd Parket (Kejaksaan Agung) memanggil  KH Mahfudz Shiddiq rahimahullah (wafat 5 Muharram 1363 H/1 Januari 1944 M Turbah, Condo, Jember), selaku ketua PBNU.

Hoofd Parket melarang Qunut Nazilah dan ‘Pekan Rajabiyah.’ Meskipun demikian, warga NU tetap melaksanakannya dengan membacanya secara sirri, tidak dilafalkan

Tak gentar dengan gertakan Belanda, Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah, kemudian merespon reaksi pemerintah kolonial.

Pada Mukatamar ke -14 Nadhlatul Ulama di tahun 1939 M, saat memberikan khotbah iftitah (pidato pembukaan).

Dalam buku KH Saifuddin Zuhri rahimahullah (1 Oktober 1919 – 25 Maret 1986 M, pada umur 66 tahun), “Berangkat dari Pesantren”, Beliau merupakan tokoh NU, yang menjabat Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Kerja III, Kabinet Kerja IV, Kabinet Dwikora I, Kabinet Dwikora II, dan Kabinet Ampera I.

Pada usia 35 tahun K.H. Saifuddin Zuhri menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merangkap juga sebagai Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat dan anggota Parlemen sementara. Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun, lalu mengangkatnya menjadi Menteri Agama ketika berusia 43 tahun.

Beliau menyebutkan dalam buku tersebut demikian: Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah, mengungkapkan, doa tersebut bukan untuk menghina golongan lain, seperti yang dituduhkan. Namun,  semata-mata sebuah kewajiban solidaritas sesama umat Islam dan perintah Nabi Besar Muhammad saw, kepada umatnya setiap menghadapi bencana. Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah, ketika itu dalam bahasa Arab mengemukakan:

“Tetapi para pembesar pemerintah meilhatnya tidak seperti yang dilihat Nadhlatul Ulama, sebab itu, melarang kita mengerjakan hal-hal yang telah lalu, yang telah kita lewati selama ini”.

Sudah terbukti, mana yang lebih dulu peduli Palestina, bukan ormas yang main klaim saja padahal lahirnya duluan NU. Karena, NU lahir pada 31 Januari 1926 jauh sebelum Indonesia lahir.

Kiprah 2009

Pada tahun 2009 lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi rahimahullah (wafat 16 Maret 2017 M)

menyatakan seruan, bahwa Bangsa Palestina harus bersatu untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. s

Selama tidak ada persatuan, khususnya antara kelompok Hamas dan Fatah, sulit untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut.”Karena konflik dalam ini dimanfaatkan Israel untuk melancarkan ‘devide et impera’, politik pecah belah”.

Di sini Indonesia bisa berperan dengan membentuk utusan khusus untuk Palestina yang salah satu tugasnya melobi negara-negara Arab agar bersatu soal Palestina.

Indonesia pernah sukses mendorong perdamaian Fatah dan Hamas yang akhirnya melahirkan Kesepakatan Mekkah antara Mahmoud Abbas dari Fatah dan Khalid Messal dari Hamas. Saat itu diplomasi dilakukan Menlu Hassan Wirajuda, mantan Menlu Ali Alatas, dan Sekjen Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (ICIS) Hasyim Muzadi. Menurut Hasyim, untuk berdiplomasi ke negara-negara Arab, PBNU melalui ICIS juga akan berperan melalui jalur diplomasi non pemerintah.

Setelah kedua hal itu bisa diselesaikan, langkah berikutnya adalah mendorong masyarakat dunia untuk turut menciptakan perdamaian hakiki di Timur Tengah.”Ini bisa dilakukan jika kedua hal itu, yakni persatuan bangsa Palestina dan dukungan negara-negara Arab, bisa diwujudkan.

Seruan PBNU 2017

Hal yang sama dilakukan oleh PBNU 79 tahun setelahnya, yakni tepatnya pada Desember 2017 ketika Amerika berupaya untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel. PBNU saat itu mengeluarkan Surat Nomor 1693/C.I.34/12/2017 yang berisi Instruksi Pembacaan Doa Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Solidaritas Palestina.

Surat tersebut ditujukan kepada pengurus NU di semua tingkatan, pimpinan pondok pesantren, dan segenap warga Nahdliyin dan negara Muslim beserta kaum muslimin di seluruh dunia.

Konsistensi dukungan

Maka tidak heran dukungan NU kepada bangsa Palestina, membuat bangsa Arab begitu bangga. Indonesia, yang kala itu juga sedang terjajah, tidak pernah melupakan nasib saudaranya di Palestina. Itupun yang menggerakkan kecintaan rakyat Palestina kepada Bangsa Indonesia hingga kini.

Apakah hanya itu? Tentu tidak. Sampai detik ini, NU lewat Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf, melakukan kunjungan ke Israel.

Tidak didukung, eh malah diserang dengan cacian, makian, dan berita hoax menyebar ke mana-mana.

Tak cukup KH Yahya Cholil Staquf, pada Jumat 22 Juni 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan pertemuan dengan Kedubes Palestina di Kantornya untuk mengkaji banyak hal-hal strategis. PBNU datang berjamaah untuk menindaklanjuti kemerdekaan Palestina.

NU 2020

Pemerintah-NU sepakat perkuat kerjasama Perjuangkan Kemerdekaan Palestina.

Isu kemerdekaan Palestina menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan Menlu Retno dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, 11 Februari 2020 lalu, yang berlangsung di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Senen, Jakarta Pusat

Keduanya sepakat, untuk terus konsisten dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Pertemuan  ini memuat komitmen pemerintah dalam isu Palestina. Lewat Menlu Retno Marsudi, pemerintah juga mengingatkan, jika perjuangan kemerdekaan Palestina memerlukan kerjasama dari banyak pihak

Seruan 2021

Serangan pasukan Israel yang masih diluncurkan kepada warga sipil Palestina, mengundang duka dan simpati dari berbagai rakyat dunia, termasuk salah satu tokoh berpengaruh di Tanah Air.

Ikut merasakan kesedihan yang sama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj langsung berkunjung ke kediaman resmi Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun di Menteng, Jakarta Pusat pada Senin malam, 17 Mei 2021.

Dalam pertemuan tersebut, Said Aqil Siradj menyampaikan dirinya bersama rakyat Indonesia, mengecaman keras agresi militer yang lancarkan tentara Israel terhadap warga Gaza, Palestina.

Tak hanya itu, kehadirannya juga untuk mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komunitas Internasional untuk segera mengambil langkah cepat dan tepat untuk menyepakati gencatan senjata dan menghentikan agresi militer pasukan Israel, yang bertujuan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan.

Said Aqil Siradj menegaskan bahwa agresi Israel terhadap Palestina untuk kesekian kalinya telah menimbulkan nestapa bagi kemanusiaan. Oleh sebab itu, ia mendorong pemerintah Indonesia untuk menggalang dukungan dan mengambil upaya mewujudkan kedaulatan Palestina, serta mengakhiri konflik kemanusiaan yang terjadi, sehingga menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

5 poin pernyataan sikap PBNU

Ada lima poin pernyataan sikap PBNU yang dibacakan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Sirodj, usai melakukan pertemuan tersebut:

Pertama, mengutuk keras dan mengecam keras agresi Militer Israel yang telah memporakporandakan Palestina, merenggut nyawa-nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Hentikan segera agresi Militer Israel terhadap Palestina. Ini merupakan tragedi kemanusian yang tidak bisa dibiarkan dan ditolerir.

Kedua, bahwa PBNU mendorong upaya gencatan senjata dari kedua belah pihak, agar bantuan kemanusian bisa masuk dan kondisi Palestina pulih seperti sedia kala.

Ketiga, PBNU mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional untuk segera melakukan langkah cepat menyepakati gencatan senjata. Ini sebagai bagian dari tanggung jawab komunitas internasional dalam menyikapi konflik yang menciderai kemanusian.

Keempat, PBNU mendorong pemerintah Indonesia untuk menggalang dan mengambil upaya penting dalam mewujudkan Pancasila, sekaligus mengakhiri konflik kemanusian yang terjadi, sehingga menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

Kelima, PBNU mendukung kemerdekaan Palestina, sebagaimana yang dinyatakan dalam Muktamar ke-13 NU di Menes, Banten tahun 1938.

Bagi kami, Palestina adalah bangsa berdaulat, Kami juga mendorong seluruh pihak untuk melakukan dialog agar kekerasan tidak terjadi lagi dalam upaya penegakan kedaulatan Palestina.

Buat semaksimal yang bisa kita lakukan, demi menjaga solidaritas sesama Muslim, demi terhapusnya penjajahan di muka bumi dan demi tegaknya hak2 asasi kemanusian yang menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan dan kedaulatan.

Berikut doa Qunut Nazilah Untuk Saudara Muslim di Palestina yang dirilis PBNU pada 12 November 1938 M.

أَللَّهُمَّ الْعَنِ اْلكَفَرَةَ الَّذِيــْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سُبُلِكَ وَيــُكَذِّبُوْنَ عَنْ رُسُلِكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيـَـاءَكَ .أَلـلَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ.

أَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَاتِهِم .أَلـلَّهُمَّ شَتــِّتْ عَمَلَهُمْ .أَلـلَّهُمَّ مَزِّقْ جَمْعَهُمْ .أَلـلَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنــْزِلْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِميْنَ .أَلـلَّهُمَّ انــْظُرْ وَانْْصُرْ إِخْوَانَنَــا مُسْلِمِي فَلَسْطِيْنَ ٣×، وَاكْشِفْ كُرُوْبَهُمْ، وَثـَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَهْلِكْ أَعْدَاءَهُمْ .أَلـلَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ .أَلـلَّهُمَّ أصْلِحْ أُمََّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .أَلـلَّهُمَّ ارْحَمْ أُمََّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

“Ya Allah, laknatlah oran-orang kafir, yaitu mereka yang menghalang-halangi jalan-Mu, mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para kekasih-Mu.

Ya Allah keraskanlah injakan-Mu atas mereka, dan limpahkanlah murka dan siksa-Mu atas mereka.

Ya Allah, jadikanlah berselisih ucapan-ucapan diantara mereka.

Ya Allah hancurkanlah perbuatan mereka. Ya Allah, koyak-koyaklah jama’ah mereka.

Ya Allah, goncangkanlah pendirian mereka, dan turunkanlah pada mereka siksa-Mu yang tidak Engkau kembalikan dari kaum yang durhaka.

Ya Allah lihatlah dan tolonglah saudara-saudara kami muslim Palestina 3×.

Ya Allah hilangkanlah kesusahan-kesusahan mereka.

Teguhkanlah pendirian mereka. Hancurkanlah musuh-musuh mereka.

Ya Allah tolonglah umat Baginda Nabi Muhammad Saw. Ya Allah berikanlah perdamaian untuk umat Baginda Nabi Muhammad Saw.

Ya Allah limpahkanlah rahmat bagi umat Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam”.

Semoga Allah menambahkan rahmat kemuliaan dan kedamaian kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga dan sahabatnya.

Doa Qunut Nazilah merupakan salah satu bentuk perhatian para ulama NU terhadap hak-hak kemanusiaan, termasuk pada nasib Palestina yang saat itu telah dijajah Zionis. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 30100 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.