Dina Sulaeman: Kemenangan Assad Buyarkan Mimipi Teroris dan Kelompok Khilafah

Dina Sulaeman: Kemenangan Assad Buyarkan Mimipi Teroris dan Kelompok Khilafah
Dina Sulaeman: Kemenangan Assad Buyarkan Mimipi Teroris dan Kelompok Khilafah

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Pengamat Geo Politik Timur Tengah Dina Sulaeman menjelaskan tentang kemenangan Bashar Assad dalam pilpres Suriah buyarkan mimpi teroris dan kelompok khilafah kuasai Suriah.

Kemenangan Assad di pilpres 2021 jelas menunjukkan kekalahan telak bagi IM. Mereka tidak berhasil mendapatkan dukungan mayoritas rakyat Suriah. Mereka kini malah sudah identik dengan teroris karena memang terbukti melakukan aksi-aksi terorisme di Suriah

Menurut Dina, Bashar Assad menang pemilu untuk ke-2 kalinya pasca perubahan UUD Suriah. Kalau dihitung sejak masa ia pertama kali jadi presiden, ini adalah periode ke-4 kalinya.

BACA JUGA:

Dulu, menurut UUD Suriah, seorang kandidat boleh ikut pilpres sampai selamanya. Tapi, menyusul aksi-aksi demonstrasi di tahun 2011-2012 awal, Assad melakukan berbagai upaya reformasi, memenuhi tuntutan para demonstran, antara lain, perubahan UUD mengenai masa jabatan. Kini, seseorang hanya boleh jadi presiden 2 kali berturut-turut (seperti di Indonesia). Masa jabatannya 7 tahun.

Dina Sulaeman: Kemenangan Assad Buyarkan Mimipi Teroris dan Kelompok Khilafah
Presiden Suriah, Bashar Assad

Perubahan UUD itu disahkan melalui referendum nasional. Seharusnya, segera dilakukan pemilu. Tapi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, bekerjasama dengan milisi-milisi Al-Qaida (yang kemudian menjelma jadi ISIS) malah angkat senjata. Tuntutan yang awalnya adalah perbaikan dalam sistem demokrasi, tiba-tiba berubah jadi “Mendirikan khilafah di Suriah”.

Karena perang, pemilu yang didasarkan oleh UUD yang baru itu, terlaksana tahun 2014. Saat itu Assad menang.

Tentu saja, yang setuju Suriah berubah jadi “Khilafah” ya cuma orang-orang IM, Hizbut Tahrir, dan milisi Al-Qaida (dengan berbagai nama). Rakyat Suriah mayoritasnya tetap ingin demokrasi. Makanya milisi-milisi “Pemberontak” itu tidak banyak dapat dukungan dari rakyat Suriah sehingga merekrut “Jihadis” dari seluruh dunia, termasuk INDONESIA.

BACA JUGA:

Makanya, rakyat Suriah memilih berdiri bersama Bashar Assad. Sebagiannya, termasuk kaum perempuan, bergabung dengan pasukan sukarelawan, melawan para teroris. Kini, di pilpres 2021, mereka kembali memilih Assad.

Karena IM dan HT serta Al-Qaida punya “Cabang” di Indonesia (dengan berbagai nama ormas), jelas kondisi di Suriah berimbas ke Indonesia. Saya sudah cerita panjang lebar di ratusan (mungkin sudah mencapai ribuan, karena saya menulis soal Suriah sejak 2011) dan di dua buku saya.

Kemenangan Assad di pilpres 2021 jelas menunjukkan kekalahan telak bagi IM. Mereka tidak berhasil mendapatkan dukungan mayoritas rakyat Suriah. Mereka kini malah sudah identik dengan teroris karena memang terbukti melakukan aksi-aksi terorisme di Suriah. Akibat syahwat kekuasaan, ingin berkuasa di Suriah, IM mau bergabung dengan teroris. Meski mereka mengklaim sedang jihad, tapi jejak digital tidak bisa dihapus, mereka terbukti selama ini bekerjasama dengan Al-Qaida dan ISIS.

Seandainya mereka mau mengikuti saja proses demokrasi yang ada (tidak tergoda angkat senjata), bikin partai, bukan tidak mungkin pada akhirnya mereka berkuasa. Mungkin bukan di pilpres 2021, tapi pilpres selanjutnya (karena Assad sudah tidak bisa maju lagi).

Akibat syahwat kekuasaan di Suriah, kini faksi IM di beberapa negara dilabeli teroris. Di Indonesia, para pengikut IM masih “Aman.” Tapi kaum moderat sudah paham, mereka inilah yang sering bikin onar dalam percaturan politik dalam negeri.

BACA JUGA:

Yang paling sial, gara-gara posisi IM yang salah fatal di Suriah, upaya pembelaan terhadap Palestina di Indonesia pun rada kocar-kacir.

Kubu ZSM dengan gencar menyamakan SEMUA para pembela Palestina SAMA dengan “Pendukung teroris” hanya gara-gara faksi IM di Indonesia mengaku bela Palestina.

Sebaliknya, faksi IM di Indonesia pun tetap bertahan dengan narasi sektarian mereka, memfitnah Iran yang jelas-jelas bantu Palestina, baik secara diplomatik maupun teknologi persenjataan. Mereka ini memang ga pernah mau belajar, keras kepala, dan takfiri.

Di sinilah pentingnya kaum moderat tetap bersuara membela Palestina. Jangan sampai ruang ini diisi oleh “Mereka” melulu. Jangan sampai yang muncul di TV membela Palestina ustad-ustad mereka melulu sehingga kembali meraih dukungan publik; sementara pembicara yang lain sok-sok netral.

Padahal kebijakan luar negeri kita sudah jelas, Presiden dan Menlu sudah jelas posisinya: KITA MEMBELA BANGSA PALESTINA sampai mereka meraih kemerdekaannya. Membela Palestina sama sekali tidak sama dengan pembelaan pada kaum radikal dan takfiri. Selamat untuk Bangsa Suriah. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Dina Sulaeman

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 30062 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.