Israel dan AS Panik atas Kemenangan Ebrahim Raisi

Israel dan AS Panik atas Kemenangan Ebrahim Raisi
Ayatullah Ali Khamanei dan Ebrahim Raisi

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM Dengan terpilihnya Ebrahim Raisi menggantikan Hassan Rohuani dari ‘Kubu reformis’, menandakan dimulainya fase baru di Iran.

Kekuatan sayap ‘revolusioner’ yang lebih kuat dari sebelumnya, untuk pertama kalinya akan mengendalikan ketiga cabang pemerintahan -legislatif, yudikatif, dan eksekutif- di bawah pengawasan langsung Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

BACA JUGA:

Pentingnya memilih figur yang kuat, tegas, dan revolusioner serta berpihak pada perlawanan, dapat diukur dari respons histeris Israel yang dimulai saat kemenangan Raisi diumumkan.

Politisi dan analis Israel yakin bahwa setelah ia menjabat pada Agustus mendatang, ia akan berusaha untuk lebih memperkuat kemampuan militer Iran dan memeperkuat pengaruhnya di dunia internasional.

Israel dan AS Panik atas Kemenangan Ebrahim Raisi
Ayatullah Ali Khamanei dan Ebrahim Raisi

Presiden Iran yang baru, yang secara luas dipandang sebagai pilihan favorit Ayatullah Khamenei untuk menggantikannya, akan menghadapi tiga tantangan utama begitu ia membentuk pemerintahannya.

Pertama, mengatasi krisis ekonomi yang menyesakkan yang melanda negara itu karena sanksi kejam AS.

Kedua, negosiasi dengan AS dan lima kekuatan besar lainnya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, yang dikenal dengan JCPOA.

Ketiga, hubungan dengan tetangga Teluk dan memposisikan Iran dalam pola pergeseran aliansi global dan kemunculan poros Cina-Rusia.

BACA JUGA:

Tantangan-tantangan ini saling terkait erat dan tidak dapat ditangani secara terpisah. Sebagai anak didik Khamenei yang telah dipersiapkan untuk posisi ini selama bertahun-tahun, Raisi dan tim ‘revolusioner’ yang dia bentuk dapat diharapkan memiliki peta jalan yang jelas tentang kemana mereka akan pergi di ketiga lini tersebut.

Bukan rahasia lagi bahwa Khamenei tidak puas dengan kinerja Rouhani dan pemerintahannya selama delapan tahun terakhir, terutama kegagalan mereka untuk mencapai kemakmuran ekonomi dan meringankan penderitaan rakyat Iran. Penarikan Trump dari JCPOA pada 2018 dan pengenaan sanksi baru yang kejam memperburuk keadaan.

Hal ini mendorong Khamenei untuk mengubah arah, mempersiapkan landasan bagi Raisi untuk menjadi presiden, dan menanti dia untuk mengambil alih sebelum mempertimbangkan konsesi yang dibuat oleh pemerintahan Biden pada pembicaraan Wina tentang menghidupkan kembali JCPOA.

Terpilihnya Raisi diharapkan akan memperkuat tangan Iran dalam negosiasi dan meningkatkan tekanan pada AS untuk membuat lebih banyak konsesi mengenai pencabutan sanksi secara penuh dan mengakui peran Iran di Timur Tengah, terutama pemerintahan Joe Biden memerintahkan penarikan pasukan dan sistem pertahanan udara keluar dari Tengah Timur untuk fokus pada Cina dan Asia Timur.

Harapan Amerika bahwa pembicaraan Wina dapat diselesaikan sebelum Raisi mengambil alih mungkin salah tempat. Pemimpin tertinggi Iran tidak akan mau memberikan prestasi itu kepada Rohani yang ‘gagal’. Di bawah presiden barunya, Iran akan menjadi lawan bicara yang sangat berbeda. (ARN)

Sumber: Raialyoum

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 30634 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.