EKSKLUSIF: Jalur Tehran-Beirut Terbuka dan Aman bagi Poros Perlawanan

EKSKLUSIF: Jalur Tehran-Beirut Terbuka dan Aman bagi Poros Perlawanan
Gerbang Perlawanan

Tehran, ARRAHMAHNEWS.COM Banyak perang telah dilancarkan di Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina untuk mengalahkan “Poros Perlawanan” atau setidaknya menguras logistik dan jalur pasokannya. Dalam semua perang, berton-ton amunisi, bom, dan rudal dikeluarkan di kedua sisi, seringkali menghabiskan persediaan. Oleh karena itu, setiap pihak yang berperang perlu memasok ulang persenjataannya untuk konfrontasi selanjutnya, atau paling tidak, untuk menunjukkan kepada musuh kemampuan militernya yang berkembang, kesiapsiagaan, dan akses ke suplai vital.

Sebagian besar waktu, ini adalah strategi pencegahan berharga yang digunakan untuk menghindari perang. Namun, karena perang Israel 2006 di Libanon dan kemudian pendudukan AS di Irak dan Suriah timur gagal mencapai tujuan yang diinginkan AS-Israel, maka strategi bergeser ke upaya menghalangi jalur pasokan mereka (untuk memotong jalur Poros Perlawanan).

BACA JUGA:

Tujuannya adalah untuk menghentikan anggota-anggota Poros Perlawanan (Iran, Suriah, Hizbullah, Hamas, dan kelompok perlawanan Irak) dari mempersenjatai kembali diri mereka sendiri, dan untuk mencegah akses mereka ke upgrade persenjataan sebelum konfrontasi militer.

Disinilah, mulai timbul persaingan antara aliansi AS-Israel dan Poros Perlawanan untuk memegang kendali aksesibilitas jalur darat penting dari Teheran hingga Beirut.

Tujuan ini dicapai pertama kali oleh Poros Perlawanan, yang membebaskan penyeberangan Albu Kamal-al Qaem di perbatasan Suriah-Irak dan menempatkannya dengan kuat di bawah kendali mereka. Sejak saat itu, penyeberangan ini juga menjadi pusat pasokan komersial dan konsumen penting yang alirannya coba dihentikan oleh AS dengan menjatuhkan sanksi keras terhadap Iran dan Suriah untuk mencegah Irak memberikan dukungan apa pun. AS sudah mencoba (cara ini habis-habisan), tetapi gagal.

EKSKLUSIF: Jalur Tehran-Beirut Terbuka dan Aman bagi Poros Perlawanan
Gerbang Perlawanan

Kekalahan signifikan Amerika ini, mungkin tak diakui. Namun cukup menjadi bukti kemenangan Poros Perlawanan bahwa apa pun dan semua yang ingin mereka angkut melalui Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon, bisa mencapai tujuannya, tanpa hambatan.

Perjalanan dari kota Qusayr di Suriah, di perbatasan Lebanon, ke Palmyra (Tadmur) aman meskipun ada puluhan pos pemeriksaan di sepanjang jalan. Tentara Suriah mengendalikan daerah itu dan mencegah siapa pun melakukan perjalanan antar provinsi tanpa dokumentasi yang sah. Banyak warga Suriah dari provinsi-provinsi ini sebelumnya melarikan diri ke daerah-daerah aman demi menghindari kekuasaan ISIS. Kini mereka telah kembali ke rumah-rumah yang mereka tinggalkan.

BACA JUGA:

Badiyah Suriah juga menjadi relatif aman setelah berbulan-bulan serangan membabi buta oleh sisa-sisa ISIS terhadap pelancong. Menurut petugas keamanan, sebagian besar militan ISIS adalah penduduk daerah itu dan sekitarnya, dan melarikan diri ketika ISIS dikalahkan oleh pasukan sekutu Suriah pada 2017 dan 2018.

Sejak itu, brigade keamanan khusus telah dikerahkan dari Palmyra ke Deir Ezzor, sementara yang lain terus berpatroli di padang Suriah untuk memburu militan ISIS. Namun, masih tidak aman untuk melakukan perjalanan melalui Badiyah, dan jalan utama yang digunakan adalah melalui Sukhnah, Kabajeb, Asholah, dan Deir Ezzor. Dari Deir Ezzor ke perbatasan Irak. Rute melalui al Mayadeen, al Salehiya, dan Albu Kamal aman dan terlindungi dengan baik.

Ketika keputusan dibuat untuk membersihkan jalur dan melenyapkan ISIS di kota-kota di sebelah timur Sungai Efrat, Tentara Suriah dan sekutunya berusaha membebaskan wilayah perbatasan al-Tanf dengan Irak. Saat itu Jet AS melakukan intervensi, menyerang brigade, menyebabkan lebih dari 50 korban di pihak Suriah demi mencegah kekalahan ISIS. Ruang operasi militer bersama Poros Perlawanan memahami bahwa rencana AS adalah untuk memutuskan (mengisolasi) Suriah dari tetangganya, dimana perbatasannya dengan Yordania sudah ditutup.

EKSKLUSIF: Jalur Tehran-Beirut Terbuka dan Aman bagi Poros Perlawanan
Qassem Soleimani dan Hassan Nasrallah

Mendiang Brigadir Jenderal Qassem Soleimani, kepala Brigade Quds di Korps Pengawal Revolusi Iran saat itu, secara pribadi mengambil bagian dalam serangan terhadap al Mayadeen dan Albu Kamal, bahkan sebelum pembebasan Deir Ezzor. Soleimani ingin mencapai dan mengendalikan perbatasan Suriah-Irak sebelum Amerika, karena khawatir akan pembentukan “tanah tak bertuan” oleh AS untuk mencegah jalan bebas hambatan antara Irak dan Suriah.

BACA JUGA:

Mendiang Jenderal Druze Suriah Issam Zahreddine (yang kemudian tewas oleh ranjau setelah mengalahkan ISIS di Deir Ezzor) saat itu bertempur bersama Pasukan Khusus al-Radwan Hizbullah, dan berhasil mencegah ISIS mengambil alih bandara Deir Ezzor dan sebagian kota. AS yang meskipun melakukan intervensi dengan serangan udara yang membunuh dan melukai lebih dari 200 petugas Suriah gagal menolong ISIS. Ketika keputusan diambil untuk membebaskan seluruh provinsi, Soleimani tidak terlalu fokus dengan kota itu karena Pasukan Khusus Suriah (Brigade Harimau) yang didukung Rusia sudah menghancurkan posisi ISIS di sana.

Soleimani mengoordinasikan upayanya dengan perlawanan Irak, memburu ISIS di sepanjang perbatasan antara Suriah dan al Qaem Irak, untuk menyudutkan dan melenyapkan kelompok teroris di kedua sisi. Setelah pertempuran sengit, Albu Kamal dan al Qaem dibebaskan, menjadi satu-satunya penyeberangan perbatasan yang jatuh ke tangan Tentara Suriah dan sekutunya. Suriah tidak lagi terisolasi dari sekitarnya. Jalan antara Teheran, Bagdad, Damaskus, dan Beirut terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak era Saddam Hussein, berada dibawah kendali Poros Perlawanan.

Jalur laut tidak cukup untuk mengangkut semua kebutuhan Poros ini. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk membuka jalur darat dengan segala cara. AS dan Israel mengetahui rencana tersebut tetapi tidak bisa menghentikannya.

Jika kita berkendara dari Deir Ezzor ke Albu Kamal sekarang, sungai Efrat menawarkan pemandangan burung langka yang bermigrasi ke daerah ini karena tidak lagi sering dikunjungi. Banyaknya rumah terbengkalai dan rusak di sepanjang rute mengingatkan orang yang lewat akan keganasan perang. Pos pemeriksaan Tentara Suriah sangat ketat untuk mencegah kunjungan dari siapa pun yang tidak tinggal di provinsi tersebut. Amerika menguasai sisi lain sungai. Sumur minyak dan gas dapat dilihat dari jauh dengan mata telanjang.

Secara umum, masih ada sisa-sisa militan ISIS di daerah ini, dengan jihadis asing mewakili sebagian kecil dari para pejuang. Ini adalah alasan lain mengapa tidak aman untuk bepergian di malam hari. Saat malam tiba, menjadi jelas bahwa listrik belum pulih. Suara beberapa generator pribadi dapat didengar dari waktu ke waktu. Namun, pada siang hari, jumlah generator yang menyala justru melonjak, karena para petani menyalakannya untuk memompa air ke ladang mereka. Daerah ini kaya akan pertaniannya, dan meskipun AS menduduki provinsi sabuk makanan strategis Suriah, Hasaka, masih ada cukup gandum untuk didistribusikan ke provinsi-provinsi di luar Deir Ezzor.

Di gerbang Albu Kamal, sebuah papan reklame besar menyambut pengunjung dengan nama kota, potret Presiden Bashar al Assad, dan bendera nasional Suriah. Meskipun tidak ada bandingannya dengan pasar lama di Damaskus atau Aleppo, pasar sayur dan buah lokal masih berkembang dan ramai di siang hari.

BACA JUGA:

Rumah-rumah tingginya satu atau dua lantai, kebanyakan memiliki toko di lantai bawahnya. Beberapa vila pribadi menghiasi perbatasan kota. Mustahil untuk tidak melihat potret besar Brigadir Jenderal Iran Qassem Soleimani dan Wakil Komandan PMU Irak Abu Mahdi al Muhandes, (keduanya dibunuh oleh AS di Baghdad pada Januari 2020). Kedua pria itu berkontribusi pada pembebasan Irak dan Suriah dari ISIS, terutama kota Albu Kamal. Soleimani menggunakan salah satu vila pribadi sebagai markasnya ketika berada di kota itu, dan meninggalkan catatan tulisan tangan kepada pemiliknya yang meminta maaf karena menggunakan rumahnya, dan meninggalkan nomor teleponnya untuk dihubungi jika diperlukan.

Albukamal terpisah delapan kilometer dari Al Qaem di perbatasan Irak. Jalan itu penuh sesak dengan truk yang melintas terutama dari Irak, dan beberapa dari Suriah. Irak menetapkan posisi perbatasan untuk memungkinkan aliran barang ke Suriah, meskipun pada dasarnya mengikuti pedoman embargo Uni Eropa-AS yang parah di Damaskus.

Tidak jauh dari jalan utama yang dikendalikan oleh otoritas bea cukai Suriah dan Irak, ada jalan lain di mana truk transit antara Iran-Irak ke Suriah dan Lebanon. Truk-truk ini disegel sehingga tidak akan dibuka di jalan, dan diverifikasi oleh pihak berwenang Suriah sebelum mereka menyeberang ke Lebanon. Setelah bertahun-tahun berupaya, dan melewati berbagai tantangan berbahaya dalam prosesnya, Poros Perlawanan telah berhasil mengamankan rute pasokan logistiknya.

Pasukan Israel dan AS telah menargetkan daerah itu puluhan kali. Gudang, pangkalan militer, dan toko-toko besar yang terisolasi dihancurkan tahun lalu oleh jet Israel, tetapi tidak pernah berhasil memperlambat aliran pasokan, atau pengisian kembali barang dan struktur yang dihancurkan oleh angkatan udaranya.

Israel juga membom ribuan mobil, truk, dan lemari es yang diisi oleh donor Iran untuk dibagikan kepada penduduk provinsi tersebut. Iran mendapatkan kesetiaan dan hati penduduk setempat dengan menawarkan perilaku yang sangat kontras dengan apa yang dilakukan ISIS yang hanya memberi ketakutan dan hukuman kepada para penduduk ini.

Bukan rahasia lagi bahwa orang-orang Albu Kamal melihat penarikan banyak pasukan yang ditempatkan di kota. Tidak ada lagi kebutuhan untuk kekuatan yang cukup besar untuk ditempatkan secara permanen di Albu Kamal. Jalur suplai Poros Perlawanan masih aman. Iran telah membuka beberapa jalur: Tikrit-Haditha-al Qaem, Baghdad-Ramadi-al Qaem, dan Diwaniyeh-Hilla-Fallujah-al Qaem. Ini berarti, terlepas dari seribu lebih serangan Israel, baik pertukaran komersial antara Suriah dan Irak-Iran maupun jalur pasokan Poros Perlawanan tidak pernah berhenti sejak kekalahan ISIS.

Kehadiran militer Amerika di perbatasan al Tanf antara Irak dan Suriah tidak melayani kepentingan nasional AS dan tidak mewakili bahaya bagi Washington, namun hanya untuk menenangkan Israel yang putus asa (meskipun terus-menerus melakukan pengeboman terhadap Suriah) yang takut ditinggalkan sendirian untuk menghadapi Poros Perlawanan. AS memang bertindak hanya untuk melayani kepentingan Israel dengan mempertahankan ratusan prajuritnya untuk menduduki dan menghasut zona konflik di mediterania Timur.

Berapa lama Israel bisa bertahan dibawah selimut keamanan Amerika ini? Perhatikan keluarnya AS secara tiba-tiba dari Afghanistan. Dua dekade dan satu triliun dolar yang melemahkan Washington, tidak mencapai apa pun dari tujuan awal yang ditetapkan pada tahun 2001. Pengaruh politik dan ekonomi global Amerika telah menyusut jauh sejak saat itu. Ada alasan untuk percaya bahwa skenario yang sama akan terjadi cepat atau lambat di Suriah.

Pemboman udara Israel tidak pernah menghentikan Poros Perlawanan untuk terus mempersenjatai diri dan bersiap untuk melawan Tel Aviv ketika memutuskan untuk mengobarkan perang berikutnya. Hizbullah berhasil menimbun ratusan rudal presisi di bawah pengawasan mata-mata Israel tanpa mereka mampu mengubah hasilnya. Poros Perlawanan telah memenangkan pertempuran dan membuka jalannya: jalan dari Teheran ke Beirut terbuka dan aman. (ARN

Sumber: The Cradle

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 31268 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.