Menguak Apa yang Terjadi Sebenarnya di Afghanistan

Menguak Apa yang Terjadi Sebenarnya di Afghanistan
Truth Lies

Afghanistan, ARRAHMAHNEWS.COM Rata-rata orang Amerika sedang berusaha memahami apa yang baru saja terjadi di Afghanistan bulan lalu, karena semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Sebagian besar menyadari bahwa perang telah lama kalah dan telah berubah menjadi apa yang disebut perang “tanpa akhir”. Tetapi hanya sedikit yang memperkirakan perang ini akan berakhir seperti yang akhirnya terjadi.

Hampir tidak ada yang masuk akal oleh Administrasi Biden bagi mereka, dan hanya sedikit yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, di sana. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan segala istilah yang “secara politis salah” guna membantu semua orang lebih memahami tentang yang terjadi.

BACA JUGA:

Petunjuk Tentang Apa yang Akan Terjadi

Mari kita mulai dengan hasil yang mengejutkan terlebih dahulu, dan kemudian menjelaskan bagaimana hal itu terjadi. AS sekarang memiliki kemitraan parsial dengan Taliban yang sama yang masih secara resmi ditunjuk sebagai teroris, dalam upaya bersama mereka melawan kejahatan ISIS-K yang relatif lebih besar.

Menguak Apa yang Terjadi Sebenarnya di Afghanistan
Truth Lies

Rencana pasca-perang Amerika untuk kawasan juga nantinya akan mengandalkan proyek andalan Belt & Road Initiative (BRI) China dari China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) untuk memperluas pengaruh ekonominya di Afghanistan dan Asia Tengah, meskipun secara resmi berada di era Perang Dingin Baru dengan Beijing.

Kemitraan anti-teroris AS-Taliban yang “luar biasa” bukan sesuatu yang sempurna, bukan pula sesuatu yang diinginkan oleh keduanya. Namun ini ditempa oleh kepentingan bersama selama dua minggu terakhir penarikan Amerika dari Kabul.

Taliban melindungi Amerika dari para teroris meskipun mereka secara resmi masih ditunjuk oleh pemerintah Amerika sebagai teroris, karena mereka berharap Washington akan terus memberikan beberapa tingkat dukungan untuk Afghanistan setelah perang berakhir, bahkan jika dukungan itu secara tidak langsung, melalui organisasi internasional.

PAKAFUZ

Itulah tepatnya apa yang juga direncanakan AS, meskipun tidak secara langsung. Sebagaimana dibuktikan oleh “Quad Baru” yang didirikan antara dirinya, Pakistan, Afghanistan, dan Uzbekistan pada akhir Juli yang secara eksplisit didasarkan pada mempromosikan konektivitas regional.

BACA JUGA:

Struktur ini secara strategis terdiri dari tiga negara yang sepakat pada bulan Februari untuk membangun jalur rel kereta api (yang sementara dapat disebut PAKAFUZ sesuai inisial dari nama masing-masing negara peserta) yang pada akhirnya akan menghubungkan Asia Tengah ke Laut Arab melalui Afghanistan.

Proyek infrastruktur ini sejalan dengan “Strategi Untuk Asia Tengah 2019-2025” dari Administrasi Trump sebelumnya yang diluncurkan pada Februari 2020 hanya beberapa minggu sebelum kesepakatan damai AS-Taliban pada akhir bulan itu.

Strategi ini pada dasarnya menyerukan penggunaan sarana ekonomi untuk memperluas pengaruh Amerika di wilayah yang lebih luas, dengan tujuan mengurangi ketergantungan strategis yang berpotensi tidak proporsional dari negara-negara kawasan pada saingan AS, China dan Rusia.

Penjagaan Taliban Amerika yang Ramah China

Ironisnya adalah bahwa hal itu pasti akan mengakibatkan AS mengandalkan CPEC BRI di Pakistan, terlepas dari Perang Dingin Baru China-Amerika yang sedang berlangsung. Dimana ini adalah terlalu “secara politis tidak benar” untuk dikatakan oleh pejabat Amerika mana pun dari sudut pandang manapun. Meskipun itu adalah kebenaran strategis.

Yang lebih mengejutkan lagi bagi publik AS adalah fakta, bahwa sejak awal Taliban selalu diandalkan untuk menjaga proyek ini, melalui rencana AS memasukkannya ke dalam rencana pemerintahan transisi yang seharusnya telah dibentuk sebelum penarikan berakhir.

Rencana itu menjadi kacau setelah ego mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menguasai dirinya dan dia menolak untuk mengundurkan diri sebagai prasyarat politik utama Taliban untuk partisipasi mereka. Selain itu, Administrasi Biden menolak untuk menerapkan tripwires militer selama bulan-bulan terakhir penarikannya, seperti memperjelas bahwa mereka akan secara kinetik menanggapi setiap serangan Taliban terhadap kota-kota Afghanistan, sementara pasukan AS masih di negara itu. Faktor-faktor ini mendorong kelompok tersebut untuk melakukan serangan nasional yang menentukan.

Dilema Biden

Dalam pembelaan Biden, menyerang Taliban dengan dalih apa pun akan menjadi pelanggaran terhadap kesepakatan Administrasi Trump dengan kelompok itu dan akan memprovokasi mereka untuk menyerang pasukan Amerika yang akan mundur, sehingga akan menyabotase proses dan mungkin akan mengarah pada kelangsungan perang.

Meski beberapa pihak sejak itu mengklaim bahwa ia seharusnya menarik peralatan militer AS yang diberikannya kepada sekutu Tentara Nasional Afghanistan (ANA). Itu akan menyebabkan kepanikan dan mempercepat keruntuhan mereka karena kurangnya kepercayaan.

Administrasi Biden berada dalam dilema, yang sebagian besar disebabkan oleh kegagalan intelijen manusia AS di sana selama dua dekade terakhir, serta ekosistem membohongi diri sendiri yang diciptakan oleh anggota militer permanen, intelijen, dan birokrasi diplomatik (Deep State). Pentagon benar-benar (meskipun salah) percaya bahwa ANA yang lebih besar dan lebih lengkap akan memerangi Taliban dan bahwa pemerintah Afghanistan tidak akan runtuh, paling cepat sampai akhir tahun.

Kebenaran Tentang Taliban

Apa yang gagal disadari selama ini adalah bahwa Taliban telah berhasil mengubah citra dirinya sebagai gerakan pembebasan nasional di mata 75% mayoritas warga pedesaan Afghanistan, meskipun masih ditetapkan sebagai teroris oleh Rusia dan lainnya. Hal ini menghasilkan simpati yang sangat besar di antara banyak anggota ANA yang sama yang seharusnya melawan mereka. Serta banyak minoritas negara, yang terakhir berdamai dengan hidup di bawah kekuasaan mereka, setelah Taliban membiarkan minoritas bergabung dengan jajaran kepemimpinan mereka.

Kesimpulan yang “salah secara politis” adalah bahwa Taliban telah memenangkan hati dan pikiran yang jauh lebih banyak daripada AS dan pemerintah proksinya, yang juga berarti bahwa Pentagon tanpa disadari akhirnya melatih banyak simpatisan Taliban di ANA, yang kemudian sebagian besar menyerah secara massal setelah kelompok tersebut mendekati gerbang kota mereka. Itu sebabnya Taliban mampu menyita begitu banyak peralatan militer AS. Seandainya AS tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan selama ini, kemungkinan besar AS akan menarik semuanya sebelumnya.

Kemitraan Parsial AS-Taliban

Sebaliknya, para pembuat keputusan Amerika (baik militer maupun politik) tidak menyadari betapa populernya perjuangan pembebasan nasional Taliban di antara orang-orang Afghanistan, terutama mereka yang berada di ANA dan di bagian utara negara yang mayoritas minoritas. Meskipun Taliban masih secara resmi ditetapkan sebagai teroris oleh AS, musuh mereka (yaitu AS) bergantung pada mereka karena kebutuhan untuk melindungi banyak orang Amerika yang tertangkap dalam serangan dan tidak dievakuasi sebelumnya.

Taliban memastikan bahwa sebagian besar dari mereka mencapai bandara dengan selamat dan dengan demikian membuktikan kepada pemerintah Amerika bahwa penunjukan mereka sebagai teroris sudah ketinggalan zaman, terutama mengingat perjuangan bersama mereka melawan ISIS-K. Semua dinamika ini seharusnya jelas bagi pengamat objektif manapun, tetapi sebagian besar dari mereka di seluruh dunia sangat terkejut dengan kecepatan di mana semua yang mereka pikirkan tentang konflik terbalik, sehingga mereka tidak dapat menilai secara akurat apa yang terjadi.

Terlalu Sedikit, Terlalu Terlambat

Lebih jauh lagi, Administrasi Biden, seperti tiga pendahulunya, tidak pernah sepenuhnya jujur kepada rakyat Amerika dan gagal menjelaskan semua ini kepada mereka sebelumnya seperti yang seharusnya dilakukan. Presiden bagaimanapun akhirnya membicarakan beberapa tema ini dalam pidatonya baru-baru ini, tetapi terlalu terlambat untuk membentuk kembali persepsi dan meyakinkan semua orang bahwa sebisa mungkin AS menjadikan semuanya berada dibawah kendali dalam keadaan yang sangat sulit ini.

Pidato (Biden) juga bersifat defensif dan karena itu berpotensi tidak benar karena penjelasannya terjadi hanya setelah pemerintahannya berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bahkan jika prediksi tentang segalanya tepat pada awal serangan cepat nasional Taliban, menjadi semakin jelas bahwa “deep state” benar-benar salah memperkirakan dinamika di lapangan. Masih akan terlalu mendadak penjelasan yang harus diterima rakyat Amerika karena mereka telah dibohongi begitu lama tentang perang.

Kebenaran Mentah

Dapat dimengerti bahwa orang-orang akan merasa sulit untuk memahami bagaimana Taliban yang sama yang masih secara resmi ditetapkan oleh pemerintah mereka sebagai teroris tiba-tiba menjadi bagian dari pemerintahan inklusif sebelum penarikan selesai, dan kemudian membantu AS memerangi kejahatan yang relatif lebih besar dari ISIS- K, dan kemudian membela proyek PAKAFUZ untuk memperluas pengaruh negara mereka ke Asia Tengah yang ironisnya sebagian bergantung pada investasi BRI saingan China mereka di CPEC, yang seharusnya ditentang oleh Amerika.

Ini juga terlalu sulit untuk dipahami oleh rata-rata orang Amerika. Itulah sebabnya penjelasan mengenai apa yang “secara politis tidak benar” disembunyikan dari mereka, meskipun sebagian darinya secara bertahap diperkenalkan ke publik oleh Biden karena kebutuhan politik sejak pergerakan cepat bulan lalu.

AS bermitra dengan kelompok yang masih secara resmi dianggap sebagai teroris untuk memerangi teroris lain dan juga diharapkan menjadi kelompok pertama yang menjaga proyek konektivitas regional yang direncanakan melalui Afghanistan yang sebagian bergantung pada BRI China.

Membongkar Kebohongan Tentang Taliban & China

Kebenaran strategis ini menyanggah beberapa kebohongan besar Amerika. Yang pertama adalah bahwa Taliban tidak benar-benar teroris dalam pengertian lama dimana publik AS menganggap kata ini bermakna pemerintah mereka tidak akan bersekutu dengannya melawan pihak lain, apalagi bergantung padanya untuk melindungi warga Amerika yang dievakuasi, dan untuk proyek infrastruktur regional melalui Afghanistan pasca-penarikan.

Kedua adalah bahwa BRI tidak seburuk yang mereka yakini karena investasi CPEC-nya akan menjadi dasar bagi strategi Asia Tengah AS di masa depan.

Bahkan, PAKAFUZ dapat dianggap sebagai sintesis dari visi konektivitas strategis Amerika, China, Pakistan, dan bahkan Rusia karena melayani semua kepentingan mereka. AS dan Pakistan ingin memperluas pengaruh ekonomi mereka ke utara, China ingin memfasilitasi rencana Islamabad dalam hal ini karena PAKAFUZ secara de facto adalah perluasan utara CPEC, dan Rusia menganggap koridor ini sebagai rute menuju Samudra Hindia yang telah diperjuangkan selama berabad-abad untuk mencapainya.

Membongkar Kebohongan Tentang Rusia & Pakistan

Dua kebohongan lagi juga dibantah melalui pengamatan tambahan ini. Yang pertama berkaitan dengan Pakistan, yang dibenci banyak orang Amerika karena selama ini dilaporkan dukungan Pakistan terhadap Taliban adalah faktor utama yang memastikan kekalahan militer negara mereka di Afghanistan. Namun pemerintah mereka sekarang secara ekonomi bersekutu dengan Pakistan melalui “New Quad” dan PAKAFUZ untuk memperluas pengaruhnya di Asia Tengah melalui Afghanistan yang dipimpin Taliban, pasca-penarikan.

Kebohongan kedua berkaitan dengan Rusia. Dimana meski AS selama ini selalu berusaha untuk “menahannya”, PAKAFUZ sebenarnya akan memungkinkan Moskow untuk pertama kalinya setelah upaya selama berabad-abad, pada akhirnya berhasil untuk mencapai Samudra Hindia.

Banyak pembuat keputusan Amerika menganggap dukungan mereka pada tahun 1980-an terhadap nenek moyang mujahidin Taliban sebagian didasarkan pada upaya untuk mencegah Uni Soviet menggunakan Afghanistan sebagai papan loncatan menyerang Pakistan bagi tujuan itu, namun sekarang pemerintah mereka justru memfasilitasi tujuan konektivitas ini.

Kesimpulan

Semua ini hanya menunjukkan betapa rumitnya realitas Hubungan Internasional sebenarnya. Banyak orang Amerika mungkin menganggap tujuan strategis besar pemerintah mereka dalam hal ini sebagai kekurangan moral, etika, atau prinsip, mengingat bahwa mereka sekarang sebagian besar bersekutu dengan China, Pakistan, Rusia, dan bahkan Taliban. Padahal publik selama bertahun-tahun telah dibuat (dicuci otak) untuk berpikir bahwa keempatnya adalah musuh mereka. Tidak mengherankan jika kemudian kebenaran yang “ secara politis tidak benar” ini masih disembunyikan dari mereka oleh “deep state”. (ARN)

Penulis: Andrew Korybko

Analis politik Amerika

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 31317 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.