Afghanistan

Afghanistan Diambang Jurang Krisis Kemanusiaan

Afghanistan Diambang Jurang Krisis Kemanusiaan

Afghanistan mendekati jurang dimana krisis kemanusiaan terancam lepas kendali jika tidak segera menerima bantuan internasional yang cukup

Afghanistan, ARRAHMAHNEWS.COM Afghanistan mendekati jurang dimana krisis kemanusiaan terancam lepas kendali jika tidak segera menerima bantuan internasional yang cukup demi mencegah skenario mengerikan ini dalam waktu dekat.

Aset asing negara di AS dibekukan sementara organisasi keuangan global yang dipengaruhi Amerika seperti IMF dan Bank Dunia menangguhkan partisipasinya dalam program pinjaman mereka. Para pemimpin de facto Taliban Afghanistan tidak diakui oleh pemerintah manapun di dunia, dan sebagian besar seperti Rusia masih secara resmi menganggap mereka sebagai teroris meskipun Kremlin secara pragmatis terlibat dengan kelompok itu untuk kepentingan perdamaian dan keamanan.

BACA JUGA:

Tanpa bantuan internasional yang substansial, kelaparan dan penyakit akan segera merebak dan berpotensi memicu putaran lain konflik sipil di negara yang dilanda perang ini, yang mungkin juga bakal menyebabkan krisis pengungsi regional.

Ini adalah masalah yang sepenuhnya politis. Hasil drastis ini bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh negara mana pun bahkan yang paling sinis sekalipun. Namun reputasi buruk Taliban dan sanksi internasional terhadapnya menimbulkan hambatan serius bagi solusi apa pun yang mungkin.

Beberapa negara seperti China, Pakistan, Qatar, Turki, dan beberapa negara lainnya sudah memberikan bantuan tanpa pamrih ke Afghanistan tetapi tidak mampu mencegah krisis yang tampaknya tak terhindarkan ini, tanpa masyarakat internasional yang dengan tulus mendukung tujuan ini.

Krisis Kemanusiaan di Afghanistan

1,2 miliar dolar yang dijanjikan PBB sejauh ini masih jauh dari cukup. Direktur Jenderal Dewan Urusan Internasional Rusia (RIAC) memperkirakan bahwa bahkan dimulainya kembali secara teoritis bantuan tahunan sebesar 5 miliar dolar dari AS ke Afghanistan seperti sebelumnya, masih jauh dari perkiraan yang  cukup untuk mencegah semuanya memburuk.

Apa yang menghalangi dunia bersatu di belakang orang-orang Afghanistan adalah ketidakpercayaan terhadap para pemimpin de facto Taliban mereka. Hanya sedikit yang percaya bahwa kelompok itu telah dengan tulus bereformasi. Dan kecurigaan ini menjadi semakin parah dengan penunjukan pejabat berwenang baru-baru ini yang gagal memenuhi janji Taliban tentang inklusivitas etno-politik.

Ada kekhawatiran bahwa Taliban tidak akan ‘menghormati hak-hak minoritas dan perempuan, dan beberapa takut bahwa mungkin Taliban diam-diam mempertahankan hubungan dengan kelompok teroris.

BACA JUGA:

Mengorganisir kampanye bantuan paling ambisius dalam sejarah tidak hanya akan menyelamatkan nyawa rakyat Afghanistan dan mungkin mencegah putaran konflik sipil lain yang dipicu oleh krisis kemanusiaan yang akan segera pecah di sana, tetapi juga akan memungkinkan Taliban untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memenuhi harapan masyarakat internasional soal reformasinya.

Sederhananya, jutaan nyawa orang secara praktis disandera oleh beberapa anggota masyarakat internasional yang berpikiran politis yang memiliki ketakutan strategis tentang apa yang tampaknya seperti pemberian penghargaan kepada Taliban, padahal kelompok ini tidak memenuhi harapan mereka.

Pandangan ini juga sangat sensitif di banyak negara Barat di mana opini publik masih memainkan peran yang relatif menonjol, dalam konteks meningkatnya sentimen nasionalis selama beberapa tahun terakhir, dan terutama sebagai akibat dari proses perubahan paradigma spektrum penuh yang dikatalisasi oleh upaya komunitas internasional yang tidak terkoordinasi untuk menahan COVID-19 (“Perang Dunia C”).

Mereka mungkin tidak terima jika pemerintah mereka menjanjikan paket bantuan yang murah hati ke Afghanistan dengan mengorbankan investasi pada warga negara mereka sendiri.

Oleh karena itu, situasinya sangat rumit karena tiga masalah ini. Yaitu, mencegah bencana kemanusiaan yang akan datang di Afghanistan, tidak memberi penghargaan kepada Taliban tanpa terlebih dahulu menunjukkan bukti telah melakukan reformasi, dan menghindari apapun yang dapat memperburuk kerusuhan publik di masyarakat Barat yang sudah kesal, dan semuanya adalah sah.

Secara argumentatif, dapat dikatakan bahwa yang pertama diantara ketiga hal diatas adalah yang paling mendesak karena secara harfiah melibatkan hidup atau mati.

Lebih jauh lagi, konsekuensinya bisa sangat luas sehubungan dengan risiko destabilisasi regional yang pada akhirnya bisa menyusul.

Taliban mungkin terus mengecewakan masyarakat internasional dan banyak orang Barat mungkin merasa jijik dengan pemerintah mereka jika secara tidak langsung berkontribusi pada kelangsungan kekuasaan kelompok itu padahal masih ditetapkan sebagai teroris. Tetapi apa yang disebut “kebaikan yang lebih besar” karena menyelamatkan nyawa, mungkin akan menang.

BACA JUGA:

Oleh karena itu, diakui atau tidak, adalah sebuah pertaruhan untuk mengorganisir bantuan internasional bagi Afghanistan. Ini karena apa pun yang akhirnya dikirim mungkin masih belum cukup untuk mencegah krisis kemanusiaan, bahkan jika (bantuan itu justru) cukup untuk menyelamatkan kepemimpinan de facto Taliban di negara itu.

Sesi pembukaan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-76 minggu ini dan dimulainya Debat Umum minggu depan akan menguji kemauan internasional dalam melihat apakah mungkin untuk mengatur upaya multilateral yang berarti dalam hal ini.

Jutaan nyawa warga Afghanistan dipertaruhkan, tetapi begitu juga reputasi banyak negara dalam hal tuduhan bahwa mereka memberi penghargaan kepada Taliban tanpa melakukan reformasi terlebih dahulu dan dengan demikian mempertaruhkan kemarahan warganya.

Ini adalah pertaruhan yang tidak dapat ditanggung oleh siapapun, tetapi tetap tidak berarti bahwa semua pihak akan menang karena tidak ada solusi yang sempurna. (ARN)

*Penulis: Andrew Korybko adalah seorang analis politik, jurnalis dan kontributor tetap untuk beberapa jurnal online, serta anggota dewan ahli untuk Institut Studi Strategis dan Prediksi di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia. Ia telah menerbitkan berbagai karya di bidang Perang Hibrida, termasuk “Perang Hibrida: Pendekatan Adaptif Tidak Langsung untuk Perubahan Rezim” dan “Hukum Perang Hibrida: Belahan Bumi Timur”

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Arrahmahnews Media Terpercaya

Statistik Blog

  • 56.040.392 hit

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 7.551 pelanggan lain

Copyright © 2021 Arrahmahnews All Rights Reserved

To Top
%d blogger menyukai ini: