UEA, Saudi dan Kairo Keluhkan Kebijakan Tak Jelas AS

Amerika Serikat, ARRAHMAHNEWS.COM Surat kabar Amerika Serikat, The Washington Post, pada hari Rabu (06/10) melaporkan dalam sebuah artikel, bahwa dengan penarikan Amerika Serikat dari Afghanistan, beberapa perubahan tampaknya sedang berlangsung di Timur Tengah, dimana sekutu-sekutu AS menjajaki kemitraan regional baru dan bagaimana negara adidaya terkemuka itu tampaknya telah kehilangan sebagian dari kilauannya.

Perubahan baru itu terbukti selama tur kawasan minggu lalu oleh Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Presiden Biden. Sullivan berhenti di Riyadh, Abu Dhabi dan Kairo. Di setiap ibu kota, para pejabat menyatakan keinginan mereka untuk dukungan diplomatik dan militer AS, tetapi menyuarakan frustrasi dengan kebijakan AS yang tidak menentu.

BACA JUGA:

Uni Emirat Arab

Emir Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed, mengeluh kepada Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan bahwa penarikan AS dari Afghanistan merugikan UEA. Artikel tersebut juga mencatat bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman masih menjadi  titik ketegangan dalam hubungan AS-Saudi.

Washington Post mencatat bahwa Emir Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed, yang “sangat terganggu oleh kebijakan tak terduga Amerika Serikat,” mengusulkan kepada Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan untuk mengadakan kesepakatan keamanan yang ditandatangani antara kedua negara dengan persetujuan  Kongres, agar hubungan AS-Emirat menjadi lebih stabil.

Surat kabar itu menunjukkan bahwa “Bin Zayed, penguasa Emirat, mengeluh kepada Jake Sullivan bahwa penarikan Amerika dari Afghanistan sangat merugikan UEA, mengingat sejumlah “putranya” bertempur disana”.

Arab Saudi

Artikel itu juga menyebut bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengeluh kepada Jake Sullivan bahwa ia tidak menerima pujian Amerika atas perannya dalam memodernisasi kerajaan dan memperluas hak-hak perempuan. Sementara pejabat Amerika justru menanggapi dengan mengatakan  ada tuntutan bipartisan di Kongres bahwa Riyadh harus berbuat lebih banyak di bidang hak asasi manusia.

Des 6, 2021
MbS dan MbZ

Surat kabar itu mengatakan bahwa bagaimanapun Bin Salman saat ini masih menjadi titik ketegangan dalam hubungan AS-Saudi. Jake Sullivan mengulangi peringatan dari kunjungan pejabat AS sebelumnya, bahwa Mohammed bin Salman harus bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

BACA JUGA:

Kolom Washington Post itu juga mencatat Arab Saudi dalam perkembangan situasi saat ini sampai pada suatu kesimpulan bahwa Amerika Serikat tidak akan bisa menggulingkan para mullah di Iran. Dan stabilitas di masa depan hanya bisa akan ditingkatkan melalui investasi bersama. Dan akhirnya, ini akan menggiring dimulainya kembali hubungan diplomatik. Iran dikatakan siap untuk segera membuka kembali kedutaan di Riyadh.

The Washington Post mengatakan bahwa kepala intelijen Saudi, Khaled Al-Humaidan, memimpin kontak Saudi dengan Iran, melalui mediator Irak, mencatat bahwa ” Iran memperluas kontak ini dengan Riyadh selama era presiden baru, Ebrahim Raisi”.

Menurut surat kabar itu juga, Amerika Serikat bekerja dengan Utusan Khusus PBB Hans Grundberg pada rencana perdamaian baru di Yaman, di mana Saudi akan mengizinkan PBB untuk memantau pelabuhan Hodeidah dan bandara Sanaa. Sebaliknya, “Saudi ingin Houthi menerima gencatan senjata”.

Kairo

Washington Post menekankan bahwa sama seperti sekutu-sekutu AS di Riyadh dan Abu Dhabi, Kairo juga  mengeluh kepada Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan selama tur Timur Tengahnya, bahwa  mereka frustrasi dengan kebijakan luar negeri AS yang tidak menentu. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: