Ensiklopedia Islam

Habib Taher bin Hussein Al-Attas Diculik Orang Tak Dikenal

Hadramaut, ARRAHMAHNEWS.COM – Da’i terkenal, Habib Taher bin Hussein Al-Attas diculik orang tak dikenal di depan rumahnya di kota Tarim, provinsi Hadhramaut, Yaman Timur.

Habib Ali Al-Jufri, ulama terkenal asal Yaman, mengatakan dalam sebuah tweet “Habib Taher bin Hussein Al-Attas, diculik di depan rumahnya sekembalinya dari shalat subuh di kota Tarim.”

Baca: 

Al-Jufri menambahkan “Saya bertanggung jawab atas kepulangannya yang aman kepada istri, anak dan keluarganya, baik gubenur dan wakilnya, serta panglima militer pada khususnya, karena para penculik melarikan diri ke daerah di bawah pengaruhnya.”

Agu 7, 2022

Al-Jufri terkejut atas penculikan Habib Taher, karena ia seorang da’i yang “jauh dari politik, dan lebih memfokuskan dirinya pada masalah-masalah rumah tangga, serta memegang gelar doktor dalam spesialisasi ini.”

Tidak ada komentar langsung dari otoritas lokal di kegubernuran Hadhramaut, tentang penculikan Habib Taher bin Hussein Al-Attas, dan tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas penculikannya hingga sekarang.

Hadhramaut, yang berada di bawah kendali pemerintah, dari waktu ke waktu menyaksikan pembunuhan dan pengeboman yang menimpa sejumlah aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama dan para pendakwah, tanpa ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas hal tersebut.

Hadramaut adalah wilayah luas yang dikuasai oleh Dewan Transisi Selatan, yang mencakup separatis dan milisi pro Hadi yang didukung oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Militer Uni Emirat Arab (UEA) telah mendirikan sebuah pangkalan militer baru di provinsi Hadhramaut, Yaman Timur. Pangkalan militer baru di Bandara Al-Rayyan dibangun tanpa sepengetahuan pemerintah Hadi yang didukung Saudi. Pangkalan itu juga digunakan oleh militer Amerika dan Inggris.

Yaman telah menyaksikan perang selama hampir 7 tahun, yang telah merenggut lebih dari 233.000 nyawa, dan 80 persen dari populasi, sekitar 30 juta orang bergantung pada dukungan dan bantuan, dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menurut PBB.

Konflik tersebut telah memiliki dampak regional, sejak Maret 2015, ketika koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi melakukan operasi militer untuk menginstal ulang pemerintahan yang melayani kepentingan Amerika. (ARN)

Sumber: Daily Sabah

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: