Niluh Djelantik: Mohon Revisi Aturan Naik Pesawat Pakai PCR

Bali, ARRAHMAHNEWS.COM Pengumuman bagi pelaku perjalanan dengan pesawat terbang. Aturan perjalanan penumpang pesawat terbang yang wajib membawa hasil negatif tes Covid-19 dengan PCR berlaku mulai 24 Oktober 2021.

Selama ini, aturan perjalanan penumpang pesawat terbang cukup melampirkan hasil negatif tes Covid-19 dengan uji antigen.

BACA JUGA:

Kini, aturan perjalanan dengan pesawat terbang diperketat seiring kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diperpanjang 19 Oktober hingga 1 November 2021.

Nov 28, 2021
Foto Niluh Djelantik

Tentu saja peruahan aturan ini membuat pelaku usaha dan rakyat gigit jari. Salah satu pengusaha wanita Bali Niluh Djelantik dalam akun facebooknya meluapkan kegelisahan dan kekesalannya.

Menurut Niluh, ini ratusan komentar dari satu tulisan belum dari tulisan lainnya, DM, WA, Inbox Presiden kesayangan kami Presiden Joko Widodo, Mendagri Kemendagri_RI, Menkes Kementerian Kesehatan RI, Menpar Sandiaga Salahuddin Uno, dengarkan suara hati rakyatmu please.

Kesehatan sangat penting. Kami selalu support perjuangan pemerintah menghadapi pandemi.

Periuk nasi rakyat juga tak kalah penting pak. Mohon bantu agar roda ekonomi rakyat tetap bisa berputar dan dapur tetap bisa ngebul pak.

Selama ini kalian telah bekerja keras memperjuangkan kami.

Kali ini kami kembali meminta tolong. Kami mohon agar kebijakan syarat tes PCR dapat dipertimbangkan dan direvisi ya pak. Setuju kesayangan?.

BACA JUGA:

Please re-post dan re-share agar segera sampai ke tangan pemangku kebijakan.  Ketjup Sayang, Mbok Niluh.

Mohon Revisi aturan wajib PCR kembali menjadi tes antigen jika sudah vaksin lengkap

Baru saja ekonomi mulai menggeliat, dengan adanya aturan wajib PCR walau sudah full vaksin ini akan sangat memberatkan masyarakat, baik pelaku usaha maupun penumpang pesawat. Tidak semua penumpang pesawat itu orang kaya dan mampu mengeluarkan uang yang tak jarang lebih mahal dari harga tiket itu sendiri.

Nih contohnya:

Suami istri + 2 anak (usia 13 & 11 tahun) sudah booking tiket 2 bulan sebelum penerbangan jadwalnya 24 Oktober 2021.

  • Tiket JKT-DPS Rp. 700k/orang. Total PP sekitar Rp. 5,600,000.
  • Antigen tes Rp. 95k/orang total jadi Rp. 760,000.
  • Akomodasi permalam/kamar termasuk sarapan @Rp. 500,000.
  • Total 2 kamar x 5 hari Rp. 5,000,000.
  • Sewa mobil lepas kunci/hari Rp. 800k. Total 5 hari Rp. 4,000,000.
  • Makan siang + makan malam+tempat wisata sekitar Rp. 125k/hari/orang. Total 5 hari Rp. 2,500,000.

Total biaya kurang lebih Rp. 17,860,000. Syarat tes PCR @Rp. 495kx4x2 berarti ada tambahan biaya Rp. 3,960,000. Selisih dengan tes antigen mencapai Rp. 3,200,000.

Jika ada 1000 keluarga yang datang dengan asumsi pengeluaran diatas. Berarti ada Rp. 800 juta/hari yang bisa digunakan untuk hal lain, misal berbelanja di toko cinderamata, jasa kepang rambut, massage, dll.

Sebulannya sekitar Rp. 24 Milyar!

Bayangkan berapa usaha kecil dan masyarakat yang terbantu.

SUMBANG SARAN:

  1. Mohon revisi aturan wajib PCR tes. Untuk yang udah full vaksin. Kembalikan ke syarat hasil negatif tes Antigen.
  2. Anak-anak dibawah usia 12 tahun tes antigen saja sudah cukup. Atau ditiadakan dengan syarat orang tua full awasi.
  3. Full taat Prokes.Reward & Punishment.Tindak tegas pelanggar aturan.

Kami sangat support perjuangan pemerintah menghadapi pandemi. Sebagai bagian dari rakyat. Kami berkewajiban memberikan masukan/saran/kritik/solusi. Kami lakukan karena kami sayang dan peduli.

Kesehatan sangat penting. Isi periuk rakyat juga tak kalah penting. Semoga pemerintah segera bisa memberikan solusi/jalan keluar terbaik.

Setuju kesayangan?. Please re-post dan re-share agar sampai ke tangan pelayan kesayangan rakyat Pakde @jokowi. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: