WHO: Malnutrisi Akut Ancam Nyawa Satu Juta Anak Afghanistan

Afghanistan, ARRAHMAHNEWS.COM Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengatakan bahwa masyarakat internasional seharusnya tidak berpaling dari Afghanistan. Mereka memperingatkan bahwa setidaknya satu juta anak berisiko meninggal dunia akibat kekurangan gizi akut saat suhu mulai turun di sana pada akhir tahun ini.

“Sekitar 3,2 juta anak diperkirakan menderita kekurangan gizi parah di Afghanistan pada akhir tahun 2021,” kata juru bicara WHO kepada wartawan yang berbasis di Jenewa melalui telepon dari ibu kota Kabul.

BACA JUGA:

“Ini adalah perjuangan berat karena kelaparan melanda negara ini,” kata Margaret Harris sebagaimana dikutip Al-AhedNews, Sabtu (13/11). “Dunia tidak boleh dan tidak bisa  mengabaikan Afghanistan.”

Ia menambahkan bahwa suhu malam hari turun di bawah nol derajat Celcius, memperingatkan bahwa suhu yang lebih dingin dapat membuat orang tua dan muda lebih rentan terhadap penyakit lain.

Des 6, 2021
WHO: Malnutrisi Akut Ancam Nyawa Satu Juta Anak Afghanistan

Badan-badan bantuan telah memperingatkan kelaparan di Afghanistan karena kekeringan bertepatan dengan ekonomi yang gagal di negara itu menyusul penarikan dukungan keuangan Barat setelah pengambilalihan Taliban pada Agustus. Sektor kesehatan telah terpukul keras dimana banyak petugas kesehatan berhenti bekerja karena gaji yang belum dibayar.

 

Harris lebih lanjut mencatat bahwa orang-orang menebang pohon di beberapa tempat untuk menyediakan bahan bakar bagi rumah sakit di tengah kelangkaan yang meluas. Pejabat WHO itu tidak memiliki informasi tentang berapa banyak anak yang telah kehilangan nyawa karena kekurangan gizi tetapi menggambarkan “bangsal yang dipenuhi anak-anak kecil,” termasuk dengan bayi berusia tujuh bulan yang “lebih kecil dari bayi yang baru lahir.”

BACA JUGA:

Ada peningkatan kasus campak di Afghanistan dari saat WHO menunjukkan bahwa 24.000 kasus klinis telah dilaporkan.

“Untuk anak kurang gizi, campak adalah hukuman mati. Kita akan melihat lebih banyak kematian jika kita tidak bergerak cepat,” kata Harris.

Pemerintah Afghanistan sebelumnya runtuh pada 15 Agustus dalam menghadapi serangan kilat oleh Taliban. Pada 7 September, Taliban mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara di Afghanistan. Bahkan sebelum pengambilalihan, lebih dari 18 juta warga Afghanistan membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak. Konflik dan kekerasan yang terus berlanjut juga membuat lebih dari 3,5 juta orang kehilangan tempat tinggal, termasuk sekitar 630.000 orang yang terlantar selama tahun 2021. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: