Mengapa Pembebasan Ma’rib Akan Hancurkan Saudi dan Guncang Asia Barat 2

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COM Lanjutan dari artikel The Cradle sebelumnya “Mengapa Pembebasan Ma’rib akan hancurkan Saudi dan mengguncang Asia Barat“.

Akankah Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman yang juga menteri pertahanan, yang mempelopori perang melawan Yaman, menerima fait accompli ini? Ataukah Arab Saudi akan terus membom Yaman selama enam tahun lagi?.

BACA JUGA:

Dengan begitu banyak pengalaman kemenangan tak terduga, Ansarullah sekarang dalam posisi menjadi penentu keputusan Saudi ini. Tahun ini saja, mereka telah membom Aramco dan bandara Saudi sebagai pembalasan atas serangan udara di Sana’a.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Riyadh jelas memahami korelasinya, mengebom Sana’a berarti Aramco akan terkena serangan, dan meskipun perang masih berlangsung sengit, pencegahan penting telah dilakukan.

Pada bulan September, selama perang di Ma’rib, pemimpin Ansarallah Abdul-Malik al-Houthi mengatakan: “Kami akan membebaskan seluruh negara kami dan memulihkan semua wilayah yang diduduki oleh agresi yang dipimpin Saudi.”

Setelah jatuhnya Ma’rib, Arab Saudi tidak akan pernah sama lagi. Setelah menghabiskan semua chip dan kekayaan besar untuk membawa Houthi berlutut, pengaruh Riyadh di dunia Arab dan Muslim justru  menurun.

Melalui proxy dan sumbangan keuangan yang besar, Saudi secara historis menguasai komunitas Muslim dan mendikte kebijakan seluruh negara-negara (muslim). Namun dalam perang langsung sebenarnya, yang dipimpin oleh salah satu negara terkaya di dunia (Saudi) melawan salah satu negara termiskin (Yaman), Saudi kalah telak.

BACA JUGA:

Setelah jatuhnya Ma’rib, posisi UEA kurang jelas, tetapi pada akhirnya akan dihadapkan pada satu dari dua pilihan: menyerah pada tuntutan Ansarullah, atau menghadapi pembalasan di Dubai dan Abu Dhabi.

Yaman memiliki cadangan mineral seng, perak, nikel, emas, tembaga dan kobalt yang sangat besar serta ladang minyak dan gas, sumber daya yang tidak diizinkan oleh penguasa Yaman berturut-turut untuk dieksploitasi, dikembangkan, atau diuangkan sejak 1934.

Yaman saat itu (bisa dibilang masih) dianggap sebagai daerah terpencil Saudi, dan kebijakan Riyadh terhadap tetangga selatannya sepenuhnya didorong oleh pendiri kerajaan, Abdul Aziz Al-Saud, yang menyatakan dalam kutipan terkenal “Kehormatan Saudi terdapat pada penghinaan terhadap Yaman, dan kehinaan mereka (Saudi) ada pada kemuliaan Yaman”.

Kata-kata ini memiliki makna yang monumental: prinsip panduan untuk semua raja Saudi di masa depan adalah menaklukkan Yaman dengan segala cara, atau bayarannya adalah keberadaan (Saudi) itu sendiri.

Gema kemenangan Ansarullah akan terasa di seluruh Asia Barat, paling tidak karena bangsa Yaman masih menganggap provinsi Jizan dan Najran di Saudi sebagai bagian dari Yaman.

Yaman sering disebut sebagai ‘tempat kelahiran orang Arab,’ dengan banyak suku yang membentang di semenanjung Arab hingga Irak memiliki asal-usul dari Yaman.

BACA JUGA:

Di ujung lain jazirah Arab, Ansarullah juga akan menguasai selat Bab al Mandab yang mengarah langsung ke terusan Suez. Ini memberi mereka pengaruh geopolitik dan geoekonomi atas Mesir, yang secara historis adalah ‘ibu’ dunia Arab, dan negara yang juga telah meluncurkan perang gagal melawan Yaman.

Kendali atas akses ke Terusan Suez ditangan Ansarullah akan menjadi mimpi buruk bagi Israel. Tel Aviv dan Zionisme adalah musuh bebuyutan Houthi, dan tidak ada kapal yang menuju Israel akan diizinkan untuk menyeberangi selat ini.

China dan Iran akan menjadi pemenang besar dalam pergolakan geopolitik berikutnya. Iran akan mendapatkan sekutu fanatik pertamanya di Semenanjung Arab, yang memiliki minyak, memproduksi senjatanya sendiri, dan dapat mempertahankan diri tanpa mengorbankan uang, tenaga, atau sumber daya Teheran.

Geografi Yaman juga memiliki kepentingan strategis bagi China: bagian barat dayanya menghadap pantai timur Afrika, dan dengan selat Bab al Mandab, Yaman memiliki lebih dari 10 pelabuhan utama di Samudra Hindia, dan melalui Laut Merah ke Mediterania.

Ini adalah negara Asia Barat yang paling dekat dengan Tanduk Afrika, di mana China memiliki satu-satunya pangkalan militer di luar negeri di Djibouti, dan di mana mereka telah membangun jalan dan jalur kereta api yang menghubungkan ke Ethiopia.

Dengan AS, Inggris, dan negara-negara barat pada umumnya telah mendukung agresi terhadap rakyat Yaman, Ansarullah akan lebih cenderung memilih untuk bersekutu dengan China, Iran, dan negara-negara lain yang tidak mendukung agresi.

Laporan menunjukkan bahwa Arab Saudi menghabiskan lebih dari 300 miliar dolar untuk perangnya di Yaman. Enam tahun kemudian, mereka berada di ambang kekalahan telak, dengan saat ini hanya Ma’rib yang menghalangi jalan itu. Ma’rib adalah kota yang akan segera mendikte istilah-istilah yang mengakhiri perang ini, dan mungkin akhir dari proyeksi kekuatan Saudi seperti yang kita ketahui. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: