Artikel

Islah Bahrawi: Makelar Jual Agama di Pasar Gelap Politik

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Islah Bahrawi dalam akun Instagramnya menjelaskan bagaimana agama diperdagangkan dalam pasar gelap politik. Islah Bahrawi menyarankan kepada kelompok ini “Berhentilah memperdagangkan keluguan umat Islam untuk ditransaksikan dalam pasar gelap politik. Kalian tipu umat untuk meneriakkan nama Tuhan hingga pulang dengan tenggorokan serak, suaranya parau. Di saat para penipu seperti kalian bersulang di hotel mewah dan sibuk menghitung laba”.

Ada banyak “Makelar” elektoral yang memainkan pengumpulan massa untuk tujuan transaksional. Ini ranah yang seksi. Meski kerumunan itu secara umum tak saling mengenal, tapi selalu sibuk mengadakan “Reuni”. Bahkan uniknya lagi, kadang reuni itu terjadi berdekatan; tanggal 2 Desember diadakan reuni, dua bulan kemudian pada 21 Februari reunian lagi. Padahal mereka baru lulus tahun 2017, dari “Universitas Pilkada” fakultas “Ayat dan Mayat”

BACA JUGA:

Barbara Ehrenreich menulis dalam “Dancing in the Streets: A History of Collective Joy”, pengumpulan massa telah lama dipakai oleh para pemain politik untuk menunjukkan kekuatannya. Biasanya mereka menggunakan isu agama dan sosial dalam menyedot energi komunal dengan tujuan untuk mengglorifikasi kekuatannya.

Islah Bahrawi: Makelar Jual Agama di Pasar Gelap Politik

Makelar Politik

Sistem politik berbasis elektoral selalu berupaya untuk menjinakkan pertemuan massal dengan momentum yang mereka ciptakan sendiri. Mengacu kepada antropolog Robin Dunbar, Ehrenreich menyebutkan praktik semacam ini sudah terjadi sejak era Zaman Batu.

Namun Russel Neuman menulis secara lebih kontekstual lagi dalam “The Paradox of Mass Politics”. Menurutnya, pengumpulan massa cenderung memanfaatkan orang-orang dengan pengetahuan politik rendah, memanipulasinya, dan mengerahkannya melalui anjuran kultus-kultus yang paradoksal dengan budaya demokrasi ideal. Kata Neuman, “Kelompok politik yang selalu berusaha menampilkan jumlah massa besar, adalah mereka yang cenderung memiliki elektabilitas rendah dan tidak yakin dengan daya pikat politik yang dimilikinya”.

Di Indonesia ini bukan sesuatu yang aneh. Dalam kerumunan yang diciptakan untuk tujuan politik, jumlah manusia yang hadir tidak pernah spesifik. Seringkali dilebih-lebihkan dan manipulatif.

BACA JUGA:

Dampaknya kemudian, klaim jumlah massa berbanding terbalik dengan perolehan suara. Dalam dua kali Pemilu pada 2014 dan 2019, kelompok “Monaslimin” yang mengaku memiliki massa puluhan juta, ternyata menunjukkan sebaliknya dalam kotak suara.

Tapi politik memang penuh dengan kosmetik. Ada banyak “Makelar” elektoral yang memainkan pengumpulan massa untuk tujuan transaksional. Ini ranah yang seksi. Meski kerumunan itu secara umum tak saling mengenal, tapi selalu sibuk mengadakan “Reuni”. Bahkan uniknya lagi, kadang reuni itu terjadi berdekatan; tanggal 2 Desember diadakan reuni, dua bulan kemudian pada 21 Februari reunian lagi. Padahal mereka baru lulus tahun 2017, dari “Universitas Pilkada” fakultas “Ayat dan Mayat”. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: