Artikel

Pakar: Wahabisme Sumber Doktrin Perpecahan Umat

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Pakar “Wahabisme, Sumber Doktrin Perpecahan Umat”, Dina Yulianti Sulaeman dalam wawancaranya dengan Tehran Times, sebuah media berbahasa Inggris paling terkemuka di Iran mengatakan bahwa Wahabisme “tidak mendorong pemikiran rasionalis”. “Doktrin yang dikemukakan Wahabisme adalah purifikasi dan takfirisme. Doktrin-doktrin seperti itu akan menimbulkan perpecahan dan konflik di antara dunia Muslim,” kata Dina.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini berpendapat bahwa peradaban Islam membutuhkan rasionalitas dan persatuan. “Jadi, bagaimana mungkin ajaran seperti itu menjadi pemimpin dunia Islam?”, dia bertanya.

Pakar: Wahabisme, Sumber Doktrin Perpecahan Umat

Wahabisme Sumber Doktrin Perpecahan Umat

BACA JUGA:

Berikut ini teks wawancaranya:

T: Apa evaluasi Anda tentang beberapa ketegangan sektarian di Asia Barat/Timur Tengah yang disponsori oleh Barat untuk menabur benih perselisihan antara Syiah dan Sunni?

J: Selama sepuluh tahun perang Suriah, Barat, dibantu oleh negara-negara Teluk (Persia), mencoba menciptakan citra bahwa rezim Assad adalah rezim Syiah yang melakukan pembantaian terhadap warga sipil Sunni. Namun, akhirnya terungkap bahwa informasi seperti ini adalah menyimpang dan disinformatif.

Publik kini sadar bahwa pihak yang menyerang pemerintah Suriah dan rakyatnya adalah kelompok takfiri yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan Daesh. Isu sektarian hanya digunakan untuk memobilisasi pejuang dan mencari dukungan dari umat Islam di seluruh dunia.

Sekarang kita melihat beberapa negara Arab mencoba menjalin hubungan kembali dengan Damaskus. Perkembangan ini menunjukkan bahwa Barat [dibantu negara Teluk] telah mengkonstruksi konflik Sunni-Syiah untuk menggulingkan rezim yang tidak mereka inginkan.

T: Apakah menurut Anda Wahabisme memiliki kemampuan yang cukup untuk memimpin dunia Islam? J: Peradaban Islam membutuhkan rasionalitas dan persatuan. Wahabisme, sebaliknya, sangat tekstual dan tidak mendorong pemikiran rasional.

Doktrin yang dikemukakan Wahabisme adalah purifikasi dan takfirisme. Doktrin seperti itu akan menyebabkan perpecahan dan konflik di antara dunia Muslim. Jadi, bagaimana mungkin ajaran seperti itu menjadi pemimpin dunia Islam?.

BACA JUGA:

T: Bagaimana caranya agar negara-negara Muslim dapat menyetujui mekanisme untuk mengkonsolidasikan persatuan Islam?

J: Ada dua syarat yang diperlukan untuk menciptakan persatuan Islam; pertama, perlu kesadaran tentang pentingnya persatuan. Umat ​​Islam harus menyadari bahwa tanpa persatuan, mereka terus terpinggirkan dan dihegemoni oleh kekuatan eksternal. Kedua, perlu dilakukan dialog internal untuk saling memahami dan menyelesaikan isu-isu yang menjadi sumber perpecahan umat Islam.

T: Apakah menurut Anda Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban akan berubah menjadi episentrum baru ekspor terorisme? J

J: Itu tergantung pada kemampuan rezim Taliban untuk memenuhi janjinya kepada masyarakat internasional, termasuk mempromosikan persatuan dan inklusivitas di antara bangsa Afghanistan dan menolak terorisme dan kekerasan atas nama agama.

T: Mengapa negara-negara Muslim berusaha mengabaikan atau meminggirkan satu sama lain sementara negara-negara Eropa berhasil membangun persatuan (Uni Eropa)?

J: Jika kita melihat lebih dekat, Uni Eropa tidak sedemikian bersatu. Pandemi Covid-19 telah membuktikan bahwa negara-negara UE yang kaya bersikap egois dan menolak membantu negara-negara Eropa yang lebih miskin. Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, pernah mengkritik sikap egois ini dengan mengatakan, “Solidaritas Eropa tidak ada… itu adalah dongeng. Satu-satunya negara yang dapat membantu kami dalam situasi sulit ini adalah Republik Rakyat Cina. Untuk yang lainnya, terima kasih atas ‘tidak ada bantuan apapun’.”

Ketika kita berbicara tentang perpecahan dan konflik di dunia Islam, kita perlu mempertimbangkan dua faktor sebagai penyebabnya. Pertama, penyebaran takfirisme, dan kedua, kekuatan Barat yang dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan tangan kaum Muslim sendiri, untuk mengadu domba umat Islam satu sama lain. (ARN)

Sumber: TehranTimes

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: