Arab Saudi

Raja Salman Spekulasi Kematian Hingga Tidak Lagi Berkuasa

Riyadh, ARRAHMAHNEWS.COM Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menerima para pemimpin negara-negara Teluk dan perwakilannya, seolah-olah ia adalah orang yang bertanggung jawab, yang tampak sangat luar biasa.

Bagi para pemimpin negara-negara Teluk, kegagalan Raja Salman untuk menjalankan perannya menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada memberikan tanggung jawab lebih kepada pewaris takhta.

BACA JUGA:

Guardian menulis bahwa ketidakhadiran raja menarik perhatian, sampai-sampai pengamat di Arab Saudi mengatakan bahwa transfer kekuasaan dari ayah ke anak -untuk semua maksud dan tujuan- telah terjadi.

Raja Salman Spekulasi Kematian Hingga Tidak Lagi Berkuasa

Raja Salman Saudi

Surat kabar itu juga menekankan bahwa selama dua puluh bulan terakhir, Raja Salman muncul di depan umum hanya sekali dan masih tinggal di kota Neom untuk menghindri pandemi Covid-19. Satu-satunya kunjungannya adalah ke markas besar pasukan Saudi, pada Agustus 2020 untuk operasi kandung empedu.

 

Sementara pertemuan terakhirnya dengan mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, lima bulan lalu. Kunjungan Emmanuel Macron ke kerajaan hanya ditemui oleh Mohammed bin Salman di Jeddah baru-baru ini.

Menurut Guardian, kunjungan Macron adalah yang pertama dilakukan oleh seorang presiden dari negara-negara Barat, sejak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tiga tahun lalu.

BACA JUGA:

Ini momen yang menentukan bagi sebuah kerajaan yang ingin mendapatkan kembali posisinya di tengah kejatuhan global yang berkepanjangan dari skandal yang tidak biasa.

Mengingat sambutan Raja Salman terhadap presiden Prancis bisa menjadi awal bahwa kerajaan perlu memutuskan isolasinya. Namun, itu momen penting itu tidak terjadi.

“Raja Salman menjadi raja in absentia dan tampaknya hampir tidak melakukan tugasnya. Pangeran Mahkota mengendalikan semua kekuasaan, dan tampaknya tidak terganggu.”

Surat kabar itu menunjukkan bahwa ketidakhadiran raja dari menerima pemimpin dan delegasi menimbulkan pertanyaan mengenai kesehatannya, karena ia juga mencapai usia 86 pada Malam Tahun Baru.

“Ini bukan faktor besar dalam beberapa tahun terakhir, dan sulit untuk mengaitkannya dengan Covid,” surat kabar itu mengutip seorang mantan pejabat intelijen Barat.

Tapi diyakini lebih dari itu, bahwa Mohammed bin Salman menjadi itu sebagai alasan untuk mengusir ayahnya, dan menjalankan roda pemerintaha.”

Surat kabar itu juga mengomentari penampilan terakhir raja pada hari Senin, melalui video, untuk mengumumkan anggaran, dan menjelaskan bahwa ia berbicara dengan sangat lambat. Apakah raja berada dalam semi-pengasingan? Ini menjadi subyek spekulasi di dalam kerajaan dan di sekitar Teluk.

Di sisi lain, Pangeran Mohammed bin Salman mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan melenyapkan pengeran dan lawan politik, mengguncang para pemimpin bisnis dan menekan perbedaan pendapat. (ARN)

Sumber: WatanSerb

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: