Artikel

Andrew Korybko: Kehancuran Reputasi AS di Dunia

Rusia, ARRAHMAHNEWS.COMMeski memudarnya hegemoni unipolar AS atas Eurasia Barat sebagian besar masih aman setidaknya untuk saat ini, itu tidak bisa diabaikan begitu saja di Eurasia Timur, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti yang menimpanya di Asia Barat dan Selatan, dimana Israel dan GCC memupuk hubungan yang semakin strategis dengan Rusia dan China, sementara India menyesuaikan diri dengan sekutu lamanya, Rusia. Proses multipolar ini juga mungkin segera mulai membentuk kembali Asia Tenggara.

Masalah Ukraina

Krisis rudal yang diprovokasi AS di Eropa, yang “belum” memicu Perang Rusia-Ukraina seperti yang diprediksi Washington akan terjadi pada hari Rabu, memiliki konsekuensi luas bagi reputasi Amerika di Asia.

BACA JUGA:

Mitra Indo-Pasifik Amerika harus mengamati dengan cermat bagaimana mereka melarikan diri dari Ukraina di hadapan apa yang dikhawatirkan banyak orang akan menjadi insiden bendera palsu, yang akan dipentaskan untuk memulai permusuhan regional.

Jul 7, 2022

Pertarungan sengit AS Vs Rusia

Intelijen Rusia sebelumnya memperingatkan bahwa (tuduhan operasi bendera palsu) ini dapat berfungsi sebagai dalih untuk menyebarkan senjata serang, termasuk rudal hipersonik ke wilayah tersebut untuk secara bertahap mengikis kemampuan serangan kedua nuklir Rusia.

Alih-alih mendukung Kiev dengan teguh, Washington dan sekutunya justru menarik semua pasukan militer mereka dan sebagian besar diplomat mereka meskipun pejabat Ukraina mengutuknya karena menabur kepanikan yang tidak perlu.

Kegagalan di Afganistan

Muncul kekhawatiran yang sangat nyata tentang kebenaran laporan intelijen yang diterbitkan Amerika dan keandalannya sebagai sekutu setelah evakuasi kacau musim panas lalu dari Afghanistan.

Administrasi Biden dengan percaya diri mengklaim pada saat itu bahwa Kabul tidak akan jatuh ke tangan Taliban selama berbulan-bulan setelah penarikan, namun meleset jauh dari klaimnya, kelompok itu masuk ibukota tanpa perlawanan bahkan saat pasukan internasional masih ada.

BACA JUGA:

Lebih buruk lagi, Amerika meninggalkan sekutu lokalnya dan bahkan beberapa warganya.

Tentara Nasional Afghanistan (ANA) juga tidak mampu mengalahkan pemberontak Taliban yang ditunjuk sebagai teroris, meskipun hampir dua dekade pelatihan dan bantuan militer senilai sekitar 83 miliar dolar mereka peroleh. Semua ini membuat sekutu Indo-Pasifik Amerika waspada apakah mereka dapat mengandalkannya untuk “menahan” China.

Perpecahan “Deep State”

Tak satupun dari mereka memiliki alasan untuk optimis setelah apa yang baru saja terjadi di Ukraina.

Sebagai permulaan, fakta bahwa AS secara tak terduga mengalihkan fokus strategis besarnya dari “menangani” China menjadi “menangani” Rusia, yang diusung oleh faksi anti-Rusia dari birokrasi militer, intelijen, dan diplomatik permanen (“deep state”) satu-level diatas faksi anti-China mereka, menunjukkan bahwa mereka (deep state) tidak mampu “mengatasi” kedua Kekuatan Besar itu secara bersamaan.

Untuk alasan yang sebagian besar terkait dengan kepentingan politik domestik AS sendiri yang terhubung dengan perseteruan ideologis sengit antar faksi “deep state”, Amerika secara tidak sengaja memberi isyarat kepada mitra Indo-Pasifiknya bahwa mereka bukan lagi prioritas seperti yang selama ini mereka kira. Ini, yang pasti mengecewakan banyak dari mereka.

Berita Palsu Lain untuk Memicu Perang

Kedua, AS membuat klaim dramatis tentang rencana operasi bendera palsu Rusia dan bahkan “invasi segera” yang dijadwalkan akan terjadi pada tanggal tertentu, yang keduanya tidak terjadi dan tidak ada bukti yang pernah diajukan untuk mendukung prediksi ini.

BACA JUGA:

Orang-orang yang sinis yang melihat penyebaran ketakutan ini menyerupai jelang Perang Irak 2003 merasa bahwa ini tampaknya adalah kesalahan atau setidaknya kesalahan laporan intelijen dimana publik diminta untuk sekali lagi percaya tanpa bertanya.

Setelah perkiraan intelijen Amerika yang benar-benar salah tentang jatuhnya Kabul, prediksi yang sama salahnya tentang Ukraina tidak bisa tidak memprovokasi skeptisisme ekstrim tentang kebenaran klaim publik mereka, apalagi tujuan mereka.

Semua orang masih ingat bagaimana agen mata-mata AS berbohong kepada dunia untuk berperang dengan Irak.

AUKUS & Sekutu Asia Amerika Lainnya

AS mungkin berpikir bahwa mitra Indo-Pasifiknya akan mencari keamanan regional dari AUKUS (yang dibentuk pada) September. Tetapi ahli strateginya tidak menyadari betapa buruknya pandangan terhadap aliansi Anglo-Saxon yang bercita-cita untuk mendominasi di Asia itu, akan tampak bagi mereka yang benar-benar hidup disana.

Sementara mereka masih menjual senjata kepada yang menginginkannya, seperti jet F-15 senilai 14 miliar dolar ke Indonesia yang baru saja disepakati minggu lalu, negara mereka masih belum membuat komitmen nyata kepada siapapun kecuali negara-negara yang sudah terikat dengan perjanjian seperti itu.

Negara-negara tersebut adalah Australia, Jepang, Republik Korea (ROK), Filipina, dan Thailand. AS juga dengan sangat tegas menyiratkan bahwa mereka akan “mendukung” Taiwan, Provinsi China yang tak setia, jika terlibat konflik dengan daratan.

Model yang Muncul

Bagaimanapun, masalah Ukraina menimbulkan pertanyaan serius tentang apa yang mungkin disiapkan AS untuk Indo-Pasifik.

Dari apa yang baru saja dilakukan AS di Eropa Tengah & Timur (CEE), sepertinya model yang muncul adalah mengobarkan apa yang secara akurat digambarkan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebagai “terorisme informasi” untuk meningkatkan ketakutan tentang konflik regional, dimana di Asia, kasus (yang dibuat AS)  adalah untuk menakut-nakuti tentang apa yang disebut “agresi China”.

BACA JUGA:

Penting untuk menunjukkan bahwa AS terus melakukan hal yang sama soal Rusia meskipun pemerintah Ukraina sendiri secara terbuka mengatakan kepada Amerika untuk berhenti memicu kepanikan. Karena  konsekuensinya telah menghancurkan ekonomi dan kepercayaan investornya. Amerika dengan arogan menentang permintaan itu, karena mereka melakukan semua ini untuk alasannya sendiri.

Mengipasi Bara Api Perang

Melanjutkan prakiraan skenario, preseden ini menunjukkan bahwa AS kemudian akan mulai mengirim sejumlah besar senjata ke negara mana pun yang diklaimnya mungkin menjadi “korban” dari “agresi China”, yang bisa jadi Jepang, Filipina, dan Vietnam, karena mereka memiliki sengketa laut dengan Republik Rakyat Taiwan (yang bahkan bukan sebuah negara).

AS, bersama sekutu AUKUS dan NATO juga mungkin akan mengirim penasihat dan pelatih ke sana. Karena wilayah ini dikenal dengan lautnya, pengamat juga memperkirakan pengiriman beberapa kapal perang. Hasil akhirnya adalah bahwa AS akan memanipulasi persepsi untuk membuatnya tampak seperti mencoba “mencegah” China melakukan “serangan”.

Hirarki Proksi Regional AS

Jika Republik Rakyat China secara defensif bersiap untuk perang dalam menghadapi keadaan agresi yang tidak beralasan sebagaimana akan dilakukan oleh negara yang memiliki harga diri, maka negara-negara seperti Taiwan dan Vietnam yang bukan sekutu AS, akan menemukan diri mereka ditinggalkan dalam kesulitan begitu saja, persis seperti Ukraina.

Itu karena AS kemungkinan akan menarik militernya dan sebagian besar diplomatnya (yang informal dalam kasus Taiwan) begitu semuanya mendekati klimaks yang telah direncanakan, sebelum apa yang mungkin menjadi kekhawatiran akibat provokasi Amerika untuk mengatur konflik yang direncanakan menjadi mosi.

Ini sementara sekutu lama, seperti Jepang dan Filipina akan dapat mengandalkan jaminan keamanan AS, yang menjadikan mereka sebagai proxy Amerika yang paling disukai.

Ancaman Militer Jepang

Dalam perkembangan yang mengkhawatirkan yang dapat ditafsirkan sebagai persiapan untuk perannya dalam skenario yang berpotensi apokaliptik ini, Menteri Pertahanan Jepang baru saja berargumen bahwa negaranya harus memiliki hak untuk meluncurkan serangan udara pendahuluan terhadap pasukan asing atas nama “pertahanan diri”.

Meskipun komentar ini dan komentar sebelumnya dari Perdana Menteri baru Jepang tentang menyerang pangkalan musuh dianggap oleh sebagian besar pengamat sebagai mengacu pada Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), setiap implementasi proposal ini ke dalam kebijakan dengan dalih seperti itu dapat dengan mudah mengarah untuk mereka gunakan melawan China.

Itu tidak berarti bahwa Jepang akan meluncurkan serangan pendahuluan terhadap tetangganya atas sengketa pulau mereka di Laut China Timur, tetapi jelas bahwa itu bisa menjadi ancaman dalam krisis yang diprovokasi AS.

Tekanan Sanksi

Elemen lain dari masalah Ukraina yang harus diingat adalah seberapa aktif AS bekerja untuk menekan sekutu regionalnya agar menyetujui apa yang disebut sanksi “belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Rusia jika Moskow terpaksa mempertahankan garis merah keamanan nasionalnya secara militer dalam menghadapi agresi Washington, baik secara langsung atau melalui proxynya.

Perang yang sama seperti itu bisa terjadi juga di Asia. Ini meskipun akan menjadi tantangan tersendiri  bagi AS untuk memastikan dukungan sekutu Asianya melawan China, lebih sulit  daripada saat mereka meyakinkan sekutu Eropanya melawan Rusia. Ini terutama karena China adalah mitra dagang utama di Asia, dimana ini bukan peran yang dimiliki Rusia untuk Eropa kecuali dalam hal energi.

Jaringan Indo-Pasifik

Strategi Indo-Pasifik terbaru AS menunjukkan bahwa mereka akan memprioritaskan aliansi dan hubungan perdagangan dalam upaya untuk menciptakan jaringan regional alternatif yang berada di luar “pengaruh” China, atau dengan kata lain, yang didominasi oleh Amerika. Dan memastikan bahwa aliansi ini dapat bertahan tanpa batas waktu memudarnya hegemoni unipolar di Asia.

Rencana ambisius ini akan memakan waktu cukup lama untuk direalisasikan dan saat ini tidak berlaku dengan cara yang berarti, yang mengisyaratkan bahwa potensi replikasi skenario CEE ke Indo-Pasifik mungkin tidak akan terjadi sampai beberapa dekade ke depan, atau mungkin tidak akan terjadi sama sekali.

 Ada juga kemungkinan bahwa AS secara prematur akan memprovokasi krisis serupa di wilayah ini seperti yang baru saja dimulainya terhadap Rusia dengan tujuan mempercepat dan kemudian menggembleng rencana jaringan regionalnya, tetapi ini akan berisiko, dan dilakukan dengan putus asa.

Kebingungan & Tidak Dapat Diandalkan

Mitra Indo-Pasifik AS, dengan kemungkinan pengecualian Jepang dan mungkin juga Filipina, tidak dapat mengandalkannya lagi setelah apa yang terjadi Agustus lalu di Afghanistan dan baru-baru ini di Ukraina.

Amerika sekarang memiliki rekam jejak yang terdokumentasi dalam meninggalkan dua sekutu utamanya  dalam rentang waktu sekitar setengah tahun, menyerahkan Afghanistan kepada Taliban dan Ukraina di bawah belas kasihan Rusia.

Untuk lebih jelasnya, AS memang berharap untuk memprovokasi “invasi Rusia ke Ukraina” tetapi secara misterius mundur dari jurang itu pada menit terakhir untuk alasan yang masih belum jelas tetapi mungkin ada hubungannya dengan ketakutannya bahwa Rusia akan menjadi tergantung pada China setelah itu, dan tidak mendapat dukungan sanksi penuh dari Uni Eropa. Apapun alasannya, yang terlihat  adalah bahwa Amerika bingung dan tidak dapat diandalkan.

Masalah  Asia Barat

“Deep state” masih sangat terpecah antara faksi anti-China dan anti-Rusia, yang terus bersaing satu sama lain untuk pengaruh dominan atas arah strategi besar negara mereka, terutama sehubungan dengan Kekuatan Besar mana yang harus mereka prioritaskan untuk diatasi.

Karena tidak dapat mengambil keputusan dan berpegang teguh pada hal itu, AS terombang-ambing di antara keduanya dengan mengorbankan reputasinya di setiap belahan Eurasia. Sementara itu, mereka  terus melepaskan diri secara bertahap dari Asia Barat di tengah pembicaraan nuklir dengan Iran, yang mengilhami sekutu lamanya Israel dan GCC untuk secara pragmatis mendiversifikasi kemitraan strategis mereka dari ketergantungan mereka yang sekarang tidak proporsional pada AS, menjadi hubungan yang lebih seimbang dengan Rusia dan China. Hubungan ini telah meningkat secara komprehensif dalam beberapa tahun terakhir.

Gerakan Non-Blok Baru

Masalah Asia Barat menunjukkan bagaimana negara-negara Indo-Pasifik mungkin bereaksi terhadap kesimpulan yang muncul dari sekutu Amerika mereka yang bingung dan tidak dapat diandalkan untuk masa mendatang karena perpecahan “deep state” yang tampaknya tidak dapat didamaikan.

Negara-negara Indo-Pasifik tersebut sebagian besar secara komparatif lebih mandiri daripada rekan-rekan mereka di Eropa dan dengan demikian memiliki lebih banyak fleksibilitas pembuatan kebijakan untuk meniru rekan-rekan Asia Barat mereka dengan memupuk hubungan pragmatis dengan Rusia dan China dalam menghadapi kekecewaan mereka terhadap AS.

India dengan bangga telah menegaskan kembali kemitraan strategis khusus dan istimewanya dengan sekutu Rusia setelah kunjungan perubahan permainan Presiden Vladimir Putin di sana Desember lalu, dan rencana GNB informal mereka dapat menginspirasi negara lain untuk mengikuti.

Bi-Multipolar

Ini mengacu pada keinginan mereka yang tidak tersurat untuk bersama-sama membentuk Gerakan Non-Blok baru guna menciptakan kutub pengaruh ketiga dalam tatanan dunia yang semakin bi-multipolar yang sebagian besar dibentuk oleh persaingan antara negara adidaya Amerika dan China serta multi-blok reguler dari banyak Kekuatan Besar di bawah  mereka.

Oleh karena itu, AS tidak boleh lupa bahwa ada dua alternatif untuk kawasan ini menghadapi hegemoni unipolarnya yang memudar, dan ini adalah GNB baru (Rusia-India), dan tentu saja Inisiatif Sabuk & Jalan China (BRI) yang bertujuan untuk membentuk sebuah komunitas dari masyarakat yang senasib.

Setiap kesalahan langkah strategis besar yang serius di Indo-Pasifik seperti mencoba meniru masalah Ukraina di kawasan itu, dapat menyebabkan keduanya pada akhirnya menggantikan rencana AS.

KESIMPULAN

Itulah mengapa semua yang baru saja terjadi di CEE sangat penting bagi Indo-Pasifik karena yang semua itu mungkin akan menjadi gambaran sekilas tentang apa yang akan terjadi di Indo-Pasifik.

Perbedaan utama, bagaimanapun, adalah bahwa Eropa tidak terlalu relevan sebagai teater untuk interaksi antara GNB Baru dan BRI, sedangkan Asia adalah tempat yang tepat untuk itu.

Ini berarti bahwa sementara memudarnya hegemoni unipolar AS atas Eurasia Barat sebagian besar tetap terjamin setidaknya untuk saat ini, itu tidak boleh diabaikan begitu saja di Eurasia Timur, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti yang menimpanya di Asia Barat dan Selatan, dimana Israel dan GCC memupuk hubungan yang semakin strategis dengan Rusia dan China, sementara India menyesuaikan diri dengan sekutu lamanya, Rusia. Proses multipolar ini juga mungkin segera mulai membentuk kembali Asia Tenggara. (ARN)

Penulis: Andrew Korybko adalah seorang analis politik, jurnalis dan kontributor tetap untuk beberapa jurnal online, serta anggota dewan ahli untuk Institut Studi Strategis dan Prediksi di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia. Ia telah menerbitkan berbagai karya di bidang Perang Hibrida, termasuk “Perang Hibrida: Pendekatan Adaptif Tidak Langsung untuk Perubahan Rezim” dan “Hukum Perang Hibrida: Belahan Bumi Timur”. Sumber OneWorld

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: