Ekonom: Venezuela akan Alami Keajaiban Ekonomi Ditengah Badai Sanksi

Venezuela, ARRAHMAHNEWS.COM Ekonomi Venezuela siap untuk tumbuh sebanyak 20 persen pada tahun 2022. Menurut ekonom Credit Suisse, Alberto Rojas, Ini terjadi karena lonjakan produksi minyak mentah memicu rebound yang mencolok untuk PDB negara, yang sebelumnya mengalami penurunan dramatis dikarenakan sanksi AS.

“Ini bukan salah ketik! Jika kami akurat, ini mungkin akan menjadi salah satu pertumbuhan terkuat secara global yang pernah tercatat untuk tahun-tahun ini,” tulis Rojas dalam catatan penelitian yang dilihat oleh BloombergQuint.

BACA JUGA:

“Namun, kami ingin memperjelas, angka pertumbuhan yang tinggi seharusnya memang tidak mengejutkan setelah ekonomi Venezuela mencapai titik terendah pada tahun 2020,” bunyi catatan yang diterbitkan pada hari Rabu itu, lebih lanjut.

Ekonom: Venezuela akan Alami Keajaiban Ekonomi Ditengah Badai Sanksi
Mural

Analis tersebut menambahkan bahwa pengumpulan pajak dalam dolar pada tahun 2022 dapat melihat pertumbuhan yang sangat besar lebih dari 40%, sementara impor negara itu dapat meningkat lebih dari 15%.

Sementara itu, Venezuela dilaporkan akan mencatat surplus transaksi berjalan sekitar 4 miliar dolar. Negara ini berhasil menurunkan perkiraan inflasi headline tahunan akhir tahun menjadi 70%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 150%.

Perekonomian Republik Bolivarian itu telah berada di bawah tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir, dengan situasi yang sangat memburuk setelah AS menjatuhkan sanksi pada negara tersebut pada tahun 2019. Hukuman saat ini menempatkan Venezuela di tempat kelima dalam peringkat global negara-negara yang paling terkena sanksi.

Pada saat itu, AS dan sekutunya mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden sah negara itu, menyusul tuduhan kecurangan pemilu.

Washington kemudian memerintahkan pembekuan semua aset pemerintah Venezuela di AS, dan melarang transaksi dengan warga dan perusahaan AS. Inggris bergabung dengan membekukan cadangan emas negara yang disimpan di Bank of England.

Negara ini telah menderita hiperinflasi, yang dilaporkan mencapai 3.000% pada tahun 2020. Menurut Credit Suisse, krisis terkait Ukraina dapat memicu “komposisi ulang” dalam pasokan minyak mentah global, mendukung langkah-langkah untuk menemukan resolusi bagi Krisis Venezuela, dengan Nicolas Maduro diperkirakan akan “menemukan titik temu” dengan Washington. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: