Islah Bahrawi: Penganiayaan Ade Armando Efek Politisasi Agama

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMIslah Bahrawi dalam akun Instagramnya menanggapi soal persekusi terhadap Ade Armando, pada intinya, penganiayaan terhadap Ade Armando adalah gambaran sederhana dari kebencian yang dibangun melalui politisasi agama sejak lama. Mulai dari Pemilu 2014, Pilkada DKI 2017 hingga Pemilu 2019, para pengeroyok ini adalah produk akhir dari penunggangan politik atas agama yang berujung kepada aksi-aksi kejahatan.

Kesimpulan di atas tergambar dari para pelaku yang telah ditangkap. Mereka berasal dari kelompok-kelompok yang dalam setiap kontestasi politik seringkali menjadi mesin penggerak politisasi agama. Mereka adalah “ampas-ampas Pilpres” yang kebenciannya masih dijaga selama bertahun-tahun, sehingga mereka hanya menyalurkan orientasi politiknya kepada figur-figur dengan resiliensi tujuan yang sama; melawan sang pemenang Pemilu!!.

BACA JUGA:

Percayalah, politisi dan partai politik yang membajak kesalehan dan menggunakan jubah-jubah agama pada dasarnya adalah para penipu yang memanfaatkan dogma ketuhanan. Agama diturunkan oleh Tuhan ke Bumi bukan untuk tujuan politik, apalagi memecah belah manusia dengan alasan politik. Agama dan Tuhan tidak sekerdil ambisi-ambisi kekuasaan manusia dengan segala keculasan dan kejahatannya.

Islah Bahrawi: Penganiayaan Ade Armando Efek Politisasi Agama
Penganiayaan Ade Armando

Menurut Islah Bahrawi, berpolitik silakan saja, tapi jangan pernah menjual nama Tuhan beserta ayat-ayat ke dalam bilik suara. Mengapa? Karena semua orang punya keyakinan dan keimanan yang berbeda, jangan jadikan Tuhan sebagai sumber peperangan demi membela “manusia-manusia kerdil” yang jika berkuasa tidak akan sesuci yang dibayangkan. Mereka bisa korupsi atau mengkhianati rakyatnya dengan kejahatan-kejahatan kekuasaannya.

 

BACA JUGA:

Politisasi agama dan termasuk jargon-jargon Khilafah itu, hanyalah akal bulus manusia untuk menguasai manusia lainnya. Mereka menggunakan nama Tuhan serta agama yang dogmatis sebagai alat hipnotisnya. Merekalah manusia-manusia yang secara artifisial selalu tampil suci, namun pada dasarnya adalah para penipu.

Mereka adalah orang-orang yang gagal mengalahkan dirinya sendiri, sehingga yang selalu dipikirkan hanyalah keculasan untuk mengalahkan orang lain. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: