AS Gugat Kasus Kematian KM50, Siapa Sebenarnya FPI?

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMIslah Bahrawi dalam akun Facebooknya menjelaskan soal sepak terjang Amerika dan NATO sejak lahir ditakdirkan untuk ikut campur urusan politik negara-negara yang dianggap lebih lemah. Tetapi Amerika tidak selalu menjadi Amerika.

Dua tahun pandemi membuatnya tertatih-tatih dan bahkan berpikir sekian kali untuk “head to head” dengan Rusia dalam konflik Ukraina. Terlebih lagi ada China yang mengintip di balik tirai bambu jika Amerika dan NATO melibatkan diri dalam perang.

BACA JUGA:

Pada sisi lain, Amerika memperlakukan Indonesia seperti “bola putih” dalam billiard. Dia pernah sukses merobohkan Sukarno tanpa sebutir peluru dan merobohkan Soeharto dengan operasi intelijen berliku. Indonesia bahkan pernah dijadikan inspirator oleh Amerika dalam Pinochet’s Jakarta Operation.

AS Gugat Kasus Kematian KM50, Siapa Sebenarnya FPI?
Amerika menggugat KM 50

Hari ini Jokowi punya sinyalemen dalam konferensi G20 bahwa Rusia akan dihadirkan. Amerika tidak terima dan menolak dengan situasi keterbatasan dan ketidakmampuannya. Ekstrim kanan lalu dijadikan mainan; KM50 dan pembubaran FPI dipakai sebagai alat tekan.

Pertanyaannya, apa dan siapa FPI sebenarnya?

FPI ditakdirkan sebagai figuran politik dan alat bentur kepentingan regional dan internasional. Gaya gagahnya sengaja dilekatkan dengan agama agar bisa menghipnotis “middle-down class” – klaster sosial yang mudah dihasut untuk dikerahkan dan dibenturkan.

Mereka sejak awal dijadikan mainan politik dengan “baterai alkalin” yang ditransaksikan. Mulai dari tempat hiburan malam di kawasan Pecenongan hingga utak-atik politik dari Washington, bisa saja menggunakan “gangster” ini untuk menekan Indonesia dalam urusan apapun.

BACA JUGA:

Seperti halnya organisasi ekstrim lain di belahan dunia manapun, FPI adalah bandul kepentingan. Ia bisa saja terkoneksi kepada jaringan teroris internasional atau sekedar sweeping warung Tegal. Anehnya, FPI sebagai pengusung Khilafah yang ingin menjadikan hukum Syariah sebagai hukum negara, kali ini justeru Amerika yang membelanya.

Kesan ambigu yang tidak juga aneh sebenarnya, karena sejak dari kantung rahim, FPI memang ditakdirkan tanpa jenis kelamin. “Bapak kandungnya” pun banyak, bisa lokal bisa impor. Sertifikat kelahirannya sejak dulu dipegang banyak orang. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: