IHSG Hari Ini Berakhir Menderita Pasca Seharian ‘Berdarah-darah’

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMIndeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini hancur berkeping-keping. Hingga perdagangan ditutup, IHSG terpuruk dengan anjlok lebih dari 4%.

IHSG sudah turun ke zona merah sejak pagi tadi. IHSG turun 73 poin atau 1,02% ke level 7.154 pada pra perdagangan. Sementara indeks LQ45 turun 18 poin atau 1,67% ke level 1.067.

BACA JUGA:

IHSG dibuka merah dengan turun 81 poin atau 1% ke level 7.147. Ini merupakan perdagangan IHSG pertama kali setelah libur Lebaran 2022.

IHSG Hari Ini Berakhir Menderita Pasca Seharian 'Berdarah-darah'
IHSG

Hingga jeda siang ini, IHSG turun 280 poin atau 3,88% ke level 6.948. Indeks LQ45 juga turun 51 poin atau 4,79% ke level 1.033. IHSG bergerak di level 6.896 hingga 7.156.

IHSG terus melanjutkan pelemahan saat sesi kedua perdagangan berlanjut. Pada pukul 13.51, IHSG turun 316 poin atau 4,38% ke level 6.912. Indeks LQ45 juga ikut turun 58 poin atau 5,42% ke level 1.026.

Hingga perdagangan ditutup, IHSG turun 319 poin atau 4,42% ke level 6.909. Indeks LQ45 juga ikut turun 59 poin atau 5,4% ke level 1.025.

Di sisi lain, berdasarkan riset Artha Sekuritas IHSG hari ini harusnya diprediksi menguat. Secara teknikal candlestick membentuk higher dan higher low didukung optimisme investor yang akan kembali masuk setelah libur Panjang. Namun pergerakan akan terbatas dikarenakan adanya tekanan dari bursa saham global yang melemah dipicu ancaman akan inflasi yang lebih buruk.

BACA JUGA:

Sementara IHSG hari ini dibuka melemah, Bursa Amerika Serikat ditutup Melemah. Dow Jones ditutup 32,997.97 (-0.73%), NASDAQ ditutup 12,317.69 (-1.39%), S&P 500 ditutup 4,123.34 (-1.24%).

Wall Street kompak memerah pada akhir perdagangan Jumat dipicu kekhawatiran investor bahwa The Fed kemungkinan tidak bisa menahan inflasi di tahun-tahun mendatang, dan data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang solid namun ada perlambatan pertumbuhan upah pada April.

The Fed berharap untuk memperlambat inflasi dengan pengetatan kebijakan moneter. Volatilitas pasar telah meningkat di tengah kekhawatiran terlalu banyak pengetatan dapat menyebabkan resesi. (ARN)

Sumber: Detik

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: