Artikel

Transisi Kekuatan Global, Kebangkitan Selatan Vs Kekuatan Barat

Rusia, ARRAHMAHNEWS.COMSalah satu tren paling populer di Perang Dingin Baru adalah percabangan dunia menjadi Golden Billion (istilah yang mengacu pada orang-orang yang relatif kaya di negara-negara industri maju, atau Barat) dan  Global South (istilah untuk mengidentifikasikan negara-negara pada satu sisi dari kesenjangan Utara-Selatan), yang oleh Presiden Putin dianggap sebagai koloni dan negara berdaulat.

Juru bicara Duma Rusia, Volodin, juga memperhatikan hal ini, yang ia uraikan dalam postingan Telegram baru-baru ini yang menarik perhatian para pembacanya.

BACA JUGA:

Menurutnya, “Kelompok delapan negara (the Big Eight) yang tidak berpartisipasi dalam perang sanksi yaitu China, India, Rusia, Indonesia, Brasil, Meksiko, Iran, Turki, dalam hal PDB (Produk Domestik Bruto) pada PPP adalah 24,4% di depan G7, yang ekonominya terus retak di bawah beban sanksi yang mereka jatuhkan terhadap Rusia”.

Jul 7, 2022

Peta dunia

Ia menyimpulkan bahwa “Amerika Serikat menciptakan kondisi ini dengan tangannya sendiri bagi negara-negara yang ingin membangun dialog setara dan hubungan saling menguntungkan untuk benar-benar membentuk ‘Delapan Besar baru’ bersama dengan Rusia”.

Ini merupakan bagian dari kesatuan untuk memahami bagaimana pesatnya perubahan sistem global menuju multipolaritas, sebagai akibat dari operasi militer khusus Rusia di Ukraina dan sanksi Barat atas Rusia  yang sepenuhnya kontraproduktif sebagai tanggapan atas operasi tersebut.

Alih-alih secara komprehensif menegaskan kembali hegemoni unipolar AS yang menurun, langkah yang diambil Golden Billion ini telah secara komprehensif memfasilitasi kebangkitan Dunia Selatan yang menantang kekuatan, yang dimaksudkan, untuk mengendalikan sistem dunia.

AS ingin mempertahankan sebanyak mungkin hegemoninya, sementara Dunia Selatan secara aktif bekerja untuk mereformasi diri mereka  secara bertahap sehingga semuanya lebih adil, setara, dan stabil.

BACA JUGA:

Secara objektif, angka Volodin benar: The Big Eight (Delapan Besar) memang mengungguli G7 dengan selisih yang besar. Dari fakta ini, pengamat dapat memperkirakan transisi sistemik global menjadi lebih cepat, karena para pemimpin multipolar bekerja lebih erat untuk membangun model globalisasi non-Barat yang menghentikan perampasan sumber daya Global South oleh Golden Billion.

Hal ini pada gilirannya akan mempercepat runtuhnya Barat yang dipimpin AS, meskipun juga diprediksi bahwa Amerika tidak akan membiarkan proses ini berlangsung secara damai.

Sebaliknya, AS pasti akan memerintahkan koloni neo-imperialnya untuk mengirim pasukan mereka melintasi Dunia Selatan (dan terutama Afrika (Barat)) sebagai bagian dari perang proksi yang diperkirakan akan diprovokasi oleh AS di sana dalam upaya putus asa untuk mempertahankan akses istimewanya ke sumber daya negara-negara tersebut. Hal ini dapat menyebabkan negara-negara seperti Ethiopia, Mali, dan bahkan Nigeria menjadi medan pertempuran era Perang Dingin Baru.

Selain itu, bisa diperkirakan bahwa “kudeta hukum” seperti yang terjadi di Pakistan terhadap mantan Perdana Menteri Khan sebagai hukuman atas kebijakan luar negerinya yang independen, akan lebih banyak terjadi, dan menjadi ancaman tersendiri bagi the Big Eight (Delapan Besar).

BACA JUGA:

AS yang ingin merebut negara-negara penting itu dari blok multipolar yang dengan cepat berkoalisi, tidak akan berhenti mereplikasi “Preseden Pakistan” terhadap negara-negara itu dengan cara yang disesuaikan dengan masing-masing keadaan domestik mereka yang unik.

China, India, dan Iran lebih kebal terhadap skenario ini daripada Brasil, Indonesia, Meksiko, dan Turki, tetapi mereka semua dalam satu atau lain cara rentan terhadap kampanye destabilisasi Amerika.

Meskipun itu juga tidak secara otomatis berarti bahwa upaya semacam itu pasti akan berhasil. Semakin komprehensif bekerja sama dalam Delapan Besar, semakin besar kemungkinan mereka akan menggagalkan setiap skema perubahan rezim. (ARN)

Penulis: Andrew Korybko adalah seorang analis politik, jurnalis dan kontributor tetap untuk beberapa jurnal online, serta anggota dewan ahli untuk Institut Studi Strategis dan Prediksi di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia. Ia telah menerbitkan berbagai karya di bidang Perang Hibrida, termasuk “Perang Hibrida: Pendekatan Adaptif Tidak Langsung untuk Perubahan Rezim” dan “Hukum Perang Hibrida: Belahan Bumi Timur”. Sumber OneWorld

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: