arrahmahnews

Hamas Kecam Rencana Pembentukan NATO Timur Tengah

Palestina, ARRAHMAHNEWS.COM Kepala biro politik gerakan perlawanan Palestina Hamas mengecam rencana pembentukan aliansi negara-negara Timur Tengah pimpinanan AS (NATO Timur-Tengah). Haniyeh menyebutnya “sangat berbahaya”, menekankan bahwa perlawanan penuh adalah satu-satunya pilihan strategis untuk melawan rezim pendudukan Israel.

Berbicara pada Konferensi Islam Nasional yang diadakan di ibukota Libanon, Beirut, pada hari Sabtu (25/06), Ismail Haniyeh mengatakan ada rencana yang sedang berlangsung untuk mengatur ulang kawasan agar sesuai dengan agenda Amerika-Israel. Haniyeh memperingatkan bahwa plot semacam itu menguntungkan musuh Zionis dengan mengintegrasikannya ke dalam kawasan untuk menghadapi front perlawanan.

BACA JUGA:

“Apa yang disaksikan kawasan sangat berbahaya. Entitas ‘Israel’ sedang diintegrasikan ke dalam kawasan melalui aliansi militer untuk melawan Iran, Hizbullah dan Hamas,” kata Haniyeh pada konferensi yang diadakan untuk membahas upaya rezim Israel memperluas pengaruhnya di kawasan melalui normalisasi hubungan dan dampak negatifnya terhadap masalah Palestina.

Hamas Kecam Rencana Pembentukan NATO Timur Tengah

Ismail Haniyeh

Haniyeh lebih lanjut menyerukan untuk mendukung perlawanan sebagai pilihan strategis di Palestina dan kawasan, dan untuk memulihkan persatuan di antara negara-negara regional.

Pernyataan Haniyeh disampaikan setelah menteri urusan militer Israel mengusulkan pembentukan front militer regional pimpinan AS, yang menampilkan Tel Aviv dan sekutu Arabnya, melawan Iran.

Berbicara pada hari Selasa, Benny Gantz mengutip kerjasama militer rezim Israel dengan beberapa negara Arab Teluk Persia serta Mesir dan Yordania, mengatakan ada upaya untuk memperluas kerja sama ini.

Kesepakatan normalisasi yang dimediasi AS berlangsung antara rezim pendudukan dan Uni Emirat Arab dan Bahrain pada Agustus 2020. Sudan dan Maroko mengikutinya dengan bergabung dalam apa yang disebut Kesepakatan Abraham.

BACA JUGA:

Arab Saudi telah mendukung perjanjian tersebut, dan secara luas diperkirakan menjadi negara Arab regional berikutnya yang akan menjalin hubungan resmi dengan rezim pendudukan.

Pernyataan Gantz disampaikan menjelang kunjungan regional oleh Presiden AS Joe Biden. Tur 13-16 Juli akan membawa Biden ke Arab Saudi dan wilayah Palestina yang diduduki.

Kunjungan tersebut direncanakan untuk membawa lebih banyak gravitasi di antara negara-negara Arab regional dan rezim Israel.

Sebelumnya Wakil Sekjen Hizbullah dalam kesempatan yang sama juga mengecam rencana pembentukan Aliansi tersebut. Ia menggambarkan ancaman AS terhadap front perlawanan sebagai retorika belaka, mengatakan

“Adalah konyol bagi Amerika Serikat untuk menyatakan “NATO [versi] Timur Tengah” yang mencakup negara-negara Arab, yang kendalinya ada di tangan rezim Israel,” tegasnya, menambahkah, “Aliansi ini akan mempermalukan mereka”. (ARN)

Sumber: Press TV

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: