Afrika

Pembukaan Media Israel di Maroko, Picu Kemarahan Rakyat

Maroko, ARRAHMAHNEWS.COM – Langkah pemerintah Maroko untuk memfasilitasi pembukaan saluran yang berbasis di Israel dilaporkan telah menyebabkan reaksi luas di kalangan jurnalis media di seluruh negara Afrika tersebut. Langkah ini dipandang sebagai langkah baru menuju normalisasi hubungan dengan rezim pendudukan.

Saluran berita internasional i24NEWS meluncurkan operasi di Maroko pada 30 Mei dan menjadi perusahaan media Israel pertama yang beroperasi di negara itu, dengan CEO saluran tersebut Frank Melloul kemudian mengumumkan pembukaan dua biro di kota Rabat dan Casablanca.

Upacara peluncuran diadakan di situs arkeologi Chellah, salah satu tempat paling ikonik di ibu kota Maroko, mempertemukan tokoh-tokoh masyarakat dari Israel dan Maroko.

Menurut dua sumber Maroko, yang berbicara kepada Middle East Eye dengan syarat anonym, pembukaan i24 difasilitasi sebagian besar berkat dukungan menteri kebudayaan Maroko, yang juga membantu saluran tersebut menyewa situs Chellah untuk merayakan peluncurannya.

Langkah itu memicu kemarahan yang meluas di kalangan pekerja media Maroko yang melihatnya sebagai langkah lain menuju normalisasi hubungan antara entitas ilegal dan Maroko. Bagian dari upaya yang lebih luas untuk pemulihan hubungan antara Israel dan negara-negara Arab sejak 2020.

BACA JUGA:

Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan secara luas di jejaring sosial, 80 jurnalis Maroko mengatakan mereka mengikuti “dengan sangat prihatin jalan normalisasi berbahaya yang ditempuh oleh Negara Maroko, sejak Desember 2020, melalui beberapa perjanjian dan keputusan yang memungkinkan lembaga-lembaga pendudukan Zionis menodai negara.

Kedua sumber tersebut juga mengatakan kepada MEE bahwa setelah berhasil membentuk tim administrasi dan editorial, para manajer i24News mencari kemitraan dengan saluran-saluran swasta dan milik negara Maroko.

Menurut sumber, diskusi sedang berlangsung dengan beberapa mitra potensial tentang topik yang menarik bagi media Israel di Maroko, termasuk diplomasi, geostrategi, sejarah dan budaya.

Model tersebut dikatakan telah diuji di Uni Emirat Arab, di mana saluran Israel telah menjalin kemitraan dengan dua kelompok milik negara Abu Dhabi Media dan Dubai Media sebelum memperluas kolaborasinya dengan media swasta. (ARN)

Sumber: MEE

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: